Kupikir itu cinta

Semua berawal saat aku mengaggumi teman kuliahku, Ramdan namanya. Ya, sudah tiga tahun aku menaruh rasa padanya. Bagaimanapun aku harus berpura-pura bersikap biasa saat berbicara dengannya, padahal rasanya seperti disambar petir dan membuat hati berdebar-debar lebih kencang dari biasanya.

Suatu hari aku sedang duduk di taman kampus sekadar duduk santai sambil menegak minuman es teh yang tadi kubeli. Tiba-tiba saja Ramdan menghampiriku dan duduk di sebelahku. Rasa grogi mulai menyerang, rasanya jantung akan copot. Tetapi , bagaimanapun aku harus tetap biasa saat dihadapannya.

“Ada apa, Ndan?” tanyaku pada Ramdan.

“Kamu semester ini udah ambil skripsi, Win?”

Aku hanya mengangguk. “Udah, Ndan.”

“Sama, lah. Dosen pembimbingmu siapa?” tanya Ramdan lagi. 

“Bu Farida.”

“Sama, dong. Besok kalau bimbingan bareng, ya, Win?”

Spontan ajakan Ramdan untuk bimbingan bersama membuatku melayang tinggi. Duh, jadi gede rasa. Lagi-lagi aku hanya mengangguk sambil tersenyum tidak jelas. 

 Tanpa aku sadari, temanku Ratna menghampiri dan mengagetkanku. Seketika jantungku rasanya mau copot. 

“Pacaran di sini rupanya,” ledek Ratna, spontan membuat tanganku menaboknya. Raut muka Ratna berubah menjadi merah karena mungkin aku menabok tangannya terlalu keras. Ratna memang orangnya suka asal kalau berbicara. Ya, di lain sisi ada yang kutakutkan jika Ratna keceplosan bilang pada Ramdan kalau aku suka sama dia. Brabe, dan tamatlah riwayatku.

“Ngasal aja kalau ngomong, orang aku baru bicarain masalah skripsi,” jawabku dengan nada tinggi.

“Ehem …, Winda ngambek.” Ratna mendehem ke arahku sambil menjulurkan lidahnya. Menyebalkan sekali. Rasanya ingin sekali aku menjitaknya, tapi niat tersebut kuurungkan karena ada Ramdan.

Aku hanya terdiam, malas menaggapi tingkah Ratna yang menyebalkan itu. 

***

Semenjak saat itu, aku dan Ramdan sering bimbingan bersama, kami semakin dekat. Ya seperti hari ini, kami menemui Bu Farida yang sudah menunggu di ruangan. Aku dan Ramdan lalu menyodorkan kertas skripsi kami yang langsung dikoreksi Bu Farida.

“Sudah saya cek. Saya rasa kalian bisa langsung sidang,” ucap Bu Farida.

Aku dan Ramdan saling pandang. Ada senyuman di wajahnya. Duh, jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya.

Setelah urusan kami selesai, kami keluar dari ruangan. Tiba-tiba, Ramdan memegang tanganku dengan erat. Tadi malam aku mimpi apa, sih?

“Winda, terima kasih ya selama ini kamu sudah mau bareng bimbingan bareng sama aku, ngerjain skripsi bareng aku,” ucapnya. 

Dengan wajah malu-malu aku menjawab,”Iya, Ramdan. Aku juga seneng bisa sama-sama terus sama kamu.”

“Sayang.” Sebuah suara perempuan menghampiri kami. Siapa dia? Perasaanku mulai tidak enak. 

“Hai, Sayang,” jawab Ramdan.

Hah? Ramdan panggil dia sayang? Tandanya?

“Kenalin ini pacarku namanya Nia,” ucap Ramdan.

Hatiku rasanya seperti disambar petir di siang bolong. Jadi , selama ini Ramdan hanya memanfaatkanku saja?

Aku berusaha tersenyum meskipun hatiku rasanya sakit bukan main.

“Aku Winda, teman Ramdan,” jawabku.

Ramdan dan perempuan bernama Nia berpamitan dari hadapanku. Hatiku miris. Mungkin benar, aku terlalu gede rasa menanggapi perhatian Ramdan selama ini, yang ternyata sudah punya pacar. Duh malunya aku, apa yang aku katakanan pada Ratna, pasti dia akan mengejekku habis-habisan.

“Jangan ge-er makanya” ucap Ratna yang langsung mengagetkanku.

Aku meringis malu. “Sial banget, sih. Aku yang berjuang, yang dapati dia orang lain.”

11 disukai 2 komentar 5.3K dilihat
Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
wkw jgn ngejek gitu lah :v
wkkw aku tahu ini hahaha winnnnn
Saran Flash Fiction