Disukai
0
Dilihat
3
Kompas Minyak dan Gejolak Asmara, di kaki bukit
Komedi
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

=== BAB 1: MENEMBUS KABUT BERMODAL NODA BALA-BALA ===

Ketika navigasi satelit kalah pamor dibanding kertas koran bekas gorengan

-------------------------------------------------------

Kutipan: "Garis melengkung berminyak ini pasti aliran sungai Amazon cabang Jawa Barat, bukan sisa lelehan tahu susur!"

--------------

Pagi itu, kabut tipis masih memeluk mesra atap-atap rumah panggung di kaki perbukitan Desa Sukasenyum. Suasana desa begitu asri nan syahdu: gemericik aliran parit yang airnya sebening kaca jendela baru dilap, kepakan sayap puluhan burung pipit yang berpesta pora di atas pematang sawah menguning, serta aroma tanah basah sehabis gerimis semalam yang bercampur semerbak wangi daun teh segar. Suasana pedesaan yang sanggup meremajakan sel-sel otak siapa pun yang penat oleh hiruk-pikuk polusi knalpot kota besar—setidaknya bagi siapa saja, kecuali seorang pemuda bernama Zahirul Iksan.

Zahirul, pemuda berperawakan jangkung dengan jaket parasut berwarna biru toska yang ukurannya dua kali lebih besar dari pundaknya, tengah berdiri mematung di persimpangan kebun singkong. Di punggungnya tergantung ransel pendaki seukuran karung beras pulen lima puluh kilo, lengkap dengan matras gulung yang dipasang miring dan tongkat daki aluminium yang sama sekali belum pernah menyentuh tanah berbatu. Di tangannya, sebuah ponsel pintar berlayar lengkung keluaran paling mutakhir tergeletak dingin, bisu, dan tak bernyawa.

Ponsel kebanggaannya itu resmi wafat sejak dua jam lalu. Baterai seratus persennya amblas tanpa sisa bukan karena dipakai membuka aplikasi peta digital atau menghubungi posko penyelamatan warga, melainkan karena kebiasaan Zahirul merekam video sinematik berdurasi lambat dengan resolusi ultra 4K. Objek yang direkamnya pun tergolong absurd: mulai dari goyangan rumput ilalang yang tertiup angin sepoi-sepoi, tetesan embun yang jatuh lambat dari daun talas, hingga perdebatan sengit antara dua ekor ayam jantan di dekat tumpukan jerami. Ketika layar ponsel itu mendadak padam dan memunculkan ikon baterai merah berkedip satu kali lalu gulita, Zahirul baru menyadari bahwa ia telah berjalan melenceng sejauh tiga kilometer dari jalur pendakian resmi.

Namun, Zahirul Iksan bukanlah tipe pemuda yang mudah panik lalu menangis meraung-raung di bawah pohon pisang. Sebagai seorang lulusan sarjana perkotaan yang gemar membaca utas kiat bertahan hidup di media sosial dan mengaku memiliki wawasan praktis seluas samudra, ia menarik napas panjang seraya menyunggingkan senyum percaya diri yang sangat berlebihan. Dalam benaknya, manusia purba sanggup mengelilingi lima benua hanya dengan membaca rasi bintang Orion dan mengamati arah lumut di kulit pohon randu. Mengapa seorang pemuda berpendidikan tinggi seperti dirinya harus takluk hanya gara-gara kehilangan sinyal 5G?

Dengan gerakan tangan yang dramatis seolah sedang menarik pedang pusaka dari sarungnya, Zahirul merogoh saku samping jaket parasutnya yang berbau gurih. Dari sana, ia mengeluarkan selembar kertas koran bekas pembungkus makanan yang dibelinya di pangkalan ojek bawah bukit tepat pada pukul enam subuh tadi. Koran tersebut merupakan bungkus bala-bala hangat, tempe mendoan, dan tahu susur pedas buatan warung legendaris 'Gorengan Renyah Barokah Pak De Bogel'.

Kondisi kertas koran itu sesungguhnya sudah sangat mengenaskan. Seluruh serat kertasnya telah mengalami dekonstruksi total akibat saturasi minyak goreng kelapa sawit curah yang mendidih. Kertas itu lecek, agak transparan jika diterawang ke arah matahari terbit, dan dipenuhi aneka rupa bercak abstrak yang artistik. Di bagian tengah, terdapat bercak bundar lonjong bekas tumpukan tiga buah bala-bala yang masih panas; di sudut kanan atas mencuat cipratan saus sambal kering berwarna jingga kemerahan cap Dua Belibis; sedangkan di sudut kiri bawah terdapat potongan berita lawas mengenai peresmian proyek jembatan layang yang terpotong oleh lelehan cabai rawit hijau yang terpencet remuk.

Tetapi di mata Zahirul yang tengah dirundung rasa putus asa bercampur halusinasi estetika, kertas koran berlumur minyak goreng itu bukanlah sekadar sampah organik yang pantas dibua...

Baca cerita ini lebih lanjut?
Rp1.000
Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Komedi
Rekomendasi