Semasa sekolah di kejuruan, setiap calon lulusannya akan diberikan tugas kelompok, yakni semacam menyusun makalah versi lite-nya. Kebetulan pembimbing saya adalah wali kelas sendiri. Suatu hari, Pak Pembimbing meminta saya dan anggota lainnya untuk berkumpul di rumah beliau dalam rangka pembagian tugas.
Di hari penentuan, berangkatlah saya naik angkutan umum ke tempat beliau. Waktu itu hanya berbekal ingatan karena saya memang pernah ke sana sekali dibonceng teman. Dan, sebuah gapura merah saya jadikan sebagai penanda karena ikonik.
Begitu sampai, saya segera menuju ke rumah Pak Pembimbing yang dekat dari belokan pertama. Tetapi, sebentar kemudian saya celingukan ke sana kemari.
Loh, rumah Pak Pembimbing kok nggak ada?
Saya pun memasuki setiap belokan yang ditemui. Masalahnya, saya malah tersesat ke sebuah gang yang ramai oleh para santri. Saya akhirnya putar balik ke gapura merah seraya meyakinkan diri bahwa itulah penanda ke rumah Pak Pembimbing. Dan, sekali lagi menyusuri setiap belokan yang ada.
Namun nihil!
Saya pun beristirahat karena kaki sudah kayak jelly Tanpa ponsel dan minim uang saku membuat saya enggak berdaya.
Setelahnya, saya mencoba observasi di sepanjang jalan utama. Hati ini tergelitik saat melihat sebuah gapura dengan warna yang sama berdiri kokoh sekitar satu kilometer setelah gapura merah tadi. Saya memberanikan diri memasuki gang gapura itu hingga sampai pada belokan pertama dan ... taraaa!
Itulah rumah Pak Pembimbing saya!
Saya mau mewek, tetapi mendadak Pak Pembimbing muncul ke teras. Beliau kaget melihat saya berdiri anteng di depan pagar.
"Loh, kok, baru datang? Pertemuannya sudah selesai dari tadi!"
Ya, saya sadar sudah terlambat karena berangkat sebelum siang dan baru menemukan rumah beliau menjelang sore.
Pak Pembimbing menyuruh saya masuk ke rumah, tetapi saya tolak karena ingin segera pulang. Badan lelah, perut meronta-ronta, hati saya juga keki, dan yang terpenting saya mau mengisolasi diri di kamar!