Disukai
1
Dilihat
24
Hujan Dan Jejak yang Ditinggalkan
Romantis
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Sore itu, angin berembus kencang, awan hitam menggelayut menyelimuti langit kota. Butir-butir air mulai menetes, lalu mengalir deras tanpa henti.

Seira menyipitkan mata menatap air yang turun dari atap halte, dia baru saja pulang dari kantor dan menunggu bus yang mengarah ke rumahnya.

Hawa dingin merambat, menggigit kulitnya. Seira menggigil, memeluk tubuh. Ia sendirian di sana.

Mata gadis itu setia menatap ke ujung jalan dengan sebuah harapan, ia tak sabar segera sampai di rumah.

Cuaca hujan seperti ini ia paling suka duduk di dekat jendela sambil menulis puisi, tak lupa ditemani secangkir teh hangat. Baginya hujan adalah waktu terbaik untuk berimajinasi.

Entah berapa lama, hujan akhirnya reda, menyisakan rintik-rintik tipis. Namun, busnya belum juga datang.

Seira hanya mengembus napas panjang. Ia mungkin harus naik taksi dan mengabaikan rencana berhemat. Tangannya merogoh tas dan saat hendak dinyalakan, ponselnya mati.

“Ya tuhan, kenapa harus sekarang?” gumam Seira. Dia memasukkan ponsel ke dalam tas dan kembali menunggu.

Di seberang jalan, seorang pria sibuk dengan kamera. Sesekali ia mengusap titik-titik air di lensanya. Ia membidik pada objek yang ingin dipotret dan tak sengaja Seira masuk ke dalam frame.

Melihat hasilnya, Ansel tersenyum kecil. Ia berniat memotret pantulan lampu jalan pada genangan, tetapi gadis itu ikut tertangkap. Fotonya estetik, tetapi ia merasa tak enak karena mengambil gambar tanpa izin.

Ansel menyebrang jalan, menghampiri Seira. Seira melirik sekilas dan berpikir pria berkalung kamera itu juga menunggu seperti dirinya, sebelum akhirnya pria itu berbicara padanya.

“Maaf, aku nggak sengaja memotretmu. Kamu … terlihat seperti bagian dari hujan itu sendiri,” kata Ansel. Seira menoleh pada pria yang berbicara padanya.

Seira diam sesaat, mengerutkan kening mencoba memahami apa yang dikatakan pria asing itu. “Maksudnya?”

“Aku fotografer. Hujan biasanya memberiku banyak kejutan dan hal indah untuk kuabadikan.” Ansel mengangkat kameranya. “Dan sepertinya … kau jadi salah satunya,” lanjutnya.

Pipi Seira memanas lalu memalingkan wajah. Ingin rasanya ia segera pulang dan menyembunyikan wajah di bawah bantal.

“Maaf, kalau kamu nggak suka aku bisa menghapusnya,” kata Ansel. Dia menangkap ketidaknyamanan dari gerak-gerik gadis itu.

Seira kembali mengarahkan pandangan pada pria itu dan menggeleng. “nggak apa-apa, aku nggak masalah,” sahut Seira yang membuat Ansel mengembus napas lega.

Setelah itu tak ada percakapan, hening merayap di antara keduanya. Angin berembus pelan membuat hawa dingin kian menusuk. Ansel melihat gadis itu menggigil, cardigan tipis yang dikenakannya tak sepenuhnya bisa menahan udara.

“Busnya sering terlambat kalau hujan begini?” tanya Ansel memecah kebisuan.

“Entahlah … tapi sekarang rasanya seperti lama sekali,” sahut Seira tanpa mengalihkan pandangan dari ujung jalan.

“Mungkin busnya sudah lewat,” ucap Ansel. Seira berpikir yang dikatakan pria itu mungkin benar.

Ansel menatap jalan lalu beralih pada wajah gadis yang kedinginan di sampingnya. “Mau aku antar?” tawarnya.

Seira menoleh dan terdiam. Ini pertama kalinya ia melihat pria itu. Namanya pun belum tahu. Dan kini, ia malah menawarkan untuk mengantarnya pulang. Gadis itu melirik Ansel dari atas sampai bawah, tidak ada tanda-tanda penjahat.

Ansel menatap balik, seakan mengerti apa yang ada di kepala gadis itu. “Tenang saja, aku sukanya menangkap gambar bukan menangkap orang,” kata Ansel dengan sedikit bercanda. Seira menahan tawa.

“Di sini sepi, bagaimana kalau ada orang jahat?” tambah Ansel, sukses membuat Seira ketakutan. Ia diam saja, tak tahu harus menanggapi apa.

