Dzikir Sebuah Cincin Retak
Penulis: Encep Nazori
Drama
Kategori
13,849
Dilihat
74
Suka
Blurb
Hamid dan Murni telah menjalani kisah asmaranya selama kurang lebih dua tahun. Saat asmaranya sedang bertahta di atas puncak kejayaan, tiba-tiba Murni menyatakan harus pergi ke negeri tetangga demi untuk mengadu nasib karena keadaan.
Kini Hamid harus tinggal jauh terpisah dari kekasihnya di saat media komunikasi hanya lewat surat-menyurat atau telepon jika dana mendukung. Hanya sebuah cincin pemberian Murni yang menemaninya kemanapun ia melangkah.
Dalam kegalauannya, Hamid sempat melayangkan tinjunya ke sebuah lemari kayu hingga membuat cincinnya retak. Pikiran buruk mulai menguasainya. Apakah itu pertanda hubungannya dengan Murni akan retak juga? Apakah Murni akan meninggalkannya untuk selamanya? Sejak saat itu, cincin retak yang melingkar di jari manisnya selalu menghantui perasaannya, bahkan menjadikannya seperti orang yang sakit jiwa.
Premis
Pemuda yang baru mengenal cinta ditinggalkan kekasihnya yang pergi merantau dengan kenangan sebuah cincin yang selalu menghantui perasaannya tapi memberinya pelajaran berharga
Pengenalan Tokoh
HAMID:
Pemuda 23 tahun dengan tinggi badan sedang, rambut hitam lurus, kulit sawo matang, berwajah tenang, penuh semangat, tipe pemikir, agak pencemas, religius

MURNI:
Gadis 17 tahun, tinggi semampai, berkulit cerah, rambut panjang lurus natural, hidung mancung, bermata lentik, cukup dewasa, profesional, realistis

LIA:
Gadis 16 tahun, tinggi dan berat badan proporsional, berwajah ceria dan mempesona, kulit putih bersih, bermata indah, berkerudung, prihatin, sabar, patuh kepada orang tua, taat aturan
Sinopsis
Selama di Pondok, Hamid tidak pernah mengenal namanya cinta. Apalagi di pondoknya hanya ada kaum adam. Sebelum lulus, ia sempat kenal dengan seorang gadis di kampungnya yang membuat ia mabuk kepayang. Gadis tersebut bernama Murni.

Saat cinta sedang bersemi, gadis pujaannya pergi merantau ke Brunei Darussalam selama dua tahun lebih. Sebelum pergi merantau, Murni menyelipkan sebuah cincin di jari Hamid. Cincin itulah yang setia menemani Hamid kemanapun Hamid melangkah. Berhubung saat itu handphone belum ada, komunikasi makin tersendat. Paling hanya lewat surat atau lewat telepon jika dana mendukung. Keadaan seperti itu membuat ia makin terganggu batinnya, hingga ia sering kali berprasangka yang bukan-bukan terhadap Murni. Dalam keadaan galau, Hamid melayangkan tinjunya pada sebuah lemari kayu hingga menyebabkan cincin pemberian Murni retak.

Melalui surat, Hamid menceritakan apa yang terjadi kepada Murni. Ia juga menyampaikan bahwa sempat terpikir akan melepaskan dirinya dari Murni. Tapi bukan berarti ia mempunyai gadis pilihan yang lain. Ia hanya merasa keadaannya yang masih belum mapan sehingga tidak pantas untuk bersanding dengan Murni. Mendengar kabar yang kurang manis itu membuat Murni kecewa dan memutuskan tali cintanya terhadap Hamid dengan alasan sepupunya yang bernama Diah menghalanginya untuk berhubungan dengan Hamid. Sedangkan Hamid sama sekali tidak ada hubungan apa-apa dengan sepupunya itu. Hamid pun menjelaskan perkara yang sebenarnya dan pada hakikatnya Murni pun mau menerima alasan Hamid. Akan tetapi, sejak kejadian itu perasaan buruk selalu menghantuinya setiap kali ia melakukan berbagai macam aktivitas. Ia menjadi begitu peka dan sensitif saat melihat atau mendengar sesuatu. Adakalanya ia mendengar lagu romantis yang menceritakan tentang kerinduan seorang gadis kepada kekasihnya, maka dengan spontan ia akan ikut terbawa perasaannya. Ia membayangkan bahwa Murni juga sedang merindukannya yang menyebabkan timbulnya rasa bahagia pada dirinya karena dirindukan. Sebaliknya juga demikian. Saat ia mendengarkan lagu kerinduan seorang pria karena ditinggal kekasihnya, maka ia juga akan hanyut ke dalam perasaan yang sedih dan menusuk hatinya.

