Gadis Kecil Berkaleng Kecil

Hujan turun begitu deras saat aku, dari balik jendela, melihat Rembulan berjalan pelan di ujung gang dengan payung di tangannya. Seorang gadis kecil berdiri di sampingnya. Jarak kami lumayan jauh, juga terhalang kaca, tapi telingaku mampu menangkap koin-koin yang menghantam kaleng kecilnya.

Aku masih melamun saat menyadari, entah mengapa kota ini menjadi lebih senyap dari biasanya. Hujan mendirus sejak magrib dan, meski malam sudah meninggi, belum ada tanda-tanda akan berhenti. Tetapi, sungguh, segalanya tak pernah sesunyi ini. Biasanya, laju kendaraan tak henti menderu. Mobil dan motor menerobos jalan seolah dikejar hantu. Getar telepon genggam melatari perbincangan yang sia-sia. Langkah terburu-buru mengotori seluruh jalan. Tetapi kini, aku bahkan tak mampu mendengar derum hujan yang begitu deras di depan jendela. 

Aku menyesap tehku yang panas, lalu menajamkan telinga. Percuma. Aku hanya mampu mendengar kerincing koin yang menghantam kaleng susu gadis kecil itu. 

Aku akan kehilangan dia, bukan? Dia yang menghabiskan malam di depan pintu katedral, memeluk kaleng yang nyaris kosong, yang begitu riang tawanya, yang matanya terlindung dari duka. Telah lama ingin kuulur tangan, mengembannya dan merawatnya, tapi waktu membuaiku, seolah hari esok akan selalu ada.

Aku teringat tatapannya saat kami pertama berjumpa. Di persimpangan lampu merah itu, dia menimbang koin dan selebaran yang kumal. Dia memandang potret rumah yang hangat, dilengkapi Ayah dan Ibu, serta sebuah mobil di garasi kecilnya. Aku mengenal gambar itu, karena bekerja di perusahaan yang mencetaknya. Setelah melipatnya, dia menyimpannya dalam saku celana. Lalu, dengan kaki kecilnya, dia menginjak genangan dan tertawa. Gembira, atau berpura-pura gembira? 

Akhirnya, seperti yang lain, saat lampu berubah hijau, aku meninggalkannya.

Di menara tertinggi katedral, lonceng berdentang sembilan kali. Aku tersentak dari lamunan. Kota kembali bersuara. Saat-saat hening menghilang begitu saja. Di persimpangan itu, aku melihat Bulan melamun seraya memandang kekosongan yang dia tinggalkan. Pipinya merona merah muda—menahan duka takterperi di dada. Lalu yang tersisa tinggal pekak kendaraan, daun-daun yang berguguran, suara-suara yang dipatahkan hujan, juga waktu yang kembali berdetak. Aku meminum tehku seraya memandang jendela.

Kota ini tak kehilangan gadis kecil berkaleng kecil. Namun, kenapa ada yang hangus di hatiku?¹

(Terinspirasi sajak Toto Sudarto Bachtiar)

¹) Kata-kata dari Paman Micka

7 disukai 1.7K dilihat
Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Saran Flash Fiction