Kemudian pria itu menyebrang meninggalkan Seira seorang diri. Tak lama sebuah mobil putih berhenti di depannya. Kaca diturunkan dan Ansel tersenyum menatapnya.

“Masuklah, nggak usah takut, aku bukan orang jahat,” titah Ansel. Rintik tipis itu perlahan kembali deras.

Seira tak ada pilihan lain, ia pun masuk ke dalam mobil. Di dalam Ansel memberikan sebuah kartu nama untuk menyakinkannya. Seira menerima kartu nama, membaca sekilas dan mengembus napas lega.

Di sepanjang perjalanan, tak ada percakapan. Hening merayap di antara mereka. Ansel fokus pada jalan, sementara Seira menatap hujan dari jendela, membiarkan pikirannya melayang.

“Kalau sedang hujan begini, kota jadi kelihatan beda,” ucap Ansel pelan, memecah kebisuan.

“Dan, aku selalu menemukan momen indah untuk ku potret. Hujan memang seistimewa itu.” lanjutnya. Seira menoleh pada lawan bicaranya sekilas.

“Hujan itu menenangkan, damai dan kadang memberi inspirasi,” kata Seira. Pandangannya lurus ke depan menatap wiper yang menyeka titik-titik air di kaca.

“Oh, wow! Kita sepertinya sama.” Kali ini Ansel yang menoleh ke arah Seira dan terlihat antusias.

“Mungkin iya,” sahut Seira santai. “Tapi aku menulisnya bukan memotret,” lanjutnya lalu tergelak kecil.

“Kamu penulis?” lagi, kepala pria itu menoleh padanya, lalu kembali fokus ke jalan.

“Lebih tepatnya copywriter di Varsa Studio, creative agency.”

“Oh,” Ansel tersenyum tipis. “Pantas. Cara kamu memandang hujan beda.”

Setelah pertemuan itu, Ansel dan Seira kembali bertemu. Bukan karena hujan, melainkan pekerjaan.

Seira terkejut. Ternyata fotografer yang dimaksud atasannya beberapa hari lalu adalah Ansel, pria yang pernah ia temui di halte. Ia sempat berpikir hanya namanya yang sama, rupanya orangnya juga sama.

Mereka hanya berkenalan seperti baru pertama bertemu, sekadar formal di hadapan rekan kerja yang lain.

Ruang meeting dipenuhi suara lembaran kertas dan penjelasan singkat dari atasan Seira. Ansel duduk di seberang meja, kameranya terletak rapi di samping kursi. Sesekali ia mengangguk, mencatat hal-hal kecil yang menurutnya penting.

Sejak hari itu, Ansel dan Seira sering bertemu karena pekerjaan. Kadang di ruang meeting, kadang di lokasi pengambilan gambar, kadang hanya bertukar pesan singkat tentang revisi dan tenggat waktu. Percakapan mereka awalnya kaku, lalu pelan-pelan menemukan ritmenya sendiri.

“Cahaya di sini terlalu terang, silau!” ujar Seira sambil menatap layar kamera.

Ansel menurunkan kameranya sedikit. “Kalau aku geser sudutnya, ceritanya masih dapet?”

“Masih,” sahut Seira. “Asal nggak terlalu rapi. Klien kita suka yang terasa hidup.”

Ansel tersenyum samar. “Kamu melihat semuanya pakai perasaan.”

Seira meliriknya. “Dan kamu pakai apa?”

“Mata,” jawab Ansel ringan, lalu terkekeh. Seira dibuat sedikit jengkel olehnya, dan Ansel menyukai ekspresi itu yang menurutnya lucu.

Proyek berjalan tanpa banyak hambatan. Ide Seira dan visual Ansel saling mengisi, seolah memang dirancang untuk bertemu. Revisi berlangsung singkat, keputusan diambil cepat, dan hasilnya melampaui ekspektasi.

Setelah kerja sama itu berakhir, Ansel dan Seira masih sering bertemu. Bukan lagi di ruang meeting atau lokasi pemotretan, melainkan di tempat-tempat sederhana.

Kedai kopi, taman, toko buku, atau sekadar berjalan tanpa tujuan pasti. Mereka berbicara tentang banyak hal yang tak pernah masuk agenda proyek.

Ansel bercerita tentang perjalanan-perjalanan yang ingin ia tempuh, tentang kota-kota asing yang ingin ia abadikan.

"Aku ingin menjelajahi banyak kota dan memotret momen-momennya," kata Ansel. "Bukan karena pemandangannya, tapi karena setiap kota selalu menyimpan cerita yang berbeda."