Yang paling parah adalah setiap kali ia menemukan atau melihat dua buah benda yang sama, ia selalu menganalogikan kedua benda tersebut bagaikan dirinya dengan Murni. Ketika melihat salah satunya ada yang kurang, maka ia melihat bahwa salah satu di antara mereka berdua juga ada yang kurang. Misalnya saat ia melihat dua buah gelas yang sama dengan volume air yang berbeda, maka ia akan membaginya dengan rata dengan cara menuangkan gelas yang airnya berisi banyak ke dalam gelas yang airnya berisi sedikit hingga akhirnya dibuat sama rata. Pernah terjadi juga saat ia melihat dua buah kertas berbentuk lingkaran berwarna merah muda terserak di tempat yang berbeda. Tanpa rasa segan, ia segera mengumpulkan kedua kertas itu pada suatu tempat yang aman. Hal itu dilakukannya agar dirinya dan Murni menyatu dalam tempat yang aman juga.

Karena seringnya perasaan itu timbul dalam dirinya, lama-lama membuat mentalnya lemah. Beberapa kali ia menghubungi Murni sekedar melepas rasa rindu yang menggelayutinya atau juga memastikan keadaan Murni baik-baik saja dan masih tetap mencintainya. Akan tetapi setiap kali menghubunginya lewat telepon, selalu saja rasa khawatir itu tetap muncul dalam benaknya. Pikiran-pikiran negatif kerap kali mencabik-cabik perasaannya.

Begitu lama tak ada kabar dari Murni, sampai akhirnya Murni mengirimkan surat kepada Hamid dan memohon maaf atas perlakuannya terhadap Hamid karena telah memutuskan cintanya. Hamid menyangka bahwa surat dan permohonan maaf itu merupakan sinyal hijau baginya sehingga kemungkinan besar Murni akan kembali kepadanya. Namun seribu kali sayang, permohonan maaf itu adalah benar-benar permohonan maaf yang hakiki tanpa embel-embel dan harapan setitik pun, dua pekan setelah datangnya surat itu, Murni malah menikah dengan pria lain sekembalinya dari Brunei .

Hamid benar-benar putus asa dan membenci semua gadis tanpa terkecuali. Ia menganggap bahwa semua gadis hanya mau enaknya saja, tak mengerti arti perihnya rindu bak teriris sembilu. Dalam kehancuran hati, ia tetap melanjutkan kuliahnya yang nyaris hancur karena masalah asmara. Namun ia juga melakukan refleksi diri, bahwa rasa cinta yang berlebihan akan membuat seseorang akan terpuruk dan terganggu mentalnya. Rasa curiga dan prasangka buruk terhadap pasangan hanya akan melahirkan krisis kepercayaan yang dapat menghancurkan hubungan asmara antara keduanya.

