Tomi menatap pintu kamarnya. Ia mendengar dengan seksama ibu, ayah, serta adiknya mengobrol.
Kadang terasa mereka sedang membicarakan dirinya, sehingga pria yang usianya hampir kepala tiga itu berusaha menahan diri untuk tidak tersinggung.
Tentu bukan itu yang keluarganya bicarakan. Mereka berbicara biaya pernikahan Laila, sang adik. Tapi suara musik dari headset Tomi, menyalakan api kecurigaan.
Tomi pergi ke supermarket. Membelikan keperluan ayah, ibu, serta adiknya. Karena merasa tidak berguna dan menganggur, Tomi dengan ikhlas menjadikan dirinya pesuruh keluarga. Keluarga Tomi tidak enak, tapi itu kehendak Tomi sendiri.
Lalu terdengarlah lagu itu, dimana liriknya ditulis oleh kawannya. Tepatnya bekas kawan. Dulu Andre, sang kawan, mempelajari cara menulis lirik dari Tomi. Detik itu juga hati Tomi sakit, karena merasa tertinggal.
Sesampainya di rumah ia kembali melihat lirik karyanya, baik lama maupun baru. Tak ada yang salah, hanya satu kelemahan, yaitu terlalu visioner. Tomi membayangkan seandainya dirinya lahir diatas tahun 2500.
Tomi bisa menulis jenis lirik apapun juga. Percintaan, kritik sosial, drama, keluarga, fantasi, fiksi ilmiah, dan lain sebagainya. Tapi jarang yang paham karena Tomi tak menyadari sesuatu.
Bahwa sebuah lirik terlahir sebagai perasaan pribadi bercampur dengan empati. Tomi tidak pernah masuk ke diri orang lain, melainkan dirinya sendiri. Ditambah liriknya terlampau modern ketimbang penulis lirik lain, sehingga orang lain makin sulit untuk memahami.
Tomi kini sedang di pasar, ia membeli kelapa parut karena ibunya akan membuat dadar gulung. Itu adalah makanan kesukaan calon ipar Tomi, David. Tomi agak kesal, kalau tidak ada tamu penting, tak mungkin Novi, sang ibu, mau memasak sejak subuh.
Dan di suasana pasar yang ramai, Tomi kembali mendengar lagu yang liriknya ditulis oleh bekas kawan. Tomi berpikir, entah orang yang dimaksud masih menganggapnya kawan atau tidak, disebabkan kegagalan karir.
Tomi sedikit mendengarkan dengan seksama, ia menertawakan. Sama seperti saat ia menertawakan lirik karya Andre, juga para penulis lirik lain, yang dulunya rekan atau murid Tomi.
Tomi merasa lirik mereka sampah. Hanya mengulang tema. Tidak ada rasa, dan hanya fokus di permainan kata. Rima dan bahasa indahnya imitasi. Tomi tersenyum sinis, tapi di alam bawah sadarnya, ia merasakan ironi.
***
Lalu David bersama keluarganya pun berkunjung. Tomi hanya menyalami sebentar, kemudian kembali masuk kamar.
Dan mulailah, keluarganya bercerita tentang passion Tomi. David pun menyatakan dulunya ia memiliki harapan menjadi penulis lirik, tapi ia akhirnya menyerah dan memilih beralih haluan. Karena ia merasa kompetisinya terlalu ketat.
Lalu masuk paman Tomi, Firman, dalam pembicaraan. Ia sedikit menyindir Tomi. Walau dirinya tak ingin omongannya didengar Tomi, tapi ia tak tahu, kala itu Tomi mendengarkan, karena suara headsetnya dikecilkan.
Firman berkata, bermimpi boleh, tapi saat mimpi itu dirasa sudah tak koheren dengan keadaan serta realitas, seseorang harus move on. Tomi tersindir, ia membayangkan menghabisi pamannya tersebut, tapi tentu diurungkan, karena takut dengan konsekuensi hukum.
Lalu Jaka, ayah Tomi, dengan logat Sundanya yang khas mengamini adik iparnya. Jaka bercerita tentang beberapa teman Tomi yang memilih move on ketimbang menuruti harapan mereka.
Tomi tersindir berat, meski ayahnya sama dengan sang paman, tak bermaksud menyindir langsung. Detik itu jugalah Tomi menggebrak meja dengan keras.
Semua terkejut. David ingin melongok, tapi dicegah oleh Jaka, meminta semuanya untuk mengganti topik pembicaraan. Semua baru sadar, Tomi ternyata sejak tadi mendengar, dan kedewasaan mereka, membuat satu sama lain memutuskan untuk mengganti topik pembicaraan.
Sedangkan Tomi sendiri merasa burn out. Ia memutuskan tidur. Dan esok pagi ia kembali merasakan hal yang sama. Yaitu merasa sebagai...
"Orang gagal."