Disukai
0
Dilihat
8
Aku Sendiri Saja
Drama
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Setelah Mas Zaki meninggal, aku merasa lega. Kepalaku terasa ringan, seolah dinding yang menghimpitku selama ini runtuh. Sungguh perasaan yang aneh untuk seorang istri yang baru saja kehilangan suaminya.

Ini sudah hari ketujuh setelah kematiannya. Namun, sejak hari pertama pun tak setitik air mataku jatuh untuknya. Aku tidak senang, tidak juga sedih. Hampa, kosong, tetapi ringan.

Beberapa tetangga berbisik-bisik mengenai aku yang tak menangisi kematian suamiku. Kebanyakan istri akan meraung-raung ketika ditinggal pergi suami selamanya. Namun, aku? Diam seperti batu, seperti tak punya perasaan, katanya.

Aku pun tak tahu. Mungkin saja air mataku telah habis menangisi perlakuannya padaku selama ini, hingga tak tersisa untuk mengantarkan kepergiannya. Mungkin, aku terlihat jahat di mata orang-orang. Namun, apakah air mata bisa dijadikan ukuran untuk menilai hati seseorang?

"Aku kalau jadi Nina, nggak berhenti-berhenti aku nangis. Suami baik, mapan, nggak patriarki gitu kok, nggak sayang, ya?" kata seseorang yang membantuku memasak di dapur.

"Kita yang cuma tetangga aja sedikit banyak merasa kehilangan orang sebaik Zaki,” sahut seorang ibu-ibu. 

"Si Nina nggak bersyukur, makanya suaminya diambil Tuhan,” tambah ibu-ibu yang  lain. 

Aku menghentikan langkah di balik pintu mendengar bisik-bisik itu. Aku tersenyum getir, ketenangan Mas Zaki yang mereka lihat selama ini ada karena aku tak pernah membuka suara tentang bagaimana ia membuat hari-hariku terasa berat. Mulut manisnya yang sering mereka dengar akan berubah menjadi lidah paling berbisa jika di depanku.

"Bunda ... mau susu lagi," suara putriku, Kina, mengejutkanku. Aku melihat ke bawah. Gadis kecil itu sedang menatapku.

"Iya, sayang. Nanti Bunda buatin," kataku lembut, lalu menggandeng tangannya menuju kamar.

Kina, putriku, tidak mengerti apa-apa tentang keramaian di rumah ini yang telah berlangsung beberapa hari. Ia mungkin hanya tahu bahwa ada banyak orang dan banyak makanan.

Namun, sesekali ia bertanya, di mana ayahnya? Ayah yang kerap menemani dan memanjakannya? Aku pun tak tahu cara menjelaskannya.

"Bunda, kata Ayah, nanti kita ke pantai," kata Kina sambil mengunyah bolu. Mata bulatnya menatapku sekilas. 

Aku terdiam sejenak. Rasanya, kalimat itu seperti jarum yang menusuk hatiku. Aku tersenyum, lalu mengusap pipinya. "Iya, sayang," sahutku.

Hanya itu. Sekadar menjaga agar harapannya tak patah, meski aku tahu, harapannya telah runtuh. 

"Kenapa Ayah belum pulang juga, ya, Bunda?" tanyanya. Entahlah, apa yang ada dalam pikiran Kina mengenai ketiadaan ayahnya ini.

"Di rumah kita banyak makanan enak. Ayah nggak bisa ikut makan jadinya," katanya lagi.

"Bunda, nanti simpenin buat Ayah, ya?" pintanya. Hatiku rasanya semakin patah mendengarnya.

"Iya, sayang," jawabku lagi. Hanya itu yang bisa kukatakan.

Dua bulan telah berlalu sejak kepergian Mas Zaki. Aku mulai memikirkan bagaimana caranya memenuhi kebutuhan sehari-hari dan membesarkan Kina seorang diri. Uang yang tersisa tak mungkin terus kugunakan tanpa ada pemasukan, sementara aku sendiri belum memiliki pekerjaan.

Aku berjalan pelan sepulang dari warung, sambil memikirkan pekerjaan apa yang bisa kulakukan, apalagi selama ini aku tidak bekerja karena Mas Zaki tidak mengizinkan. Aku merasa tidak memiliki kemampuan apapun. Aku mengembus napas berat. 

Aku melirik rumah mewah yang berada di seberang jalan. Kulihat, seseorang yang sepertinya seorang ART sedang menyiram tanaman. 

Aku tersenyum, seperti mendapatkan petunjuk. “Mungkin aku bisa melamar jadi ART seperti dia,” gumamku. Setelahnya aku melangkah cepat menuju rumah.

“Nina!”

Tiba-tiba aku dikejutkan dengan suara Bu Dina yang memanggilku. Langkahku terhenti dan menoleh, beliau berjalan menghampiriku. 

“Iya ada apa, Bu?” kataku. 

“Nin, kamu mau nggak jadi tukang masak di warung ibu,” katanya tanpa basa-basi lagi. “Kebetulah satu karyawan ibu berhenti. Ibu butuh orang buat gantinya, ibu teringat kamu, jadi ibu tawaran dulu sama kamu.”

Mendengar itu tanpa sadar senyum senang terukir di bibirku, mataku berbinar. Rasanya, aku baru saja mendapatkan air di tengah musim kekeringan melanda. Aku mengucap syukur dalam hati. 

“Mau, Bu,” sahutku bersemangat. “Kapan saya bisa mulai kerja?” tanyaku, rasanya aku tak sabar. 

“Mulai hari ini aja, Nin. Kebetulan warung lagi rame,” katanya. 

“Baik, Bu. Saya pulang dulu, ya,” kataku sambil sedikit mengangkat kantong belanjaan. 

“Iya,  Nin. Jangan lama-lama, ya, lagi repot banget soalnya.” Aku pun mengangguk setuju dan melangkah pulang. 

Sepanjang jalan senyumku terus mengembang. Tak menyangka warung makan kesukaan langganan Mas Zaki itu, kini aku kerja di sana. 

Dulu, aku pernah mengutarakan  ingin buka usaha warung makan seperti itu, tetapi yang versi lebih sederhana lagi. Namun, apa yang kudapat, perkataannya membuatku merasa rendah diri. 

“Alah, Nin. Mau usaha kayak gitu, duit belanja aja kamu nggak bisa kelola, yang ada malah bangkrut nati!” ucapnya. Aku terdiam, rasanya seperti ada pisau yang menusuk hatiku. 

“Udahlah, nggak usah macam-macam. Di rumah aja udah paling bener kamu tu,” tambahnya. Rasanya ruangan itu terasa sempit.

“Tapi, kan, Mas, bisa belajar,” ucapku masih menaruh harapan. 

“Nin! Aku ini udah bisa baca kedepannya kayak apa? Nggak usah ngeyel, nurut aja!” wajahnya menatapku dengan  meremehkan. “Aku ini S1 sementara kamu cuma tamatan SMA, aku lebih tau mengenai SWOT, aku sudah belajar itu.” kalimatnya terasa seperti anak panah yang melumpuhkan pergerakanku. 

“Kamu tahu apa itu SWOT?” katanya dengan gerakan kepala seperti menantang. Aku hanya menggeleng pelan. Aku saja baru dengar kata itu. 

“Nah, itu aja kamu nggak paham. Jangan asal-asalan makanya,” tambahnya. Aku merasa semakin bodoh. 

Di sinilah aku sekarang berada, membantu memasak di dapur warung Bu Dina bersama beberapa ibu lainnya. Aroma masakan menguar di udara, sementara asap mengepul dari dalam kuali. Aku sendiri sedang memotong-motong sayuran. Di ruangan yang tak terlalu besar itu, perasaanku terasa lega, kepalaku pun terasa ringan. Bahkan, uap panas dari masakan tak terlalu kurasakan.

Sesekali, aku melirik ke depan. Banyak pelanggan sedang makan, ada juga yang sepertinya ingin memesan makanan untuk dibawa pulang, sementara Bu Dina melayani pembeli dibantu oleh satu orang pegawainya.  Sepertinya, sekarang memang sudah waktunya makan siang.

Para ibu di dapur ini melirikku dengan aneh. Mereka saling melempar pandang, dengan ekspresi wajah seperti sedang menahan sesuatu. Kuperhatikan salah satunya. Sudut bibirnya bergerak tipis, sementara matanya seolah berbicara kepada temannya.

Aku kembali mengalihkan perhatian pada sayuran yang sedang kupotong. Aku tak perlu memikirkan mereka. Aku juga tak perlu tahu apa yang mereka pikirkan tentangku.

“Sekarang harus cari duit sendiri, ya, Nin. Biasanya di rumah aja tinggal terima duit,” kata salah satunya.

“Enggak, kok, Bu. Nina senang ....”

“Alah! Jangan gitu, Nin. Cerita aja sama kita, nggak usah sungkan kayak gitu,” sela yang lain. “Kita paham kok perasaan kamu,” tambahnya, seolah paling tahu isi hati dan perasaanku, padahal itu hanyalah opini di kepala mereka.

“Kamu pasti kaget, kan, harus kerja kayak kita? Biasanya enak-enakan di rumah sama anak, duit ada yang ngasih,” sahut ibu tadi, seolah tak puas dengan jawabanku. Lalu, apa yang mereka harapkan keluar dari mulutku?

“Kalau saya ini udah biasa kerja gedebak-gedebuk kayak gini karena nggak dibiasakan enak-enakan.”

Suara di dapur itu bersahut-sahutan, seolah mereka paling paham dengan kehidupan rumah tanggaku. Seolah hanya mereka yang tahu rasanya bekerja keras, sementara aku tidak. Aku hanya diam. Bebas mereka mau berpendapat apa tentangku. Aku paling muda di antara ibu-ibu ini dan tak mau membuat masalah di sini.

Hanya seorang ibu-ibu yang sibuk mengaduk daging dalam kuali yang sejak tadi tidak ikut pembicaraan mereka. Sesekali ia menatapku dengan tatapan yang tak kumengerti. Yang jelas bukan tatapan seperti ibu-ibu yang berisik ini. 

Aku mengingat tujuanku berada di sini, yaitu untuk mencari uang, bukan mencari omongan orang tentangku yang tak penting itu.

Pukul delapan malam lebih, aku pulang. Kuketuk pintu rumah dan Ibu membukakannya.

“Alhamdulillah, bagaimana hari ini, Nin?” tanyanya.  Seperti saat aku pulang sekolah dulu. Pertanyaan yang sama, dan perasaan yang sama pula.

“Alhamdulillah, semuanya lancar, Bu,” sahutku sambil berjalan masuk. “Mana Kina, Bu?” tanyaku saat tak melihat putri kecilku.

“Kina sudah tidur sama bapak,” kata Ibu. “Tadi dia nggak mau tidur kalau nggak sama kamu. Bapak bujuk dan akhirnya mau juga,” tambahnya.

Hatiku terasa seperti dicubit mendengar itu. Namun, mau bagaimana lagi? Keadaan memaksaku menjalani hari-hari seperti ini.

Setelah kepergian Mas Zaki, aku kembali ke rumah ibu, meninggalkan rumah kontrakan kami yang di gang belakang. Setiap hari Kina dijaga ibu, juga bapak kalau beliau libur bekerja.

Tak terasa, sudah sebulan aku bekerja di warung makan Bu Dina, dengan segala cerita di dapur yang menemani perjalananku. Kemarin, aku baru saja menerima gaji pertamaku. Aku sangat bahagia. Setelah sekian lama, akhirnya aku bisa memegang uang hasil jerih payahku sendiri, seperti sebelum menikah. Aku merasa lega, merdeka, dan entahlah, rasanya angin pun terasa lebih segar hari ini.

Aku mengajak Ibu dan Kina jalan-jalan, sementara bapak bekerja shift pagi hari ini. Kulihat Kina berjalan riang. Ini adalah pertama kalinya dia jalan-jalan setelah kematian ayahnya.

Aku mengajak Kina ke sebuah playground. Aku melihatnya bergembira mencoba semua permainan yang ada di sana. Aku tersenyum melihatnya sambil duduk di dekat dinding bersama ibu.

“Ibu senang Kina bisa seceria itu,” kata Ibu.

“Iya, Bu. Nina juga merasa begitu,” sahutku.

Setelah itu, kami pergi ke warung bakso untuk mengisi perut yang sudah mulai protes. Kami memesan dua porsi bakso, mie ayam untuk Kina, dan sebungkus bakso untuk bapak. Semua harus mencicipi gaji pertamaku ini.

Aku lega sekarang. Tak ada lagi yang menjatah uang belanjaku atau menyalahkanku ketika uangnya tak cukup. Aku memegang kendali atas uangku sendiri sekarang.

“Nina!”

Saat kami sedang makan, seseorang menyapaku. Aku pun mendongak. Dia adalah teman kantor Mas Zaki. Tatapannya beralih pada Kina yang sedang lahap menyantap mie ayam.

“Halo, cantik!” sapanya sambil melambaikan tangan kepada Kina. Gadis kecilku hanya menoleh tanpa bereaksi apa-apa. 

“Turut berduka cita, ya, Nin. Maaf banget nggak datang waktu itu. Kebetulan saya lagi cuti dan berada di luar pulau,” katanya.

“Iya, nggak apa-apa, Mas,” sahutku.

Ia kemudian mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya dan menyodorkannya kepada Kina. Kina menatap benda itu. Ia terdiam, lalu menatapku, meminta persetujuan. Aku mengangguk dan Kina mengambil boneka Barbie itu. Aku merasa pria itu seperti cenayang, mengetahui keinginan Kina.

"Kata ayahmu kamu mau boneka ini, kan? Anggap saja ayahmu sudah membelikannya," katanya sambil menatap Kina.

Hatiku rasanya baru saja dihunjam pisau. Perasaanku campur aduk. Mas Zaki ayah yang baik di mata Kina dan semua orang, mungkin benar. Namun, sebagai suami, hanya aku yang tahu sifat aslinya. 

"Terima kasih, Om," ucap Kina senang. Matanya berbinar.

"Sama-sama," jawabnya. Setelah itu, ia berlalu untuk mencari tempat duduk. 

"Teman suamimu itu baik, ya," kata ibu pelan. Aku hanya mengedikkan bahu sebagai jawaban.

Tak terasa hari sudah menjelang sore. Kami segera pulang ke rumah. Di dalam taksi yang kami tumpangi, Kina tertidur di pangkuan ibu. Sepertinya, ia kelelahan. Sesampainya di rumah, Kina langsung dibawa ke kamar dan tak terbangun. Sepertinya, tenaganya benar-benar habis untuk bersenang-senang hari ini.

"Dia kayaknya sama kayak Zaki. Apa kamu nggak ada pikiran …” Terdengar suara ibu di balik punggungku.

"Pikiran apa, Bu?" sahutku sambil menyimpan bakso untuk bapak ke dalam rak. Aku merasa ada hawa-hawa tak nyaman dalam pembicaraan ini.

"Mencoba membuka hati buat yang lain," kata ibu ragu-ragu.

Aku terdiam. Tanganku menggantung di udara. "Ya ampun, Ibu ... belum juga satu tahun  Mas Zaki meninggal," ucapku sambil berbalik badan.

"Nggak ada salahnya, Nin. Nggak harus sekarang. Lagian, kamu masih muda dan Kina masih butuh sosok ayah," kata Ibu. "Apa kamu nggak kasihan sama Kina?" tambahnya. 

Aku menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya perlahan. "Kina akan bahagia meski tanpa sosok ayah, kok, Bu," kataku. "Aku yakin, aku bisa mengusahakan semuanya sendiri."

"Baiklah, untuk saat ini. Untuk jangka panjangnya, bisa dipikirkan lagi."

Darahku rasanya naik ke kepala mendengar ibu membahas hal itu. Namun, aku mencoba memahami. Ibu tak pernah tahu apa yang kualami selama berumah tangga dengan Mas Zaki.

"Nggak! Aku sendiri saja!" tegasku.

Ibu kembali terdiam cukup lama. Aku melihat kegelisahan di wajahnya. Kemudian, perlahan senyumnya mengembang lalu berkata, "Nggak, kok. Ibu sebenarnya hanya menguji saja." Aku terdiam kebingungan.

