Sore ini langit tampak mendung, awan hitam menggumpal, angin berembus cukup kencang memberi tanda jika hujan akan segera turun. Juru parkir terlihat berlari kecil menuju pos ketika butiran air mulai menetes menyentuh tanah.
Lisara namanya, kasir baru di restoran Lautan Rasa. Restoran seafood ternama di kota ini. Gadis itu menikmati pemandangan hujan dari balik dinding kaca, seperti meresapi setiap butiran air yang jatuh ke tanah, membuat perasaannya damai.
Hujan membawa hawa dingin hingga ke dalam restoran. Lisara memeluk diri sedikit menggigil. AC menyala dan uap es berada di meja pajangan membuat dingin semakin menusuk.
“Huh, dingin sekali,” gumam Lisara Dia melihat ke sekeliling seakan membeku. Rekan-rekan kerja yang lain entah kemana, kebetulan sedang sepi pengunjung.
Mata Lisara melirik ke dapur, di dalam sana tampak hangat dengan asap tipis mengepul dan aroma bumbu yang menguar di udara. Beberapa menit kemudian dia kembali mengalihkan pandangan pada hujan di luar.
Tiba-tiba semangkuk sup hangat tersuguh di depannya, aroma hangat dan manis menyeruak ke dalam hidung. Lisara mengangkat kepala, mendapati seorang pria menggunakan celemek melempar senyum padanya. Gadis itu mengerutkan kening. Dia baru tiga hari di sini dan belum terlalu mengenal siapapun.
“Sup jagung kepiting untuk kamu,” kata pria itu seakan mengerti dan menjawab kebingungan si anak baru.
“Aku nggak pesan.” Lisara menatap sup yang asapnya masih mengepul.
“Ini adalah menu selamat datang dari Gibran khusus anak baru.”
Lisara terdiam sejenak, mencerna apa yang dikatakan pria bernama Gibran itu. Otaknya berpikir sedikit lambat, apa karena hawa dingin juga membekukan otaknya?
“Hei, kenapa diam saja. Ayo dimakan!” Gibran menyodorkan sendok dan Lisara menyambutnya.
“Oh, baiklah.” Lisara gugup. Tangannya mulai bergerak menyendok sup.
Suapan pertama mendarat di mulutnya, mata gadis itu membulat. Sensasi hangat, rasa gurih, manis dan lembut memanjakan lidah. Dia sangat menikmati dan sepertinya akan menjadi menu favorit.
“Enak,” puji Lisara sebagai ucapan terima kasihnya pada Gibran.
“Oh, itu sudah pasti!” kata Gibran bangga sambil menepuk dada. “Aku masaknya bukan pakai panci, tapi cinta!” lanjutnya lalu tersenyum jahil. Dia menikmati reaksi Lisara yang salah tingkah. Dia suka gadis pemalu.
Lisara hampir tersedak, matanya membulat dan berkata dalam hati. “Astaga! Apa dia waras?” batinnya, lalu terus menyuap sup hingga habis.
“Kamu sudah menghabiskan supnya, tapi belum juga memberitahu namamu,” kata Gibran sambil menatap gadis itu.
“Oh, namaku Lisara,” jawabnya gugup dengan perasaan campur aduk, padahal hanya sebuah kalimat biasa.
Sepertinya, hangat sup itu menjalar sampai ke dada. Bukan hanya menghangatkan tubuh, tetapi juga perasaan.
“Hem … apakah isi mangkuk sudah berhasil mengisi hati?” kata Lyra tiba-tiba datang.
Dia merupakan senior Lisara. Matanya menatap mangkuk kosong lalu beralih ke wajah Lisara yang memerah. Lyra dan Gibran tertawa kecil melihat reaksi anak baru itu.
“Hati-hati! Kak Gibran taruh pelet di dalamnya. Awas nanti jatuh cinta,” bisik Lyra menggoda Lisara. Wajah Lisara semakin merona dibuatnya.
