Bambang mengernyitkan dahi. Bukan tanpa sebab sepele, sebab ia tiba-tiba digelandang ke kantor polisi. Bambang kebingungan. Selama hidupnya ia tak pernah melakukan kesalahan apapun. Dan alasan polisi menahan nya sungguh di luar nalar, semasa kecil dirinya pernah menyobek uang kertas. Alasannya... Hanya iseng. Seperti halnya bocah-bocah seusianya kala itu.
Bambang pun sadar ia telah dipersekusi. Ia tahu betul alasannya. Menjadi orator di kampusnya demi menurunkan Bupati Pati, yang terindikasi korupsi. Awalnya Bambang sempat heran, kata-kata apa yang ia ucapkan, sampai sampai ia ditahan. Untungnya Bambang segera menyadari, ia dianggap menggoyang singgasana sang bupati lewat orasinya, yang padahal normal.
***
Tubuh Bambang sangat gerah. Udara kala itu sangat panas, meski cuaca tidak menentu, serta sering hujan. Bambang yang sedang mengipasi dirinya, dikejutkan suara petugas polisi muda. Nada bicara polisi tersebut seperti gugup. Mungkin dirinya pemuda pengidap fobia sosial, yang dituntut bekerja, dan kebetulan orang tuanya punya modal atau koneksi kuat.
Bambang berjalan di belakang polisi tersebut, terdengar di luar demo penuntutan agar bupati mundur. Ia sangat hapal siapa yang sedang berorasi di luar. Itu Budi, wakil dewan mahasiswa kampus sekaligus sepupunya.
Bambang akhirnya tiba di ruang jenguk, istrinya terlihat sudah menunggu. Termyata ada berita mengejutkan. Dengan sesenggukan, Safira, sang istri, mengatakan bahwa ayah Bambang, Joko, telah meninggal. Dengan setengah shock Bambang bertanya penyebabnya. Safira menjawab, Joko terlalu memikirkan Bambang, hingga komplikasinya kumat, yang diawali sakit berat di kepala bagian kiri.
Bambang yang awalnya hanya setengah shock, setelah mendengar itu langsung shock berat. Padahal usia ayahnya masih muda, jadi jelas sudah, dialah penyebab Kematian sang ayah. Ia menyesal mengapa harus ikut demo dan berkegiatan di kampus. Bambang berandai, seandainya dirinya menuruti saran orang tuanya untuk tidak ikut urusan politik, mungkin ayahnya sekarang masih hidup, meski memiliki komplikasi.
Saat ngobrol dengan istrinya, Bambang curhat. Ada polisi berpangkat letnan yang menawarinya untuk mundur dari ketua dewan mahasiswa kampusnya. Safira pun mengatakan hal serupa, ia berkata Budi juga dipaksa mundur dari posisinya, tapi menolak, dan memutuskan meneruskan perjuangannya. Tapi tentu ada konsekuensi. Tiba-tiba ada gosip menyebar, bahwa Budi penyuka sesama jenis. Tapi Bambang tahu, Budi bukan orang lemah. Buktinya dia masih berorasi di luar.
Tapi Safira mendesak agar suaminya itu mundur. Safira mengatakan, Bambang harus ingat keselamatan diri dan keluarganya. Jangan meniru Budi, karena dia seorang sosiopat. Buktinya ia tidak peduli bagaimana cara orang sekarang memandangnya. Bambang membalas, bahwa Budi bukan orang seperti itu. Sepupunya itu hanya yakin, semua yang dituduhkan hanya fitnah, sehingga ia menolak mundur. Dengan kesadaran yang sepenuh-penuhnya, pria yang menikahi Safira saat masih D3 tersebut menyatakan... Dirinya pun tidak akan mundur.
***
Malamnya, Safira pingsan karena shock berat. Kantor polisi tempat suaminya ditahan ada yang membakar, dan pelakunya adalah Budi. Budi menolak keras tuduhan dan menyatakan itu fitnah. Kabar terakhir Budi dinyatakan tewas demi keadilan, setelah mencoba kabur, saat akan digelandang ke kantor polisi.
Dalam kebakaran tersebut hampir semuanya selamat, hanya satu yang tidak, yaitu Bambang.