Anak Panah Ke Sebelas

Sebuah perhelatan akbar tak ubahnya selalu membuat para penggemarnya merasa kagum. Namun, semua itu tak berlaku bagi gadis bernama Bella Adriana Purnama. Karena sebentar lagi, sudah dipastikan tangisnya pecah. Aku tidak pantas dimaafkan oleh ibu. Pikirnya. Ia lantas pergi dan sampailah dia di sebuah gedung tua. Bella berdiri di depan gedung itu sembari menangis.

"Hai gadis kecil, daripada kamu menangis, cobalah kemari, ikuti aku sebentar."

Seorang nenek tua berdiri di belakang gadis itu. Tutur katanya yang lembut membuat Bella luluh.

"Kita mau kemana Nek?" Tanya gadis itu sembari menghapus air matanya.

"Sebentar lagi, kau akan mengetahuinya. Ikuti saja langkahku. Tugasmu hanya satu, kau harus bisa menafsirkan dan menyimpulkan sendiri dari apa yang akan kau amati. Namun, kamu harus berhati-hati. Jangan sampai tertipu."

Nenek itu menjelaskan sembari berjalan di sebelah Bella. Sesekali ia membetulkan kacamatanya

"Jangan sampai tertipu? Apa maksutnya?"

Bella diam dan mengikuti langkah sang Nenek. Hingga ia melihat seorang gadis yang tengah merajut. Bella pun tersenyum.

"Apa dia mau membuat sesuatu untuk adiknya? Ibunya? Atau barangkali untuk dirinya sendiri Nek?" Tanya Bella.

Sang Nenek menggelengkan kepala, Bella pun masih heran. Detik selanjutnya, sang Nenek dan Bella berjalan dan sampailah mereka di depan seorang bapak yang tengah menyuapi seorang gadis cilik buta.

"Nenek, pasti Bapak itu adalah seorang lelaki yang baik ya," Bella tersenyum melihat sang Nenek. Namun, tetap saja sang Nenek menggelengkan kepala.

Di saat itulah, Bella merasa jengah. Ia pun berhenti dan bertanya kepada sang Nenek.

"Nenek, aku menyerah. Aku tidak bisa memahaminya Nek."

Sang Nenek yang mendengar gadis itu lantas tersenyum. Ia berhenti berjalan, sorot kedua matanya tertuju ke arahnya.

"Nak, sudah ku bilang. Kamu jangan mudah tertipu. Sekarang, biar Nenek menjelaskannya padamu."

Sang Nenek menghembuskan nafas. Lalu ia mulai menjelaskan dengan tutur katanya yang lembut.

"Gadis yang tadi kita lihat, sebenarnya ia merajut untuk almarhum adiknya. Dulu, adiknya sangat ingin dibuatkan syal oleh kakaknya. Namun, permintaan itu selalu dihiraukan hingga adiknya meninggal dunia. Lantas ia merajut syal untuk mengusir kerinduan dengan benih penyesalan," katanya.

"Dan bapak tua yang kau lihat. Sebenarnya, gadis cilik yang buta itu adalah anaknya sendiri. Dulu, bapak itu selalu berbuat jahat kepada anaknya hingga anaknya mengalami kecelakaan yang disebabkan oleh dirinya sendiri."

"Dari sanalah dia merasa menyesal dan ia berjanji akan selalu berusaha yang terbaik untuk anaknya."

Bella pun melihat bapak tua dan gadis yang tengah merajut. Keduanya menitikkan air mata. Bella pun terbelalak melihat hal itu.

"Bagaimana bisa?" Batinnya.

"Nak, penyesalan akan selalu hadir kepada orang-orang yang tidak mau mengoreksi dan mamperbaiki dirinya. Jadi, selagi kita diberi waktu untuk menebus kesalahan kita dan memperbaiki diri. Jangan sia-siakan hal itu, karena nantinya. Kau akan menyesal," sang nenek mengucapkan dengan penuh penekanan.

Bella menitikkan air matanya. Lantas ia melihat jarum jam dimana anak panah jam itu mengarah pada pukul 11 malam. Ia pun berlari ke rumah dan ia terkejut saat ia melihat ibunya telah diselimuti kain kafan putih.

"Ibu!!!!!" Pekiknya. Ia berlari dan menangis di hadapan Ibunya yang membisu untuk selamanya.

16 disukai 25 komentar 1.7K dilihat
Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
@sutik68 : terimakasih sudah mampir kak
kisah sederhana namun dibuat menarik dengan ending yang sedih, keren
@alwindara : Iya kak :'(
Sedih
@rudiechakil : Iya kak🥺👍 terimakasih sudah mampir
Sampai begidig 😱😰😰
@ralalisinaw : 😭berakhir dengan kematian. Terimakasih sudah mampir
Great ending 💔😭
@oliphianacubbytaa : ☺️
Sama-sama, kak :-)
Saran Flash Fiction