Bapakku sudah tua, aku belum jadi apa-apa. Di hari tuanya, saat langkahnya tak lagi setegap dulu, ia masih harus membanting tulang untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
Anehnya, bapak tak pernah mengungkit apa pun yang telah diberikannya dulu untukku, hingga ia tak sempat menabung untuk hari tuanya. Semua habis untukku dan pendidikanku, yang kini malah tak menjadikanku apa-apa. Bapak tak pernah mengatakan bahwa ia menyesal karena hal itu.
Kulihat dari kejauhan, Bapak tampak bersemangat mengatur motor atau mobil yang keluar masuk di pasar itu. Setelahnya, ia duduk di kursi plastik yang warnanya sudah pudar, yang tersedia di pinggir toko. Matanya tetap berjaga, memastikan kendaraan-kendaraan itu aman di tengah hiruk-pikuk pasar.
Mungkin sama seperti saat bapak masih menjadi petugas keamanan di sebuah pabrik kayu dulu, memastikan semuanya aman. Tubuh yang dahulu tegap, kini tampak kurus. Baju yang dikenakannya terlihat longgar. Bahunya yang dulu kekar, kini tampak kempis. Kulitnya gelap terbakar terik matahari.
"Rame banget, untung kita parkir di depan." suara temanku membuatku terkesiap.
Aku mengalihkan pandangan dari bapak dan melihat teman yang sudah melangkah lebih dulu di depan. Aku pun berjalan mengikutinya menuju motornya.
Hari ini, aku menemani temanku membeli tas. Katanya, lebih enak membeli tas di pasar karena bisa menawar. Kami berdua karyawan minimarket yang kebetulan mendapat shift siang berbarengan.
"Yuk, ah! Pulang, siap-siap," katanya sambil menyalakan mesin. "Nanti pak killer itu marah-marah lagi kalau kita telat," tambahnya, mengingat kepala toko kami yang galak dan suka marah kalau karyawan terlambat, meski hanya semenit.
Aku naik ke atas motor, kemudian kendaraan roda dua itu melaju di atas aspal, meninggalkan area pasar yang padat dan ramai.
Beberapa jam berlalu, di sinilah aku berada. Di sebuah minimarket dengan profesiku sebagai pramuniaga. Temanku tadi adalah kasir.
Aku menyusun barang-barang baru ke rak sambil memilah dan memilih mana yang masih bisa dijual, mana yang telah kedaluwarsa, barang yang mengalami kecacatan, dan lain-lain. Ruangan itu terasa dingin dan nyaman. Aku tak perlu berkeringat menghadapi panas matahari, apalagi menggunakan sobekan kardus bekas untuk mengipasi diri.
Aku jadi teringat bapak, yang berjibaku dengan debu, panas, dan polusi demi mendapatkan dua ribu rupiah dari pengendara yang memberinya uang. Penghasilan yang tak menentu, bergantung pada kemurahan hati orang-orang yang menggunakan jasanya.
"Zana?" Aku mendongak.
Tiga gadis berdiri di dekat rak tempatku bekerja, mengenakan almamater kampus. Mereka adalah teman sekelasku dulu. Mereka menatapku seakan tak percaya. Jujur saja, ada perasaan malu yang diam-diam menyelinap ke dalam hatiku.
"Kalian," kataku tanpa beranjak dari tempatku dan masih sibuk dengan barang-barangku. "Mau beli apa?" tanyaku berbasa-basi.
"Kamu nggak kuliah, Zan?" tanya salah satu dari mereka.
"Nggak," jawabku seadanya.
"Ih, sayang banget, lho, Zan. Padahal kamu dulu pintar, lho, sering juara satu," tambah teman satunya.
Aku tersenyum getir. Mengapa pertanyaan mereka terasa seperti cambuk yang dipukulkan ke tubuhku?
"Kita yang nggak pintar aja bisa kuliah," sahut yang satunya lagi. Mulutku memilih diam, namun, dalam hati, aku berkata, “Karena bapakku tak kaya.”
“Ya, udah, Zan. Kita duluan, ya,” pamit mereka, lalu berjalan menuju rak di sisi lain. Aku masih bisa mendengar suara mereka saat memilih camilan di rak belakangku. Katanya, camilan itu untuk menemani mereka mengerjakan tugas.
Aku terdiam beberapa saat. Jujur, aku iri pada mereka. Impianku dulu juga bisa kuliah seperti mereka dan mewujudkan cita-citaku menjadi seorang dokter. Namun, apalah daya, aku hanya berakhir sebagai pramuniaga minimarket.
Bukan aku tak mau kuliah, hanya saja dulu aku bingung, tak tahu arah. Aku tahu bisa kuliah dengan beasiswa, tetapi aku tak tahu bagaimana cara mendapatkannya. Tak seorang pun memberitahuku. Entah aku kurang bergaul, kurang berpikir, atau kurang peka terhadap semua itu. Yang jelas, aku tak pernah mendengar orang-orang membicarakannya, apalagi menjelaskannya kepadaku.
Aku merasa seperti terkurung dalam ruangan gelap. Tak ada jendela terbuka untuk melihat ke luar, apalagi orang yang mengulurkan tangan untuk membantuku terlepas dari keterperangkapan itu.
