Flash Fiction
Disukai
1
Dilihat
9
Matahari
Religi

Dalam gelap yang ia biasa hadapi sehari-hari, seorang bocah berusia 9 tahun membuka mata, seperti biasa ia terbangun dalam suasana itu, pekat dan hanya ada satu cahaya, cahaya dari lampu petromak yang tadi sore seperti biasa layaknya pemberi terang-terang lain dikirim oleh orang misterius, hanya datang, memberi contoh bagaimana untuk menggunakan, kemudian pergi berlalu tanpa sepatah pun kata, sama seperti orang-orang misterius lainnya.

Dengan terang yang hanya berasal dari satu sumber bocah tersebut memperhatikan kakeknya yang sedang memasak kentang rebus, hasil dari kebun katanya dengan sedikit nada ketus karena si bocah tidak membantu, si bocah meminta maaf, dan ia pun dimaklumi karena si kakek tahu usia si bocah bukanlah usia pekerja.

‎Bocah dan kakek tersebut pun beraktifitas seperti hari-hari biasa, mereka hidup tanpa matahari, bahkan pernah ada masa dimana mereka tidak mengenal apa itu matahari, mereka hidup dari cahaya cahaya dan terang terang pengganti lainnya, yang diberikan oleh orang-orang asing, berpenampilan sederhana, dan memiliki ekspresi muka tergantung keadaan batin si kakek da cucunya tersebut, pernah suatu hari keduanya sedang bertengkar, lalu seseorang datang mengantarkan lampu senter, wajahnya nampak menunjukkan emosi, seperti yang kala itu sedang dirasakan batin keduanya. Tapi seringnya orang-orang datang dengan wajah ceria dan sapaan yang ramah, yang entah mengapa meskipun bahasanya tidak dipahami si bocah dan si kakek, tapi mereka tetap mengerti bahwa apa yang disampaikan adalah hangat keakraban, bahkan sebelum senyum mengembang.

Karena pemahaman lewat batin itulah si bocah dan kakeknya tahu bagaimana mengoperasikan terang-terang pengganti matahari, walau pengganti-pengganti tersebut berbeda-beda, lampu senter, petromak, lilin, dan lain sebagainya bahkan alat modern yang rumit bagi yang tidak mengenal teknologi mereka pahami cara kerjanya meski si pembuat contoh tidak pernah berkata sepatah katapun, dan seperti biasa setelah digunakan satu hari alat pemberian tersebut pun lenyap tanpa bekas.

‎Hingga kemarin mereka diberitahu soal matahari, juga soal dimana mereka sebenarnya, alasannya karena doa doa telah cukup dan sampai pada mereka, seseorang yang ternyata adalah malaikat tersebut berkata, sudah saatnya mereka melihat matahari sebagai perwakilan hadirat ilahi, dimana ia dan malaikat-malaikat lainnya yang setiap hari datang untuk menyibak gelap pun paripurna tugasnya. Ya, bocah dan kakeknya tersebut sudah mati, mereka berada di alam barzah, mereka adalah korban perang saudara yang dulu pernah berkecambuk. Malaikat itu berkata matahari akan datang besok

Dan hari ini adalah hari yang dijanjikan, si kakek pun berkata pada si bocah jika saja saat dirinya masih hidup ia menjadi manusia yang lebih baik, pasti terang terang pengganti yang diberikan oleh para malaikat tentu bernyala lebih terang, juga si bocah tak harus menunggu terlalu lama, tapi si bocah itu menimpali bahwa setiap pribadi membawa dosanya masing-masing, jadi dirinya yang tak begitu mendapat terang secara maksimal sudah dipastikan akibat perbuatan dirinya sendiri.

‎Si kakek memandangi bocah itu seperkian detik sambil tertegun dan berkata bahwa cucunya itu benar, si bocah tersenyum, ia merasa tenang lahir dan batin karena akhirnya si kakek untuk pertama kalinya setuju pada dirinya, pun si kakek ia merasakan hal yang sama karena akhirnya tahu bahwa cucunya yang berusia 9 tahun tersebut sudah dewasa melampaui usianya, sesuatu yang keduanya harap-harapkan. Lalu keduanya memandang matahari yang mulai muncul dengan sinar terangnya dengan senyuman merekah di wajah. Ya, mereka sudah berada di surga mereka sendiri, yaitu ketenangan batin abadi.

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Religi
Rekomendasi