Kesan pertama itu krusial katanya. Makanya, saya berusaha berpenampilan sebaik mungkin saat pedekate sama cowok yang sengaja dicomblangi teman, saya sebut saja Mas Gebetan. Waktu itu, sebagai kencan pertama, saya mengajaknya menghadiri acara pernikahan seorang teman lama. Doi mengiyakan.
Nah, kami pun berangkat mengendarai motornya. Sampai di desa teman saya yang hajatan itu, saya mulai curiga karena sama sekali enggak mendengar suara menggelegar dari soundsystem raksasa khas orang kawinan. Gang desa itu sunyi dan damai.
Hati saya mulai enggak enak.
"Rumah temen kamu di gang berapa?" tanya si Mas Gebetan.
"Di gang paling ujung."
Saya menjawab dengan nada ragu, bukan karena enggak tahu rumahnya, tetapi saya enggak menemukan tanda-tanda orang kawinan di daerah situ. Insting saya bekerja dan menambah beban pikiran. Hingga sampailah kami di gang rumah teman saya dan zona itu tenang, enggak ada satu pun tenda perkawinan yang tergelar.
"Rumah temen kamu yang mana ini?" Mas Gebetan bertanya lagi.
"Sebentar, deh, aku telpon dulu, ya," kata saya berdusta karena sebenarnya rumah teman saya di depan mata dan dalam keadaan tertutup, tanpa kehadiran manusia.
Saya pun segera menghubungi teman saya yang untungnya fast respon. Setelahnya, terjadilah percakapan singkat.
Sekian detik komunikasi itu terjadi lalu saya menutup ponsel dengan hati gemas. Saya menatap Mas Gebetan yang juga menatap saya, menunggu jawaban.
"Anu ...," kata saya mengawali, "kawinannya masih minggu depan. Kayaknya kemarin salah lihat undangannya."
Saya menutup informasi penting itu dengan cengiran. Sedangkan Mas Gebetan tertawa seraya menggeleng-geleng tak habis pikir.
Tolong! Siapapun, sembunyikan saya dari bumi!