Apalagi, orang tuaku hanya lulusan SD dan tentunya tak tahu seluk-beluk cara masuk ke perguruan tinggi. Namun, aku tetap bersyukur. Meski demikian, mereka bisa mengantarkanku sampai lulus SMA. Mungkin bagi orang lain, itu hal yang biasa, tetapi bagiku, bapak luar biasa. Meski ia tak pernah melewati jenjang ini, ia tetap berusaha mengantarkan ke jenjang yang ia sendiri tak pernah rasakan.
Kadang aku merasa bodoh. Meski aku murid yang berprestasi, aku tak pandai mencari celah. Namun, dari mana aku bisa melihat celah itu jika semuanya bisu? Atau memang telingaku yang tuli akan hal itu?
Aku juga tak memiliki ponsel canggih seperti teman-temanku yang mungkin bisa mengakses berbagai informasi dari sana. Aku hanya memiliki ponsel jadul yang dibelikan bapak saat aku masuk SMP dengan cara kredit. Katanya, ia kasihan karena teman-temanku semua punya ponsel. Namun, seiring waktu, ponselku semakin ketinggalan zaman.
Menjelang sore, kulihat langit di luar tampak mendung. Sangat kontras dengan siang tadi yang begitu terik. Sepertinya langit berbelas kasih kepada orang-orang yang tersengat panasnya, lalu menurunkan hujan sebagai penyejuk.
Aku kembali teringat pada bapak dan membayangkannya berteduh di pinggir toko sambil terkena percikan air hujan. Aku mengembuskan napas pelan. Bapak sudah tua, tetapi aku belum bisa memberikan apa-apa untuknya, meskipun ia pernah bilang bahwa anak memang tanggung jawab orang tua. Artinya, ia tak ingin aku membalas apa pun atas segala yang telah diberikannya.
Pukul sepuluh malam lebih, aku pulang ke rumah. Lampu ruang tamu masih menyala. Kuketuk pintu dan Ibu membukakannya. Tak terlihat bapak yang biasanya menonton televisi di ruang depan hingga aku pulang.
"Mana bapak?" tanyaku pada ibu sambil melangkah masuk.
"Bapak sudah tidur," sahut ibu seraya menutup pintu.
"Tumben." Aku melepas sepatu dan meletakkannya di rak.
"Baru habis diurut," kata ibu lagi. Ia mendudukkan diri di kursi kayu yang berderit. "Tadi di pasar jatuh, pinggangnya sakit," tambahnya.
Hatiku tersentil mendengarnya. Langkah yang tak lagi tegap itu kini harus terjatuh. Pinggangnya yang dahulu mungkin kuat, kini begitu rentan. Keadaan telah memaksanya membawa tubuh tuanya untuk terus mengais rezeki.
Setelah itu, aku pergi ke dapur untuk meletakkan kotak makan di baskom kotor. Dari depan terdengar ibu sedikit berteriak, “Teh hangatnya diminum, habis hujan gini di luar pasti dingin.”
“Iya, Bu,” sahutku senang lalu membuka tutup gelas teh di atas meja dapur dan meminumnya. Hangatnya mengalir di tenggorokan, rasanya hingga ke seluruh tubuh.
Setelahnya aku membersihkan dan bersiap tidur. Namun, malam itu aku tak benar-benar terlelap. Pikiranku terus memikirkan bapak. Aku memikirkan apa yang bisa kulakukan untuk meringankan bebannya, setidaknya agar ia tak perlu bekerja sekeras itu lagi.
Tiba-tiba, aku teringat tabunganku selama dua tahun kerja. Jumlahnya memang tak seberapa, tetapi aku telah mengumpulkannya dengan susah payah. Aku bangkit, membuka laci, lalu mengambil buku tabungan untuk melihat jumlah uang yang tersimpan di dalamnya.
Aku terdiam sejenak, memikirkan sesuatu. Ada keraguan yang mengusik. Rasanya sayang jika harus menggunakan tabungan itu sekarang. Rencananya, uang tersebut akan kukumpulkan untuk biaya masuk kuliah, seperti salah satu teman kerjaku yang bisa kuliah sambil bekerja.
Aku mengembuskan napas berat. Hati dan pikiranku bergulat, saling mempertahankan keinginan masing-masing.
Keesokan paginya, kulihat bapak berjalan tertatih menuju meja makan. Ia tak banyak bicara, lalu duduk dan menyantap sarapan yang disiapkan ibu.
"Kerja nggak, Pak?" tanya Ibu di sela-sela makan.
"Istirahat dulu, Bu. Pinggang Bapak masih sakit," jawabnya, lalu kembali menyuapkan makanan ke mulutnya.
Aku hanya diam mendengar percakapan itu. Keraguanku tentang tabungan semakin besar. Ada perasaan berat jika harus menggunakannya sekarang. Namun, jika tidak sekarang, apakah masih ada kesempatan lain untuk meringankan beban bapak?