Kepedihannya mulai berakhir ketika ia ingat dengan seorang gadis yang dulu sempat dikenalnya saat ia mengisi pesantren kilat di kampung. Ia adalah Lia, gadis cantik yang sederhana dan taat kepada orang tua. Entah kenapa saat itu ia mulai tergugah untuk menjalin tali silaturahmi dengannya, hingga akhirnya Lia berhasil mengobati hati Hamid dan Hamid pun bertekad mempersuntingnya. Kini keduanya hidup berbahagia dalam keluarga yang penuh dengan ketenteraman.
#1
SCENE 1 INT, ASRAMA PONDOK, DINI HARI
#2
SCENE 2 EXT, GEDUNG BELAJAR DAN SEKITARNYA, PAGI
#3
SCENE 3 INT, AULA PONDOK, PAGI
#4
SCENE 4 INT, DALAM BUS LORENA, MADIUN, MENJELANG MAGHRIB
#5
SCENE 5 EXT/INT, DESA BAYUR KIDUL, RUMAH ASIH, KARAWANG, PAGI
#6
SCENE 6 EXT, TOKO KELONTONG, SENJA
#7
SCENE 7 INT, RUMAH ASIH, MALAM IDUL FITRI
#8
SCENE 8 EXT, MASJID DAN SEKITARNYA, PAGI
#9
SCENE 9 INT, KAMAR MURNI, MALAM
#10
SCENE 10 EXT/INT, BINTARO, CIPUTAT, PAGI HARI
#11
SCENE 11 EXT, RUMAH CING INAH, PAGI
#12
SCENE 12 EXT, PONDOK, GEDUNG BELAJAR SANTRI, SIANG
#13
SCENE 13 EXT, PONOROGO, SORE
#14
SCENE 14 INT, DALAM KAMAR RUKO BAKSO, SORE
#15
SCENE 15 EXT/INT, LUMBUNG PADI, KARAWANG, SENJA
#16
SCENE 16 EXT/INT, RUMAH ASIH, SORE
#17
SCENE 17 EXT, WARUNG BAKSO, PEKARANGAN BELAKANG, PAGI
#18
SCENE 18 INT, KAMAR WARUNG BAKSO, MALAM
#19
SCENE 19 EXT, WARUNG BAKSO PAGI HARI
#20
SCENE 20 EXT, PURWANTORO, PAGI HARI
#21
SCENE 21 EXT/INT, POOL BUS SEDYA MULYA, WONOGIRI, SIANG
#22
SCENE 22 EXT, PURWANTORO, SIANG
#23
SCENE 23 EXT, ALUN-ALUN PONOROGO, SORE
#24
SCENE 24 EXT, JALAN RAYA PONOROGO, MENJELANG MAGHRIB
#25
SCENE 25 INT, RUMAH SAKIT, PONOROGO MALAM
#26
SCENE 26, EXT, WARUNG BAKSO, PONOROGO, SORE
#27
SCENE 27 INT, MUSHALLA, KARAWANG, SORE
#28
SCENE 28 EXT, LAPANGAN DEKAT SAWAH, PAGI
#29
SCENE 29 EXT/INT, RESTORAN PANTAI, BRUNEI, SIANG
#30
SCENE 30 EXT/INT, RUMAH LIA, BA"DA DZUHUR
#31
SCENE 31 EXT, RUMAH ASIH, PAGI
#32
SCENE 32 EXT, RUMAH LIA, PAGI
#33
SCENE 33: kampus UIN, pagi
#34
SCENE 34 EXT/INT, RUMAH CING INAH, MENJELANG SIANG
#35
SCENE 35 EXT/INT, RUMAH BI FITRI, SIANG
#36
SCENE 36 EXT/INT,PERUM MAYANG PRATAMA, BEKASI, SIANG
#37
SCENE 37 INT, RUMAH BI FITRI, BEKASI, MALAM
#38
SCENE 38 EXT, PERKOTAAN SLIPI, SIANG
#39
SCENE 39 INT, DALAM BUS STEADY SAFE
#40
SCENE 40 INT, RUMAH CING INAH, KAMAR HAMID, PAGI
#41
SCENE 41 INT, WARTEL, PAGI MENJELANG SIANG
#42
SCENE 42 INT, RUMAH BI FITRI, SIANG
#43
SCENE 43 INT, BINTARO PLAZA, KANTIN, SORE
#44
SCENE 44 EXT, KEBUN DEKAT REL KERETA API, SORE
#45
SCENE 45 EXT/INT, SEBUAH TAMAN & KAMAR HAMID
#46
SCENE 46 INT/EXT, WARTEL CIPUTAT VS RESTORAN BRUNEI, BA"DA MAGHRIB
#47
SCENE 47 EXT, RUMAH CING INAH, CIPUTAT, PAGI
#48
SCENE 48 EXT/INT, KANTIN KAMPUS, SIANG
#49
SCENE 49 INT, RUMAH BI FITRI, BEKASI, SORE
#50
SCENE 50 EXT/INT, RUMAH CING INAH, CIPUTAT, SIANG
#51
SCENE 51 INT, RUMAH CING INAH, KAMAR HAMID, CIPUTAT, SIANG
#52
SCENE 52 EXT, RUMAH CING INAH, CIPUTAT, PAGI
#53
SCENE 53 INT, TOKO ASIH, BA'DA MAGHRIB
#54
SCENE 54 EXT, MUSHALLA, MALAM, PULANG TARAWIH
#55
SCENE 55 EXT/INT, RUMAH ASIH, PULANG TARAWIH
#56
SCENE 56 EXT, RUMAH ASIH, KARAWANG, PAGI
#57
SCENE 57 INT, DALAM BUS WARGA BARU, SIANG
#58
SCENE 58 EXT, TERAS RUMAH CING INAH, MALAM
#59
SCENE 59 EXT, PESTA PERNIKAHAN, RUMAH MURNI, PAGI
#60
SCENE 60 EXT, AREA PESAWAHAN, KARAWANG, SIANG
#61
SCENE 61 INT, RUMAH BI FITRI, KAMAR LIA DI LANTAI 2, SORE
#62
SCENE 62 EXT/INT, MUSHALLA, KARAWANG, DZUHUR
#63
SCENE 63 EXT, WARUNG ASIH, SORE
#64
SCENE 64 EXT, RUMAH CING INAH, PAGI
#65
SCENE 65 EXT, RUMAH CING INAH, TERAS, PAGI
#66
SCENE 66, PERUM MAYANG PRATAMA, BEKASI, SIANG
#67
SCENE 67 EXT, RUMAH NENEK LIA, PAGI
#68
SCENE 68 EXT/INT, RUMAH BARU, BOGOR
Rekomendasi