"Berarti kamu istri yang setia. Kamu mau ketemu Zaki lagi di surga," tambahnya. Setelah itu, ia masuk ke kamarnya.

Aku mematung. Tubuhku rasanya seperti tersengat listrik mendengar perkataan itu. Bayangan tentang apa yang pernah kuterima selama pernikahanku dengan Mas Zaki muncul dan berputar-putar di kepala. Aku mencengkeram kuat ujung bajuku, seolah luka yang berusaha kusembuhkan kembali berdarah.

"Nggak! Nggak akan pernah!" pekikku dalam hati. "Aku akan meminta kepada Tuhan agar tidak pernah mempertemukanku dengannya lagi." Tanganku gemetar, sudut mataku memanas.

"Aku bukan setia, aku hanya takut," kataku dalam hati. Perlahan, tubuhku luruh dan terduduk di kursi meja makan.

"Aku takut bertemu Mas Zaki lagi dalam rupa yang berbeda," tambahku. Dadaku naik turun, pandanganku kosong. “Aku sendiri saja!” ulangku dalam hati. 

Aku terperanjat ketika pintu rumah diketuk. Aku segera berjalan ke depan dan membukanya. Bapak pulang. Ia melepaskan sepatu, lalu berjalan menuju kamar mandi. Kulihat ibu membuatkan kopi untuk bapak.

Setelah selesai, ibu menyajikan bakso yang kami beli tadi dan secangkir kopi. "Traktiran dari Nina," katanya. Aku hanya tersenyum tipis.

Sambil bapak makan, ibu mulai bercerita tentang kegiatan kami di luar hampir seharian ini. Sesekali, ibu tertawa mengingat tingkah Kina, begitu juga bapak yang mendengarnya.

"Uang kamu jangan boros-boros, Nin. Apalagi traktir-traktir kayak gini," kata bapak padaku. 

"Sesekali, Pak," kataku. "Ngerasain gaji pertamaku."

"Iya, besok-besok disimpan saja untuk kebutuhan kamu dan Kina. Kalau bapak sama ibu, masih bisa bapak penuhi. Makan juga nggak usah dipikirkan, gaji bapak cukup untuk kita makan semua," kata Bapak panjang lebar.

"Ditabung, buat pegangan. Mana tahu suatu hari nanti kamu mau bikin usaha," tambahnya. Aku hanya mengangguk-angguk mendengar perkataan bapak

"Apalagi dua tahun lagi, Kina mau masuk TK," sahut ibu.

"Iya, Bu," sahutku.

Waktu terasa berjalan begitu cepat. Kini, Kina sudah duduk di bangku taman kanak-kanak. Rasanya baru kemarin aku melahirkannya tetapi sekarang ia sudah mengenakan seragam dan membawa tas kecil di punggungnya.

Ada rasa haru setiap kali melihatnya pertumbuhannya. Tanpa kusadari, waktu terus berjalan, membawa kami melewati hari-hari yang tak selalu mudah, tetapi berhasil kami lalui bersama.

Setiap hari, ibu yang mengantar dan menjemputnya sekolah. Namun, kalau aku sedang libur, akulah yang menemani Kina.

"Tangan ke atas menggapai bintang, tangan ke depan ikan berenang ...."

Kina menunjukkan lagu yang dipelajarinya di kelas saat aku sedang libur. Katanya, lagu itu dinyanyikan kalau mau duduk. Ia memperagakan gerakannya di meja kayu kecil buatan Bapak. Tangannya berakhir terlipat rapi di atas meja.

Aku bertepuk tangan, lalu berkata, "Wah, Kina hebat sekali, bisa hafal."

"Iya, dong, Bunda," sahutnya dengan mata berbinar.

Hari-hari berlalu dengan ritme yang sama. Aku mulai berpikir untuk memulai usaha sendiri, mencoba membuka warung makan seperti Bu Dina. Ada keraguan di dalam hatiku, tetapi aku mencoba melawannya.

"Kalau nanti bangkrut, mulai lagi. Kalau nanti bangkrut, setidaknya nggak ada yang kurugikan. Rugi uangku sendiri," gumamku sambil menatap jumlah uang di dalam buku tabungan.

Aku membicarakan rencanaku kepada bapak dan ibu. Mereka setuju. Untuk awal-awal, Ibu yang menjaga warung, sementara aku tetap bekerja di tempat Bu Dina. Kalau usaha itu sudah berjalan cukup lancar, barulah aku berhenti dari tempat Bu Dina, pikirku. Aku tak mau mengambil risiko terlalu besar. Setidaknya, satu tanganku masih harus berpegangan pada seseorang.

Bapak membelikanku sebuah etalase kaca baru. Aku tak menyangka, padahal aku saja belum terpikirkan untuk membelinya karena masih memperkirakan modal yang dibutuhkan. Aku merasa sangat terbantu.

Aku membuka warung makan di teras rumah ibu. Tak perlu menyewa ruko atau semacamnya karena rumah ibu terletak di pinggir jalan dengan halaman depan yang cukup luas. Aku bersyukur akan hal itu. Aku sudah memiliki rencana mengenai halaman tersebut jika usahaku berjalan lancar.

Aku memulai usaha dengan menyediakan beberapa lauk dan sayur saja. Untuk sementara, aku belum bisa menyediakan makanan sepanjang hari seperti di warung Bu Dina karena masih harus bekerja. Jadi, jika semua menu sudah habis, warung pun tutup.

Entah waktu yang berputar cepat atau aku yang terlalu menikmati hidupku yang sekarang. Kini, tibalah waktunya Kina masuk sekolah dasar. Aku berhasil mengurus semuanya dengan biaya dari keuntungan warung yang terus berjalan, meski jumlahnya naik turun.

Pelan-pelan, warung makanku mulai dikenal dan kini memiliki beberapa pelanggan tetap. Bahkan, aku juga sudah bekerja sama dengan aplikasi pesan antar makanan online.

Halaman depan rumah pun mulai kubangun menjadi tempat untuk warung makanku, dengan tambahan biaya dari bapak. Awalnya, aku menolak tawarannya, tetapi beberapa hari kemudian, semen dan pasir sudah tiba di rumah.

Setelah kurang lebih satu bulan, bagunan warung impianku akhirnya jadi. setelah dibersihkan, aku mulai memindahkan warung dari rumah ibu ke sana. Rasanya tempat itu terasa lega dan leluasa sebagai warung makan dan 

Akhirnya, aku memutuskan berhenti dari tempat Bu Dina. Beliau tidak keberatan, apalagi setelah mengetahui tentang warungku.

"Alhamdulillah, Ibu turut bahagia, Nin. Akhirnya, ilmu yang Ibu berikan bisa kamu gunakan. Semoga jadi amal jariyah buat Ibu," katanya tulus.

"Iya, Bu. Terima kasih. Aamiin," sahutku.

Setelah itu, aku berpamitan kepada teman-teman kerjaku di dapur. Mereka masih sama, dengan ekspresi seolah menyembunyikan sesuatu.

"Bagi kerjaan, ya, kalau ada lowongan," kata salah seorang dari mereka.

Aku hanya tersenyum canggung menanggapinya. Aku tak tahu apakah ucapan ibu itu sungguhan atau tidak. Ia masih saja saling tatap-tatapan dengan teman-temannya seperti biasa.

Sekarang, aku telah resmi menjadi pemilik warung makan yang kuberi nama Teras Rasa dan mengelola usahaku sendiri. Belakangan ini, aku bahkan mulai mempekerjakan satu orang untuk membantu di dapur dan satu orang lagi untuk melayani pelanggan bersama ibu. Aku mulai kewalahan karena pelanggan semakin ramai.

Aku tersenyum melihat para pelanggan yang sedang menyantap makanan mereka. Aku masih tak menyangka bisa sampai di titik ini. Ternyata, memulai usaha sendiri tidak semengerikan yang dikatakan Mas Zaki dulu.

Aku sudah merasa cukup dengan semua ini. Ada ibu, bapak dan Kina yang selalu ada untukku. Aku semakin yakin untuk tetap sendiri saja.

TAMAT

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Rekomendasi