Flash Fiction
Disukai
1
Dilihat
121
Gue Engga Peduli
Horor
Flash Fiction ini masih diperiksa oleh kurator

‎Bella berjalan keluar dari sebuah apotik. Di tas kresek yang tangan kirinya ia genggam berisi pembalut.

‎

‎Seharusnya ia membeli barang tersebut satu hari sebelumnya. Tapi Bella yang memiliki disorder mental tersebut, entah mengapa merasa para tetangga apartment akan menertawakannya, jika ia keluar dari kamar.

‎

‎Saat ia berjalan pun ada beberapa bocah cilik yang menertawakannya. Tapi mereka punya alasan. Saat tersenyum senyum Bella terlalu aneh. Hal itu disebabkan Bella gugup saat berjalan.

‎

‎Saat tiba di apartemennya Bella pun lebih memilih menggunakan lift. Ia tak peduli reputasi lift yang memiliki isu urban legend terkenal. Ruang ketiga belas.

‎

‎Bella menekan tombol untuk ke lantainya, yaitu lantai dua puluh tiga. Ia pun menunggu untuk sampai. Tapi menunggu beberapa saat, Bella tak kunjung tiba di lantai kamarnya.

‎

‎Merasa tadi ia hanya berhalusinasi saat menekan tombol, Bella pun menekan ulang. Kembali Bella tak memperhatikan angka yang ia tekan, karena ia sudah hapal betul dengan posisi angka kosong sampai sembilan. Setidaknya itu yang ia rasakan.

‎

‎Lift terbuka, sekilas ada suara beberapa orang terkekeh. Bella yang sadar memiliki gangguan mental, mendiamkan.

‎

‎Tidak ada yang aneh dari lantai apartemen. Wanita muda tersebut tak sadar telah salah menekan nomor. Pemudi tersebut telah berada di lantai yang bagi banyak orang dikeramatkan.

‎

‎Seorang anak kecil lewat. Ia amat ramah pada gadis berzodiak Libra tersebut. Bella tak memperhatikan, bocil tersebut tak bersikap seperti bocil sewajarnya.

‎

‎Bella lanjut jalan, lalu ia merasa diperhatikan dari belakang. Saat melongok, Bella hanya mendapati lantai lengang. Bella tersenyum sendiri.

‎

‎Gadis dengan satu adik itu pun kembali melangkah. Karena disordernya ia tak mempermasalahkan sekitar.

‎

‎Tak lama, gadis jelita itu sampai di sebuah kamar. Kamarnya amat menyerupai kamarnya. Setan telah bekerja untuk itu.

‎

‎Dari dalam ia mendengar suara tangis Fio, adiknya. Gadis yang memiliki autisme tersebut sepertinya jatuh dari kasur.

‎

‎Dengan telaten dan sabar Bella membantu adik perempuannya. Sosok yang sebetulnya bukan Fio tersebut menyeringai aneh. Bella yang melihat hanya membalas dengan senyum kecil.

‎

‎Saat sedang memasak mie untuk ia dan adik palsunya, api berubah menjadi hitam, Bella tetap memasak.

‎

‎Fio palsu menjerit, Bella melongok, mengecilkan api. Ia berlalu dari dapur kemudian menghampiri makhluk tersebut. Rupanya posisi air minum terlalu jauh untuk Fio palsu jangkau. Bella pun mendekatkannya.

‎

‎Selesai memasak mie, dimana tadi api kompor sempat mendadak membesar sendiri, Bella menghidangkan mie kuah hangat untuk dirinya dan Fio palsu.

‎

‎Di tengah makannya, dimana sebetulnya Bella sedang memakan cacing yang mendidih. Bella mengatakan sesuatu.

‎

‎"Gue engga peduli hidup di alam apa."

‎

‎"Gue engga peduli, bahkan kalo harus makan cacing rebus setiap hari."

‎

‎"Yang terpenting, gue hidup di alam yang engga merendahkan gue."

‎

‎"Setidaknya gue diperhatikan, walau perhatiannya buruk."

‎

‎Fio palsu tertegun, ia menganga. Ia tak perlu mencerna kalimat Bella dalam-dalam.

Satu yang ia tahu, ternyata dunia manusia lebih busuk dari dunianya. Bahkan sampai seorang gadis lebih memilih tinggal di alam busuk, dimana ia sendiri ingin lenyap.

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (1)
Rekomendasi dari Horor
Rekomendasi