Kejadian yang akan saya ceritakan ini membuat saya enggak mau macam-macam sama monyet.
Waktu itu saya sekeluarga mengunjungi sebuah tempat wisata klenik. Disebut demikian karena areanya merupakan sebuah pemakaman yang dihuni puluhan monyet. Menurut warga sekitar, monyet-monyet yang menghuni tempat itu adalah jelmaan dari mereka yang dijadikan tumbal pesugihan.
Mitos itu pun tersebar sehingga mendatangkan pelancong dari berbagai daerah.
Saya yang masih bocah kala itu tentu sangat tertarik dengan para monyet lucu.
Sayangnya, enggak ada yang mendekat selama kami berkeliling. Primata itu melakukan kegiatannya sendiri tanpa menghiraukan kehadiran pengunjung.
Pakde-lah yang iseng menirukan suara monyet. Beliau cekikikan bersama anggota keluarga lainnya sehingga diulangi lagi suara tiruannya.
Mulanya, monyet-monyet di sekitar hanya menatap rombongan kami sambil lalu. Namun, beberapa dari mereka yang sedang asyik berkumpul untuk saling memanen kutu menatap kami. Tangan-tangan berbulu yang menyisir kepala kawanannya itu tiba-tiba berhenti.
Pakde dan yang cekikikan tadi sepertinya mulai merasakan hal yang ganjil, sehingga tawa geli mereka seketika terhenti. Apalagi beberapa primata mulai mendekat.
"Ayo, lebih cepat jalannya!" perintah Bapak yang makin membuat hati saya enggak nyaman.
Benar saja!
Mamak tiba-tiba berseru. Saya yang bahkan belum sempat mencerna seruannya seketika histeris karena dua ekor monyet tahu-tahu saja menarik kresek berisi es campur yang saya bawa.
Semua ikut berteriak tanpa melakukan sesuatu kepada saya yang ketakutan setengah mati sambil tarik-menarik dengan si monyet.
Tangan saya kaku untuk melepaskan satu kantung kresek berisi es campur itu. Mata ini terpaku pada taring si primata, teriakannya yang heboh, dan tingkah liarnya hingga ...
ππΊπ’π³π³π³!
Es campur berwarna pink segar itu berhamburan karena wadahnya robek. Saya menangis sejadi-jadinya, sedangkan duo monyet tersangka kabur.
Bapak serta-merta menggendong saya yang masih terisak-isak. Setelah kejadian itu, saya tidak pernah lagi ke sana.