Tunggal, Ika, dan Ikan-Ikan di Kedung Mayit
17. 17
Skrip ini masih diperiksa oleh kurator


1.     ETX. KEDUNG - SORE

Joyo, Ponco, Goro, dan Silo memancing di bawah pohon. Goro duduk paling pinggir di sebelah Silo. Tidak memancing. sibuk memainkan dahan kayu. Berkali-kali membetulkan letak topi pandannya yang melorot. Makmur memancing di pinggir jalan.


PONCO

Memangnya Gentho tidak pernah mendatangi kamu lagi, Mur?

SILO

Benar juga, ya? Sepertinya beberapa hari ini Gentho tak kelihatan batang hidungnya. Biasanya nongkrong di warung kopi di dekat Jembatan Mayit.

JOYO

Lagi kerja mungkin.

PONCO

Kerja apa?

SILO

Ya kerja merampoklah. Masak memulung sampah seperti kita.

PONCO

Jadi perampok mungkin enak, ya? Duitnya banyak.

JOYO

Iya kalau tidak ketangkap. Kalau ketangkap bisa digebuki sampai mati. Dicari-cari polisi. Ditembak kepalanya.

SILO

Benar kamu, yo. Tidak enak. Biar pun duitnya banyak, hidupnya tidak tenang. Yang paling enak, ya kita ini. Jadi gelandangan. Hidup merdeka. Tak perlu mikir macam-macam. Yang penting bisa makan. Di pasar banyak makanan. Pisang dan singkong di kebun juga ada. Tinggal ambil. Iya, to?

JOYO

Sebaiknya kita tidak sering-sering makan hasil curian!

SILO

Kenapa?

JOYO

Kata pak kiai, kalau makanan itu masuk perut, begitu kita mengucap “Alhamdulillah”, makanan di dalam perut kita itu langsung jadi racun!

SILO

Oh, kalau soal itu gampang! Aku tahu cara mengatasinya.

PONCO

Bagaimana?

SILO

Saat kita makan hasil curian, tidak usah pakai doa. Langsung kita embat. Gampang, kan?

PONCO

Iya, iya, iya. Bener juga, ya.

MAKMUR

Gentho masih mendatangiku! Seminggu yang lalu.

SILO

Kok, aku tidak melihatnya?

MAKMUR

Tentu saja tidak bisa.

SILO

Kalian bercinta?

MAKMUR

Ngawur! Gentho hanya membelai-belai rambut. Mukanya tampak sedih. Tak lama kemudian datang perempuan. Cantik sekali. Rambutnya sebahu. Kulitnya putih. Hidungnya mancung. Perempuan itu sepertinya ingin mengatakan sesuatu kepadaku. Tapi tidak jadi.

PONCO

Lha, kok? Kenapa?


MAKMUR

Tiba-tiba aku terjaga. Silo ngoroknya keras sekali. Seperti suara gergaji.


PONCO

O, alah! Ngimpi tho. Tak kira beneran!


Silo tertawa


SILO

Kalau pas tidur, memangnya aku ngorok?

MAKMUR

Tanya Ponco.

PONCO

Tidak ngorok. Hanya membuat telinga tuli.


SILO

Masak sih?

MAKMUR

Lo, kapan ibuku jadi manusia lagi?

SILO

Tanya itu lagi. Lagi-lagi itu yang ditanya. Baru juga nemu ibumu tiga hari. Mur, kalau dalam dongeng, pangeran kodok langsung berubah jadi manusia begitu ada yang menciumnya. Karena ini bukan dongeng, kamu harus sabar! Tapi kalau kamu mau buru-buru, bawa ke sini ibumu lalu kita bakar bareng-bareng.

MAKMUR

Jangan, to! Kasihan! Aku kan hanya bertanya.

JOYO

Makanya sabar! Tunggu hingga empat puluh hari!

MAKMUR

Ini baru tiga hari. Kurang tiga puluh tujuh hari lagi. Masih lama.

JOYO

Lama tak apa-apa. Yang penting ada yang diharapkan. Daripada kami?

MAKMUR

Kalau ibuku sudah jadi manusia, aku tidak akan tinggal lagi di kolong jembatan ini.

JOYO

Mau tinggal di mana?

MAKMUR

Cari kamar kontrakan. Biarpun hanya bedeng. Aku ingin membahagiakan ibuku. Hidupnya biar tenang. Tidak kedinginan. Tidak kena angin.

JOYO

Kita kan sudah lama bersama-sama? Sejak pindah dari Pasar Silir. Kenapa tidak tetap di sini saja? Susah senang bersama-sama. Kami kan belum mendapat bapak atau ibu seperti kamu?

MAKMUR

Aku hanya kasihan pada ibuku.

SILO

Biarkan kalau nanti Makmur mau pindah.

JOYO

Itu namanya tidak setia kawan!

SILO

Setia kawan itu hanya ada dalam dongeng. Dalam kehidupan nyata, ada kalanya kita harus egois.

JOYO

Jadi kamu mendukung kalau nanti Makmur meninggalkan kita?

SILO

Buat apa tinggal bersama dengan orang yang tak mau tinggal lagi bersama kita? Buat apa dipaksa-paksa?

PONCO

Aku setuju kalau nanti Makmur mau pindah dari kolong jembatan ini. Kasihan ibunya. Mungkin kalau aku yang mendapat ibu-bapak, aku akan melakukan hal sama. Tempat ini dingin. Bau lagi. Belum lagi kalau nanti Bengawan Solo meluap. Kita harus mengungsi.

JOYO

Kalian ternyata sama saja. Tidak suka kebersamaan. Maunya terpisah-pisah.

Joyo pindah tempat mancing.

SILO

Joyo, kenapa itu? Lagi menstruasi?

PONCO

Bukanlah seperti itu kelakuannya jika sedang ri?

MAKMUR

Aku tak peduli dianggap apa. Aku hanya ingin membahagiakan orang tuaku. Sebisa yang aku bisa. Apa lagi jika....


Tiba-tiba Makmur menyentakkan pancingan. Berdiri. Histeris.


MAKMUR

Aku menemukan bapakku. Aku ketemu bapakku! Ya Allah betapa beruntungnya aku mendapatkan bapak setelah sekian lama mendambakannya.


Makmur melemparkan ikan ke tepi bengawan, lalu menubruk. Memegangi erat-erat.


MAKMUR

Terima kasih Tuhan. Hari ini aku punya ibu dan bapak. Lengkap sudah hidup ini

Makmur mengangkat ikan di atas kepalanya. Tertawa sangat lebar. Teriak sangat keras.

MAKMUR

Ibu, aku sudah menemukan bapak.

SFX ; suara menggema.


FREZE

TAMAT

Kajen, 5 Desember 2022


***


Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Akhirnya, sampai juga pada halaman terakhir. Cerita yang sangat indah, sangat layak untuk difilmkan :)
1 tahun 2 bulan lalu