Perasaannya semakin tidak karuan, rasanya Lisara ingin menghilang saat itu juga. Lyra dan Gibran tertawa semakin jadi. Beruntung, tidak lama rombongan pengunjung datang mengakhiri obrolan itu. Sementara, Fara yang mengamati mereka dari kejauhan segera melangkah menuju kasir.
Ekspresi Fara seperti menyembunyikan sesuatu. Ia melirik Lisara dan ketika tatapan mata mereka bertemu, Fara cepat-cepat menyunggingkan senyum. Senyum yang seperti dipaksakan.
“Kamu udah kuanggap seperti adik sendiri. Aku nggak punya saudara perempuan. Aku senang banget ada kamu di sini.” Ucapan Fara kemarin masih segar di ingatan Lisara. Hatinya terenyuh, orang yang baru ditemuinya begitu baik. Namun, apa yang dia lihat hari ini membuatnya ragu.
Hari-hari berlalu dengan ritme yang sama. Gibran selalu punya cara untuk mendekati Lisara dan membuat gadis itu salah tingkah.
Dari kedekatan itu, perlahan menumbuhkan perasaan yang sulit diabaikan, tapi belum juga menemukan kejelasan. Baik Gibran maupun Lisara merasa nyaman dengan pribadi masing-masing.
Hari ini, Lisara hanya berdua dengan Fara karena Lyra jadwalnya libur. Lisara mendengar banyak cerita dari Fara, sementara dia hanya menjadi pendengar saja. Fara yang ramah dan mudah bergaul, membuat siapa saja mudah dekat dengannya, tetapi siapa sangka perkataannya hari ini seakan ingin memadamkan api yang baru menyala.
“Kak Gibran dan aku dulu sangat dekat. Dia sering banget main ke rumahku,” kata Fara membuat hati Lisara seperti ditusuk-tusuk jarum. Padahal, Gibran bukan siapa-siapanya, tetapi mengapa hatinya tidak terima apa yang disampaikan oleh sahabatnya itu.
“Kami juga sering jalan bareng atau sekadar nonton. Tiap jadwal libur kita bareng, Kak Gibran pasti ngajakin aku jalan,” lanjutnya. Lisara diam, meredam perasaan yang bergemuruh.
“Oh, ya, kau tahu kaos putih di lemariku yang tulisan di belakangnya ‘Dapurku Cintaku’“ Lisara mengangguk, karena dia memang melihat baju kaos putih itu.
“Itu punya Kak Gibran. Dia minjemin aku waktu aku kehujanan di jalan dari rumah ke tempat kerja.” Lisara mengangguk pelan. Sudut matanya memanas, tetapi ia sadar. Mengapa harus menangis? Ia tidak berhak cemburu atau hatinya memang berharap.
Lisara ingin bertanya sesuatu, tetapi belum juga kalimatnya keluar dari mulut serombongan pengunjung datang mengakhiri obrolan mereka. Gadis itu menghela napas berat dan menyayangkan mengapa pengunjung datang di waktu yang tidak tepat.
Setelah obrolan itu, Lisara terus kepikiran dan bertanya-tanya dalam hati. Apakah Gibran hanya bermain-main? Apakah kata-kata manis yang kerap dilontarkan untuknya hanyalah candaan, dan dirinya yang terlalu bawa perasaan. Buktinya, Fara berpacaran dengan salah satu anak barista, bukan dengan Gibran yang katanya dulu dekat. Hati Lisara mulai ragu.
Keraguan itu semakin besar ketika Dua suara berbeda membuat hati Lisara gamang. Ia tidak tahu siapa yang harus dipercaya. Baik Fara maupun Lyra sudah lebih dulu mengenal Gibran, pasti sedikit banyak tahu mengenai pria itu.
Giliran Fara libur hari ini, Lisara berdua saja dengan Lyra. Seniornya yang satu itu memang tidak banyak bicara. Mereka tidak terlalu sering berinteraksi kalau bukan soal pekerjaan.
Wajahnya yang tegas dengan lipstik merah yang melekat di bibirnya membuat Lisara segan. Namun, kali ini apa yang keluar dari mulutnya seakan menjaga agar api tak padam.
“Aku setuju kalau kamu mau sama Kak Gibran. Dia sebenarnya baik, tapi kadang sering disalah artikan,” kata Lyra, membuat Lisara berpikiran jika dirinya juga menyalah artikan perlakuan Gibran. Hati Lisara berdenyut, dia tersenyum getir.
“Jalani aja, dulu!” ujar Lyra. Gadis itu menangkap kebimbangan di mata Lisara. “Aku yakin, Kak Gibran juga suka sama kamu, kok,” lanjutnya membuat hati dan perasaan Lisara berperang.
Lisara menjalani hari-harinya dengan kebimbangan yang tak kunjung menemukan jawaban. Gibran masih seperti biasa, mendekati Lisara. Namun, Lisara berusaha untuk tidak terbuai dengan kata-kata Gibran, meski ia tidak bisa melakukannya.
Lisara berdiri di depan cermin sambil menatap pantulan diri. Tangannya sibuk menggonta-ganti, memilih baju yang pantas untuk kencan pertamanya dengan Gibran. Pria itu sudah mengajaknya kemarin, kebetulan jadwal libur mereka bertepatan.
“Far, bagaimana dengan baju ini? Bagus nggak?” tanya Lisara pada sahabatnya yang tengkurap di atas tempat tidur sambil bermain ponsel. Fara sedang istirahat di kost.
Beberapa bulan yang lalu Fara ikut nge-kost dengannya, jarak dari rumah ke tempat kerjanya sangat jauh. Sementara kost-an Lisara tidak jauh dari tempat kerja.
Fara menoleh ke arah Lisara dengan mimik wajah yang sulit diartikan lalu berkata, “Jelek!” Lalu kembali fokus ke ponsel.
Lisara mendengus lalu meletakkan baju itu dan mencoba yang lain. “Kalau ini?”
Fara menggeleng. “Norak,” ucapnya.
“Ini.”
“Kampungan!”
Sekali lagi. “Ih! Nggak pantes banget!”
Lisara menghela napas berat. “Gimana, dong? Aku harus pakai baju yang mana?” keluh Lisara dan berharap Fara meminjamkan baju miliknya.
Lisara lihat baju-baju Fara modelnya bagus-bagus dan modis. Namun, apa yang diharapkan gadis itu meleset.
“Gak tau ah, terserah! Baju kamu aneh semua.” Fara kembali fokus pada ponselnya.
Lisara terdiam dan mengembus napas berat. Ia putus asa dan berpikir untuk membatalkan rencana hari ini, tetapi baru saja hendak mengirim pesan ke Gibran, sebuah notifikasi pesan masuk.
“Aku sudah di depan.”
Pesan singkat itu sukses membuat Lisara ketar ketir. Dia berjalan mondar mandir, hatinya bimbang. Setelah menimbang sebentar akhirnya dia memutuskan pergi dengan pakaian seadanya.
“Kamu tetap mau pergi?” tanya Lisara dengan ekspresi wajah sinis, sebelum gadis itu benar-benar menghilang di balik pintu. Dia mengubah posisi menjadi duduk.
“Ya,” sahut Lisara singkat lalu melesat ke luar.
Selepas kepergian Lisara, Fara berdiri dan membuka lemari. Dia menatap kaos putih yang bertuliskan ‘Dapurku Cintaku’ cukup lama. Beberapa menit kemudian tangannya terulur mengusapnya dan bergumam, “Kak Gibran, apa selera kakak begitu rendah? Aku nggak masalah sih sebenarnya kalau dia lebih baik dari aku, tapi sayangnya seleramu aneh.”
Dia tersenyum sinis sambil matanya menatap baju-baju Lisara di sampingnya sambil membayangkan wajah gadis itu. “Semoga kau cepat sadar, Kak. Dia nggak pantas buat kamu,” lanjutnya.