Diam-diam, kuperhatikan wajahnya. Tulang pipinya menonjol di balik kulit yang mulai keriput. Matanya tampak cekung, sementara rambutnya mulai memutih di beberapa bagian. Seluruh wajahnya menggambarkan kelelahan dan perjuangan yang tak pernah ia ceritakan.
Setelah menimbang berkali-kali, akhirnya aku memutuskan untuk membuka warung kelontong di rumah agar bapak dan ibu bisa menjaganya. Jika usaha itu mulai menghasilkan keuntungan, aku berencana menambahkan penjualan bensin eceran.
Aku meyakinkan hati, kenapa aku harus perhitungan, sementara bapak rela habis-habisan demi aku, bahkan sampai tak memiliki tabungan untuk hari tuanya?
Pada hari libur, agak siang, aku pergi ke bank untuk menarik tabunganku. Masih ada perasaan sayang saat membayangkan uang yang kukumpulkan selama dua tahun itu akan terpakai. Namun, aku lebih tak tega jika harus terus melihat bapak membanting tulang di saat tubuhnya mulai renta.
Setelah menarik uang, aku pergi ke pasar bersama ibu untuk membeli barang-barang yang akan mengisi warung kami.
Setelah selesai berbelanja, aku dan ibu pulang menggunakan dua becak motor. Satu untuk mengangkut barang belanjaan, sedangkan satu lagi untuk mengantar kami pulang.
Sesampainya di rumah, kami menata barang-barang itu di tempat yang telah bapak siapkan selama kami pergi. Rak kayu sederhana yang dibuatnya dari kayu palet. Bapak sering membawa pulang kayu-kayu itu sepulang dari pasar. Aku tak menyangka benda yang sempat kuanggap tak berguna itu akhirnya bisa dimanfaatkan.
"Bapak buat beginian, katanya pinggang sakit," kataku.
"Yang sakit itu hanya pinggang, tangan masih bisa kerja," sahutnya santai.
Padahal, aku melihat sendiri bagaimana sesekali ia meringis saat membantu mengangkat barang-barang.
Malamnya, kami duduk di ruang depan sambil menonton televisi setelah makan malam. Kami membahas warung yang ingin kubuka. Awalnya, bapak tak setuju untuk menjaga warung di rumah bersama ibu karena menurutnya beliau masih kuat bekerja.
“Pak ... Zana, kan, nggak mungkin selamanya kerja di minimarket itu. Zana memang sengaja mulai usaha dari sekarang biar nanti, kalau suatu saat Zana udah nggak kerja di minimarket lagi, warung ini sudah berjalan lancar dan punya pelanggan tetap. Jadi, Zana nggak perlu mulai dari nol lagi kalau suatu hari harus berhenti bekerja,” jelasku, berusaha meyakinkan bapak dengan alasan yang masuk akal. Aku tak ingin beliau menganggap keputusanku membuka warung semata-mata karena aku mengasihaninya.
“Betul itu, Pak. Nggak mungkin, kan, Zana mau kerja sama orang terus,” sahut ibu. “Bapak juga sudah tahu rasanya kerja sama orang, dan lihat sekarang? Apa yang kita punya biar bapak nggak pontang-panting di luar kayak sekarang ini?”
Ibu berhenti sebentar sebelum melanjutkan, “Zana itu pintar, Pak. Dia sudah memikirkan masa depannya dari sekarang. Mana tahu, beberapa tahun lagi, warung ini bisa berkembang lebih besar, seperti toko grosir di pasar,” tambahnya.
Bapak terdiam cukup lama. Sepertinya, beliau sedang memikirkan dan menimbang perkataanku dan ibu. Akhirnya, kepalanya mengangguk setuju. Aku pun mengembuskan napas lega.
“Baiklah. Bapak nggak mau Zana kayak Bapak ini,” ucapnya. Aku tersenyum senang.
Hari ini, aku masuk shift pagi. Kulihat Bapak sudah berjaga di warung, layaknya seorang pramuniaga. Namun, ia duduk di kursi yang diambilnya dari ruang depan. Ibu tak tahu ke mana, mungkin di dapur.
Sejak hari itu pula, bapak tak lagi pergi ke pasar untuk menjadi juru parkir. Di warung kecil itu, ia tetap bisa memiliki pemasukan sambil beristirahat.
Setelah berpamitan kepada bapak dan ibu, aku pun berangkat menuju minimarket tempatku bekerja. Ada perasaan lega yang kurasakan, meski aku harus mulai menabung lagi dari awal. Apakah ini yang dirasakan bapak dulu? Bernapas lega, meski uangnya habis untuk memenuhi kebutuhanku?
Bulan depannya, warung bapak kutambahi bensin eceran menggunakan gajiku. Kulihat bapak tampak bersemangat menyusun tujuh botol bensin di rak yang dibuatnya kemarin.
Aku telah mengikhlaskan mimpiku untuk kuliah. Mungkin memang belum saatnya, atau mungkin kuliah memang bukan jalanku saat ini.
Aku tak bisa membanggakan bapak dengan gelar sarjanaku. Aku hanya bisa meringankan bebannya dengan membuka warung kelontong kecil-kecilan di rumah warisan nenek dan berjualan bensin eceran.
TAMAT