Anona

Sita mengembuskan napas kesal. Dia dipaksa pindah rumah oleh kedua orangtuanya dikarenakan rumah yang dulu tanpa alasan jelas dijual. 

Kini Sita dan kedua orang tuanya sudah sampai ke rumah barunya. Rumah minimalis bernuansa di perdesaan dengan udara yang sangat sejuk. 

"Ma, kita tinggal di desa?" Sita mengeluh. Tanda tidak suka. 

Mama mengangguk. "Iya, Sayang."

Sita menggerutu. "Tapi, Ma?"

Papa mengacak rambut Sita pelan. "Sayang, kamu harus nurut kata orang tua, ya?" Papa mengehela napas. "Alasan kami pindah ke sini demi kebaikan kita semua."

Sita tidak mengerti maksud Papanya. Gadis berkepang dua itu manyun. "Apa alasannya, Pa?"

Papa hanya tersenyum. 

"Masuk ke dalam, yuk, " ajak Mama menarik lengan Sita masuk ke dalam. 

Begitu masuk ke dalam, Sita merasakan ada aura mistis, yang entah itu apa. Gadis itu mengengam erat tangan Mamanya. "Ma, Sita takut."

Mama mengembuskan napas, mengacak rambut Sita. "Nggak perlu ada yang ditakutin, Sayang."

Sita berusaha menenangkan pikiran buruk. Ya, walaupun dia merasa ada yang aneh dengan rumah yang dibeli Papa. 

Papa menyusul masuk, membawa dua koper yang langsung dibawa ke lantai atas.  

"Ma, Sita, naik ke sini, " ujar Papa, mendongakkan kepala.

Sita dan Mama menaiki lantai atas. 

"Nah, Papa udah beresin semuanya, " ucap Papa riang. "Untung kemarin Papa udah minta tolong salah satu warga buat bersihin rumah ini. Jadi, tinggal kita tempati saja."

Mama dan Sita mengangguk. Sita memegangi tengkuknya. Dia kembali merasakan ada yang aneh di rumah ini. 

Sita kemudian berjalan menyusuri lorong beberapa kamar yang kosong. Langkah Sita terhenti saat berada di kamar ujung sendiri yang pintunya terbuka. Karena penasaran, gadis berkepang dua itu masuk. Suasana kamar sangat gelap, hanya terpancar lampu yang tidak terlalu terang. Mungkin rumah ini sudah sangat lama tidak ditinggali oleh pemilik sebelumnya.  

Sita mengedikkan bahu. Aura di kamar ini sangat tidak mengenakkan baginya. 

Sita berlalu keluar, lalu membawa koper ke kamar setelah Mama bergegas dari kamarnya. 

"Agak menyeramkan, sih, " gumam Sita, mengedarkan pandangan. "Mungkin hanya perasaanku aja."

Saat Sita hendak membalikkan badan, Sita tak sengaja melihat sebuah foto dalam keadaan terbalik. Karena penasaran, gadis itu mengambil dan melihat foto apakah itu. Sita tak bisa melihat jelas foto tersebut, karena sudah usang. 

"Mungkin foto pemilik lama, " ucapnya lirih.  

Akhirnya, Sita memilih menyimpan foto itu di dalam kopernya.  

"Capek banget rasanya, " gumam Sita, lalu merebahkan tubuh di kasur. 

Suara ketokan jendela terdengar dari luar. Segera, Sita membukanya. Seorang gadis bermuka jawa tulen, berambut digelung berdiri di depan jendela.

"Hai, kamu penghuni baru di sini, ya?" tanyanya ramah. 

Sita mengangguk. "Kamu siapa?"

"Aku Anona, " jawab perempuan yang bernama Anona.  

Sita mengulurkan tangan dari dalam. "Aku Sita, " jawabnya. "Kamu tinggal di mana, Anona?"

Anona menunjuk rumah yang ditepati Sita. "Ini rumah saya," jawabnya. 

"Jadi?" Sita berjalan mundur, mulai ketakutan. 

Wajah perempuan bernama Anona berubah menjadi menyeramkan.  

"Siapa saja perempuan yang belum dewasa menempati rumah ini akan bernasib sama denganku, " ucap Anona, terkekeh.

Sita berteriak.

Mama dan Papa yang mendengar teriakan langsung menuju kamar Sita. Terlambat, Sita sudah meninggal dalam kondisi mengenaskan. Kepalanya berlumuran darah.  

11 disukai 1.3K dilihat
Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Saran Flash Fiction