Fara menutup pintu lemari dengan agak keras meluapkan kejengkelan hatinya. “Kampung!” umpatnya yang entah ditujukan untuk siapa.
Setelah menonton, Gibran mengajak Lisara pergi ke icon kota. Menikmati pemandangan jembatan Ampera di malam hari. Semilir angin sungai musi membuat suasana syahdu.
Gadis itu menikmati angin yang berhembus, membelai dan memainkan anak rambutnya. Gibran memandangnya diam-diam, dia tersenyum melihat Lisara dengan perasaan bahagia. Tak lama matanya beralih pada kerlap-kerlip merah yang melintang di atas sungai.
“Lis, kamu lihat jembatan itu,” kata Gibran dan mata Lisara mengikuti arah telunjuk pria itu. “Ya,” sahutnya singkat.
“Jembatannya tetap kokoh dari masa ke masa. Tak tergerus zaman, tak terpengaruh cuaca atau apapun itu yang akan membuatnya runtuh.” kata Gibran lagi.
Lisara hanya mengerutkan kening. Otaknya mencoba mencerna ucapan Gibran. Apa pria itu sedang mengajarkan pelajaran sejarah? Pikirnya.
“Seperti perasaanku padamu,” lanjutnya. Pipi Lisara mendadak merah, beruntung suasana malam hari sehingga Gibran tidak bisa melihatnya.
Lidah gadis itu kelu, tidak bisa menanggapi ucapan Gibran. Seakan tidak memberi kesempatan untuk Lisara bernapas, Gibran kembali bersuara.
“Kamu lihat dua menara itu?” Lagi, mata Lisara mengikutinya. Pipinya masih panas. Setelah memastikan mata gadis itu, Gibran melanjutkan kalimatnya.
“Seperti dua orang berdampingan. Seperti kita nanti, sampai tua.” Jantung Lisara seperti mau melompat ke luar mendengar itu. Terlalu manis untuk hatinya yang telah lama berharap.
Gibran menatap Lisara di sampingnya yang terdiam lalu melempar senyum manis. Gadis itu menunduk malu, tidak berani menatap mata pria yang begitu memabukkan.
Perlahan, Gibran menggenggam tangan Lisara. Genggaman yang menggetarkan hati. Saat itu hubungan mereka resmi menjadi sepasang kekasih.
“Kamu pacaran sama Kak Gibran?” tanya Fara memastikan berita itu benar. Lisara mengangguk malu sebagai jawaban.
“Kamu yakin? belum tentu dia beneran cinta sama kamu,” ucap Fara dengan wajah sinis.
Melihat itu, Lisara tidak mengerti mengapa Fara seperti tidak suka mendengar dia berpacaran dengan Gibran. Bukankah Fara sudah menganggapnya seperti adik, seharus dia jadi orang pertama yang bahagia mendengarnya. Ini justru sebaliknya.
Perlahan, Fara mulai menjauhi Lisara. Hubungan persahabatan mereka seperti ada jarak. Seniornya satu itu sudah jarang mengajaknya mengobrol seperti dulu lagi.
Suatu malam, saat pengunjung restoran sepi. Fara melontarkan sebuah pertanyaan yang cukup sulit untuk dijawab.
“Lis, kalau kamu harus memilih antara sahabat dan pacar, kamu pilih siapa?”
Lisara terdiam sejenak kemudian melemparkan kembali pertanyaan itu, “Kalau kamu sendiri pilih siapa?”
“Kalau aku pilih pacar. Aku bakalan menikah dengan pacar dan hidup selamanya dengannya bukan dengan sahabat,” jawab Fara lantang. Namun, seperti menyembunyikan kemarahan.
Hening, tidak ada lagi percakapan di antara mereka berdua. Tak lama Fara memilih pergi ke dalam.
Lyra yang sedari tadi diam dan sibuk dengan komputer, tiba-tiba bersuara tanpa mengalihkan pandangan. “Kadang seseorang menjauh bukan hanya karena benci, tapi juga takut kehilangan.
Selesai