Spidol Biru

"Punya aku!"

"Punya aku!"

"Woi! Ravi! Putra! Saya! Jangan aku!"

"Punya saya!"

"Punya saya!"

"Om! Itu spidolku! Kamu bohong!"

"Nggak! Itu spidolku! Kamu nakal!"

"Woi! Siapa pula yang sebenarnya nakal? Dan om sudah bilang jangan aku! Ganti saya!"

"Om galak! Itu spidol Ravi!" rengek Ravi tak kalah dengan bocil satunya.

Putra ikut merengek. "Om jahat! Itu punya Putra. Ravi ngambil dari Putra."

Rian mengenggam spidol biru sangat santai. "Untuk om aja kalau kalian kayak gitu."

"Jangan! Nggak boleh!" pekik mereka.

"Om bakar nih! Nama om siapa?"

"Nama om gelay," jawab Putra membuat Rian mendelik.

"Siapa yang ngajarin? Nggak suka om denger kata itu!"

Putra tertawa. Rian menggeleng-geleng.

"Om jelek! Spidolku!!!" amarah Ravi memuncak.

"Satu lagi bocah ini! Nggak ada yang bener manggil nama om. Om buang aja spidolnya ke parit!" ucap Rian melempar spidol biru ke parit depan mereka.

"OM RIAN! Huaaa!" tangis mereka pecah.

"Baru bener manggilnya. Nggak dari tadi napa."

"Om Liyan! Spidol Fathal kenapa dibuang? Om kejam! Huaaa!" teriak Fathar muncul dari pintu rumahnya.

Rian menikmati paduan suara mereka dengan menutup kedua telinganya sampai punggungnya dipukul oleh mamanya.

"Argh! Sakit, Ma!" keluh Rian.

Mama Rian menjewer telinga kanan anaknya. "Sukanya bikin anak tetangga nangis!"

4 disukai 1.2K dilihat
Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Saran Flash Fiction