12. Rasa Bersalah
Skrip ini masih diperiksa oleh kurator

INT. RUMAH - TENGAH MALAM

Aksara mematikan rokoknya ke asbak lalu menuangkan minuman ke dalam gelas. Aurora pun menyodorkan gelasnya untuk meminta di isi juga.

AKSARA

Gue selalu nabung buat tiket ini

sampe akhirnya bisa gue dapetin.

Saat itu tinggal cari momen

yang tepat buat ngasih kejutan,

dan gue pikir setelah pernikahan bakal

jadi saat yang pas. Kebahagiaannya

bakal berlipat lipat. Tapi ternyata

Nada ga sempet dapet apa yang jadi mimpinya.

Semua itu gara-gara gue,

gue marah dan kecewa sama diri sendiri.

AURORA

Itu kan kecelakaan,

jangan jadi nyalahin diri sendiri.

AKSARA

Kalo saat itu gue merhatiin jalanan,

mungkin ga akan kejadian kaya gini.

AURORA

Berati kejadian itu juga

penyebab kenapa pas tadi kita neduh,

Lo diem terus pas hujan?

AKSARA

Setiap hujan apalagi petir,

kejadian itu tiba-tiba terlintas di kepala.

Tiket ini mau gue kasih ke Nada pas

di mobil sepulang pernikahan.

Gue simpen tiketnya di dashboard depan dia

biar dia bisa langsung ngebuka,

tapi momen itu ga keburu.

 

AURORA

Jadi unfinished business

yang lo maksud adalah karena

lo belom sempet ngasih tiket itu?

AKSARA

Bukan cuma itu, gue ngerasa masih

terlalu banyak utang janji yang

gue ga sempet bayar ke Nada.

Salah satunya mimpi dia yang ini.

Aksara menyimpan tiket itu di meja lalu mengambil sebatang rokok dan menyalakannya.

AURORA

Kenapa ga coba untuk bayar

semua mimpi itu sendiri,

Istri lo juga pasti pengen lo bahagia.

AKSARA

Buat apa? Mimpi ini milik berdua,

rasanya ga akan sama kalo

gue ngelkuin semua itu sendiri.

AURORA

Tapi Nada akan lebih sedih kalo ternyata

mimpinya ga lo lanjutin, kalo ngeliat lo malah

terus nyalahin diri sendiri kaya gini.

AKSARA

Lo tau apa? Lo bahkan

ga pernah ngerasain

apa yang gue rasain!

Aksara menghisap rokok yang Ia pegang, setelah itu ia meundukan kepalanya ke arah kedua lututnya. Nafasnya mulai tak beraturan, Ia coba untuk menahan tangis tapi tangisan itu tak tertahan.

AURORA

Hey...Aksa.

Aurora memanggil aksara dengan nada pelan, wajahnya berubah prihatin melihat kondisi Aksara. Aurosa turun dari kursi lalu duduk di samping Aksara dan terus menatapnya.

AURORA

Semuanya udah takdir,

lo gaboleh nyalahin diri

lo terus atas semua yang terjadi.

AKSARA

Sekarang bahkan Nada ga akan

bahagia di sana kalo ngeliat

gue kaya gini, tapi gue

gatau harus gimana lagi.

AURORA

Ini pertama kalinya lo ngungkapin

perasaan lo tentang semua yang

selama ini lo tanggung sendiri.

wajar kalo semua emosi jadi campur aduk,

lepasin aja, gue siap dengerin apapun.

Aurora merangkul pundak Aksara yang masih tertunduk dan menagis. Kepala Aksara perlahan jatuh bersandar pada Aurora yang berada di sampingnya.

AKSARA

Gue ngerasa bersalah ke semua orang,

gue ngecewain semua orang.

Aksara menatap pada foto Ia bersama teman-temannya yang berada di dinding. Aurora pun ikut menatap ke arah yang sama.

AKSARA

Gue ngecewain mereka,

padahal mereka temen paling setia

dari jaman sekolah.

Gue, Nada, Cakra, Benny, Vica dan Gina.

ita selalu bareng dari dulu.

AURORA

Ngecewain gimana?

AKSARA

Gue gatau apa yang ada

di pikiran saat itu,

gue marah, sedih, bingung.

Gue malah nyalahin mereka

atas kematian Nada dengan

alasan yang mungkin sangat ga jelas.

INT. RUMAH SAKIT - sore (FLASHBACK)

Kamar VIP rumah sakit dengan satu tempat tidur pasien. Tempat tidur itu kosong, suasana disana hening. Aksara berada di depan jendela duduk di kursi rodanya sambil menatap keluar, di sampingnya Tiara duduk disofa. Keheningan terpecah oleh suara pintu yang terbuka, Cakra, Benny, Vica dan Gina masuk. Benny membawa bingkisan berisi buah buahan dan Gina membawa bunga. Tiara berdiri untuk menyapa mereka.

TIARA

Eh ada temen-temen Kak Aksa.

Ayo masuk-masuk.

Tiara menghampiri mereka lalu menerima bingkisan dari Benny dan bunga dari Gina.

AKSARA

Ngapain lo semua kesini?

Aksara berbicara dengan masih menghadap jendela dan tidak menatap kedatangan teman-temannya. Cakra menatap Tiara dan di balas oleh gelengan kepala dari Tiara. Tiara pun menyimpan pemberian dari Teman-teman Aksara dan berdiri di belakang mereka.

BENNY

Kita pengen liat kondisi lo.

GINA

Kita cepet-cepet kesini setelah

denger kabar lo siuman.

AKSARA

Emang apa bagusnya gue siuman?

TIARA

Kak! Jangan ngomong gitu ah.

Cakra menghampiri Aksara yang berada dekat jendela lalu berjongkok di depan Aksara.

CAKRA

Gue tau lo sedih. Bukan cuman Lo,

kita semua juga ngerasa kehilangan.

Lo sama Nada itu bagian dari kita,

kita peduli sama kalian.

AKSARA

Semua salah gue Cak,

gue yang bikin Nada pergi

untuk selamanya.

VICA

Itu kecelakaan sa,

bukan Lo yang salah.

BENNY

Iya sa, Kita bersyukur lo selamet

dan masih bisa ketemu sama Lo.

AKSARA

Buat apa selamet tapi

hidup dengan rasa bersalah?

CAKRA

Sa...

Aksara berbalik dari kursi rodanya menghadap kepada teman-temannya.

AKSARA

Atau ternyata ini semua

salah kalian semua?

GINA

Maksud lo?

AKSARA

Haha, bener, mungkin yang

seharusnya di salahkan itu lo semua.

CAKRA

Ga ada yang salah sa,

lo lagi ga stabil aja.

AKSARA

Kalo Gue sama Nada ga ngobrol

sama kalian sampe sore pas hari

pernikahan itu. Mungkin kecelakaan itu

ga akan terjadi, Gue dan Nada

bisa pulang kerumah dengan

selamat sebelum hujan turun.

VICA

Kok lo mikir kaya gitu sih?

BENNY

Ngomong apa sih lo?

AKSARA

Kalian iri kan gue sama Nada nikah?

kalian ngehalangin gue buat pulang

saat itu karena kalian tau

bakal turun hujan.

GINA

Ngawur ni anak...

Cakra berdiri lalu berjalan ke arah teman-temannya dan berusaha melerai.

CAKRA

Kita paham kondisi lo masih

dalam masa trauma, lo baru aja kehilangan.

Tapi apa yang lo bilang barusan itu aneh,

ini bukan Aksara yang kita kenal.

Mungkin Lo butuh waktu sendiri buat tenangin diri.

Kalo gitu kita balik aja,

Semoga lo cepet sembuh dan membaik ya.

Teman-teman Aksara berjalan menuju pintu keluar dari ruangan itu. Cakra mendekati Aksara lalu berbisik padanya.

CAKRA

Baru kali ini gue kecewa sama Lo.

Ini bukan Aksara.

Cakra lalu meningkalkan Aksara yang kembali menghadap jendela. Sebelum keluar Cakra berbicara sedikit kepada Tiara.

TIARA

Maaf ya kak, aku gatau

kenapa Kak Aksa kaya gitu.

CAKRA

Kalo ada apa-apa hubungi gue,

jangan yang lain. Oke?

Tiara mengangguk, Cakra pun keluar dari ruangan. 

Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar