Setelah Gelap Datang

Angin menjelma aku yang berusaha kautangkap meski tak kunjung berhasil kautangkup. Aku memeluk tubuhmu yang kausembunyikan di antara kakimu. Kaututup kepala ketika jari-jariku berusaha meraih rambutmu. Kau putus asa, lalu sembunyi di balik pintu karena gagal memenjarakanku yang begitu ingin kaupenjarakan. Aku pergi dengan air mata yang gugur sebagai gerimis.

Kau mengaduk secangkir kopi ketika kantuk menyergap mata—menolak lelap setelah 21 jam dibutakan cahaya. Kau meminumnya dan berharap dunia menjadi sehitam ampasnya. Kau terbatuk. Kau memeluk bayangan tubuhmu, yang baru saja bertukar dengan tubuhku.

Karena sepi terus menghantui, kau menciptakan aku, kau menciptakan dia, kau menciptakan mereka.

Di jendela, malam menjelma ruang kosong dan waktu membangun dinding. Kau membayangkan daun jatuh di seberang jalan, saat tak ada lagi yang perlu dikenang. Matahari memutuskan terbit sebelum lelap memeluk. Kau membaca koran pagi yang menelan habis selera makanmu.

7 disukai 2K dilihat
Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Saran Flash Fiction