"Kalau aku malah penasaran sama orang-orangnya," sahut Seira. "Karena setiap orang punya cerita yang berbeda, meski berada di tempat yang sama."

Ansel menoleh dan tersenyum. "Makanya kita cocok."

Seira mengernyit. "Karena?"

"Aku mengabadikan momennya."

"Dan aku menulis ceritanya," sambung Seira. Mereka saling pandang sejenak, lalu tergelak bersama.

Ansel kembali melanjutkan ceritanya. Ada binar di matanya setiap kali menyebut tempat-tempat yang belum pernah ia datangi, seolah dunia sudah menunggunya untuk dipotret.

Selain itu, mereka juga sering berbalas pesan. Kadang hanya sebuah kalimat. “Sudah lihat hasil fotonya?” atau “Ada ide baru untuk proyek besok?” tetapi seringkali berlanjut menjadi obrolan ringan tentang hal-hal kecil di sekitar mereka.

Seira mulai menantikan notifikasi itu. Begitu pun Ansel, diam-diam menunggu balasan Seira dengan sabar.

Tanpa disadari, percakapan itu menjadi bagian dari hari mereka. Sederhana, tetapi cukup untuk membuat jarak antara mereka semakin menyempit.

Sore itu, gerimis membasahi kota. Ansel memintanya bertemu di sebuah cafe, seolah ada hal penting yang ingin dibicarakan. Jujur saja, hatinya menaruh sedikit harapan.

Mereka duduk berhadapan, mata saling bertemu. Hening merayap di antara keduanya, cukup lama untuk membuat waktu terasa lambat. Musik mengalun, membuat suasana terasa tenang.

“Seira,” ucap Ansel akhirnya, memecah kebisuan. Ia diam sejenak, menarik napas pelan sebelum melanjutkan. Seira menatapnya dengan penuh tanya.

“Aku … aku dapat proyek ABC Landscapes di Australia,” kata Ansel mantap. Seketika, kalimat itu mematahkan harapan yang diam-diam tumbuh di dada Seira.

“Oh, ya,” jawab Seira, berusaha tersenyum. “Selamat! Akhirnya impianmu tercapai. Aku ikut senang!”

“Ini kesempatan besar untukku, Seira.”

“Kejarlah! Kesempatan seperti ini nggak datang dua kali,” sahut Seira, tetap tenang meski hatinya terasa perih.

“Kamu benar. Begitu ada tawaran, makanya aku langsung ambil.”

“Kamu fotografer hebat. Kamu memang pantas mendapatkannya.” Seira memuji. Setiap kalimatnya terasa seperti mata pisau, merobek harapan yang tersisa.

Ansel terdiam, mengatur napas sebelum melanjutkan perkataannya. “Aku nggak tahu kapan akan kembali,” tambahnya.

Kata-kata itu menusuk hati Seira lebih dalam, tetapi ia tetap menahan diri, menelan perih yang nyata.

Ansel mengantar Seira pulang. Mungkin ini adalah perjalanan terakhir mereka sebelum pria itu pergi.

Sebelum Seira turun dari mobil, Ansel menyerahkan sebuah amplop coklat. Gadis itu menatapnya bingung. “Apa ini?” tanyanya.

“Buka saja nanti, kamu akan tahu,” jawab Ansel.

Tangan Seira bergerak hendak membuka amplop, tetapi Ansel menahannya. “Buka saja nanti, dasar nakal,” ucapnya. Seira menyunggingkan senyum tipis, sedikit geli dengan kata-kata itu.

Malamnya, hujan turun dengan deras. Seira duduk di dekat jendela. Menatap titik-titik air di kaca, pikirannya melayang, seolah ikut pergi bersama seseorang yang pernah singgah dalam hidupnya.

Dentuman petir membuat Seira terperanjat. Namun, ia tak segera menutup jendela. Ia tetap betah di sana, walau sebagian tubuhnya terasa lembab.

Gadis itu teringat amplop dari Ansel tadi sore dan mengambilnya. Ia membuka perlahan lalu mengeluarkan isinya. Selembar foto berukuran cukup besar. Foto dirinya di halte waktu itu. Momen yang membawa Ansel ke hidupnya, kini terabadikan.

Seira memandangi gambar itu dengan senyum tipis. Namun di dalam hatinya, rasanya seperti ada sesuatu yang teriris.

“Saat hujan kau hadir, saat hujan pula kau pergi. Jejakmu tertinggal seperti genangan air di lubang jalan, tetap ada meski hujan telah reda,” gumamnya.

Selesai.

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (1)