Sore itu tetangga baru mengadakan syukuran. Warga mahfum jika apa adanya. Sebab rumahnya bisa dibilang yang paling kecil di antara warga.
Bahkan beberapa tetangga mengamati sinar matahari dapat masuk dari atas dan genting terlihat. Warga pun berbisik untuk urunan memperbaiki bagian atas rumah warga baru yang bernama Risma itu.
Risma sendiri janda yang baru diceraikan suaminya, alasannya sungguh miris. Wajah sang buah hati lebih mirip kakak Risma. Padahal itu wajar karena keluarga.
Akibatnya kini Risma harus merawat Ilham, sang buah hati, sendirian. Meski keluarga sering menengok beberapa kali seminggu, dan kini membantu syukuran, tetap saja warga merasa trenyuh.
Lalu bapak-bapak dan ibu-ibu yang sedang asyik mengobrol disajikan makanan. Ada beberapa jajanan seperti beberapa gorengan, termasuk martabak.
Andi, putra bapak Yudi yang baru berusia empat tahun pun mengambil. Ia mengunyah, kemudian dengan suara lantang mengatakan sangat pahit.
Pak Yudi jadi merasa tidak enak. Ia langsung meminta maaf. Sebetulnya sejak tadi warga merasakan rasa pahit di martabak itu. Tapi tidak berkata apapun.
Sedangkan beberapa anak lain pun lebih memilih menu gorengan lain, juga kue apem dan dadar gulung. Yang biasa tersaji murah di banyak warung.
Semua warga paham itu karena ekonomi Risma. Risma yang kurus kering pun seperti merasa tak enak hati martabaknya pahit.
Dan tadi warga tanpa sepengetahuan Risma, sempat mendiskusikan perihal dimana Risma menggunakan minyak bekas saat menggoreng. Keluarga Risma pun ikut membahasnya.
Warga dan keluarga diam saja, karena dalam hajatan di daerah itu dan daerah sekitarnya, tuan rumahlah yang menyediakan semua termasuk modal.
Jadi tidak ada yang menyinggung soal patungan untuk membeli minyak goreng baru. Sebab mereka seperti mencoreng harga diri Risma jika mengatakannya.
Kemudian Ustadz Ridwan memulai doa, dan warga mulai menangis sesenggukan. Warga memikirkan nasib janda dengan anak bayi yang hidup dengan kemiskinan ekstrim tersebut.
Risma dan keluarganya pun heran karena banyak yang menangis. Beberapa anak kecil yang tak tahu hal sebenarnya pun ikut heran. Ada pula anak kecil yang ikut-ikutan menangis karena latah.
Pak Yudi berbisik kepada Ustadz Ridwan, kemudian pemuka agama berusia senja tersebut menjelaskan kepada Risma dan keluarganya, kenapa banyak warga yang menangis.
Risma menangis. Ia terharu atas kebaikan warga. Lalu Ustadz Ridwan mengatakan akan ada iuran dari warga untuk modal Risma.
Uang kas kelurahan tahun ini sebesar sembilan juta rupiah, akan diberikan pada Risma untuk modal. Cukup untuk modal usaha murah meriah.
Lalu notifikasi handphone berbunyi. Anto, sang mantan suami menghubungi lewat chat WhatsApp.
Ia mengatakan hutang Risma yang delapan juta setengah harus dibayarkan besok pagi, jika Risma tak mau berurusan dengan hukum. Anto mengancam, Ilham akan tumbuh tanpa ibu, yang mendekam di penjara, jika tak dilunasi.
Risma yang kini memiliki uang sembilan juta pun bimbang. Antara membangun usaha kecil dari modal warga, tapi berurusan dengan hukum. Atau menghancurkan kepercayaan warga tapi terbebas dari hutangnya, pun terbebas dari hukum.
Risma melihat sekilas Ilham. Dan demi putranya tersebut ia memutuskan untuk...