11. Sebuah Janji
Skrip ini masih diperiksa oleh kurator

INT. RUMAH - TENGAH MALAM

AKSARA

Saat itu Gue udah gapeduli

sama apa yang terjadi di diri sendiri.

Gue melakukan semua kebodohan itu seperti rutinitas.

Dulu Gue sangat benci dengan gaya hidup kaya gitu,

bahkan dulu ngerokok pun engga. Sampai sekarang

gue masih benci dengan gaya hidup itu.

Cuman bedanya, dulu gue benci untuk

melakukan semua itu.

Sekarang gue benci karena

harus melakukan semua itu.

Aurora

Gue da pernah ngerasain masalah kaya lo sih,

tapi lima tahun untuk depresi tuh lama banget loh.

AKSARA

Gue gatau harus kaya gimana.

Aurora

Tapi selain kejadian itu,

pasti ada yang bikin lo sangat

terpukul sampe kaya gini, bener ga?

AKSARA

Ada, mungkin banyak.

Aurora

Sorry nih kalo gue kepo,

tapi salah satunya apa ada hubungannya

sama tiket yang jatoh waktu di cafe?

Aksara mengangguk lalu mengambil tiket itu dari jaket yang tergantung di sisi sofa. Ia menggenggamnya dan ia perhatikan.

AKSARA

Unfinished business...

EXT. PADANG RUMPUT - SORE (FLASHBACK)

Angin bertiup dan menggugurkan beberapa daun dari pepohonan ke padang rumput yang luas. Matahari perlahan mulai tengelam dan sinarnya berunah menjadi kuning. Ditengah padang rumput itu Aksara dan Nada berbaring bersebelahan. Tak jauh dari posisi mereka dibawah pohon terdapat karpet dan peralatan piknik.

NADA

Aku penasaran, apa manusia yang

jaraknya jauh entah dimana

juga ngeliat langit yang sama?

Aksara menoleh ke arah Nada.

NADA

Atau mungkin langit di tempat

lain jauh lebih indah?

AKSARA

Langit disemua tempat juga sama aja kali.

NADA

Jangan sotau, kita kan belom

pernah liat langit selain di sini.

AKSARA

Ya kan langit dimana-mana sama aja, biru.

Nada menoleh ke arah Aksara denan tatapan sinis lalu kembali melihat langit.

NADA

Tapi apa semua orang menikmati

langit? atau cuman kita ya?

AKSARA

Maksudnya tiduran di padang

rumput kaya gini?

NADA

Heem...

AKSARA

Padang rumput gini kan sekarang

jarang, kebanyakan perkotaan doang.

NADA

Ada juga kok padang rumput di perkotaan,

kaya bawah menara Eiffel di Paris.

AKSARA

Itu taman sayang.

NADA

Tapi ada rumputnya kan.

AKSARA

Iya sih...

NADA

Aku pengen deh kesana...

Nada membalikan tubuhnya menghadap Aksara, sebelah tangannya menopang kepalanya.

NADA

Pokoknya nanti setelah nikah,

aku pengen bulan madu kesana.

AKSARA

Aku juga pengen sih, tapi kan jauh,

biayanya mahal juga sedangkan

aku masih belom bisa.

NADA

Dih gapunya mimpi banget orangnya tuh.

Nada kembali merebahkan badannya dan menatap langit

AKSARA

Bukan gitu.

NADA

Pokonya aku mau kesana sama kamu,

kita nikmatin langit lagi kaya gini.

Aku ga peduli kapan, sebisanya kita aja,

yang penting aku maunya sama kamu.

Aksara terbangun lalu duduk dan melihat ke arah Nada lalu mengacungkan kelingkingnya.

AKSARA

Aku ga berani janji buat

bawa kamu kesana secepatnya,

tapi aku berani janji gak akan

pernah berhenti berusaha

untuk mimpi kita.

Nada bangkit lalu mengaitkan jari kelingingnya pada jari Aksara lalu tersenyum.

NADA

Pinky promise. 

Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar