Konon katanya setan akan menjelma menjadi seseorang yang kita benci, sedang bertikai dengan kita, atau yang sifat jelek kita curigai sebagai musuh.
Itulah yang terjadi dengan Yudi, Yudi memiliki seseorang yang dibenci bernama David, saking bencinya suara David yang terdengar olehnya dari luar saja membuatnya sudah mendidih setengah mati.
Kala itu Yudi baru pulang dari kantornya dan suasana baru menjelang bulan puasa, malam tarawih hari pertama, Yudi tak sempat ikut dan berniat mengejar di rumah, saat akan memasukkan motor ke dalam rumah, sekalian karena sudah jam sembilan malam, Yudi mendengar suara tawa David yang sedang bercanda dengan dua adiknya, pikiran Yudi langsung buyar, penuh emosi.
***
Malamnya setan memanfaatkan celah, ia datang ke dalam mimpi Yudi, menjelma sebagai David, bertengkar urusan sepele, namun seolah otak Yudi dibelenggu sehingga dirinya tak bisa mendebat. Yudi bangun pagi dalam keadaan mendendam dan capek berat karena merasa kalah debat dengan David.
Saat akan berangkat kerja, Yudi berpapasan dengan David yang hendak kuliah, dia sedang mengejar gelar S3 nya, meski fokus ke kuliah dan hampir tak bekerja usianya lebih tua dari Yudi. David yang sudah tahu sering Yudi musuhi berbaik sangka. Ia menyapa Yudi, tapi diabaikan, David tahu alasannya, dan ia diam.
Malamnya setan memang tak kembali, ia tak datang karena dalam suasana ramadan, seperti ada sebuah kontrak dan ia memenuhinya. Tapi pikiran Yudi sudah terlanjur kalap dengan mimpi di hari sebelumnya, apalagi di dunia nyata David memang susah didebat, tentu karena pendidikannya yang tinggi, tapi Yudi punya rasionalitas lain
Yudi merasa David sombong dan tak mau mendengar ucapan orang lain, apalagi di dalam mimpi David tampak dibela dua orang remaja yang tak ia kenal, yang tentu sebetulnya mereka adalah dua bala tentara setan. Yudi kesal meski secara rasional singgungan masalahnya hanya dia mengibaskan tangan ke arah salah satu kawan David, tapi seolah-olah setan dengan ekspresinya yang datar, menyatakan secara psikologis, itu adalah kesalahan besar Yudi, lebih tepatnya kesalahan bersikap.
***
Malam tarawih kedua Yudi pun ikut bertarawih jama'ah di masjid, mimpi pertengkarannya dengan David tetap masih menggema, Yudi yang sudah tak rasional pun menyiapkan pisau di balik pakaiannya.
David datang bersama tetangga tetangga yang lain, lalu pikiran Yudi bahwa ia tak sengaja mengibaskan tangan ke salah satu kawan David dan justru didebat olehnya yang sejak tadi menguat makin terasa kuat. Yudi pun berlari sambil berteriak, mengambil pisau dari balik baju kokonya, lalu menusukkannya pada David, sampai duda beranak tiga itu tergeletak. Tenaga Yudi sangat kuat seolah-olah setan sedang membuka jalan baginya agar orang-orang tak mampu mencegah perbuatan Yudi.
Dalam persidangan tidak ditemukan ketidakstabilan psikologis dalam diri Yudi, Yudi dianggap normal meski emosi menjadi catatan, dan beberapa bulan kemudian ia pun divonis mati.
Setan menang, David yang tak tahu apa-apa jadi korban, Yudi pun korban, bahkan sebelum dirinya mendapat vonis mati. Ya, sejak awal dia memang korban, dan di akhir setan lah yang berpesta pora bersama para bala tentaranya.
***
Catatan: Judul huruf kecil semua buat jadi lambang bahwa setan itu kecil banget secara moril karena kepengecutan setan dalam mengadu domba yang tergambar di cerpen aku ini.