Rasa Itu Masih Ada

Tiga belas tahun berlalu, aku tidak menyangka bahwa rasa ini benar-benar masih ada. Padahal sengaja benar aku menghindar darinya supaya jumpa dengannya tidak menganggu fokusku. Menyengajakan pula memasuki masa putih abu-abu mengikuti ekskul keagamaan supaya dapat kutemukan pencerahan untuk melupakannya. Tidak mempan kala itu, kesah tak tertahankan pada kakak pembina mentoring Rohisku. Cukup tertolong, namun hanya untuk mengurangi atau menyamarkan, bukan untuk menghilangkan.

Mana kutahu kalau rupanya dirinya berteman baik dengan suami dari sepupu terdekatku?

"Bagaimana, Di? Kamu rela?" Kak Ranti, sepupu terdekatku bertanya hati-hati.

Aku tepekur. Ada rasa getir saat kuketahui anak yang duduk di belakangku tiga belas tahun lalu akan dijodohkan suami kak Ranti dengan kerabatnya. Suhu AC di kamarnya hampir membuatku terpedaya untuk mengelak dari topik, namun perih ini tak bisa dibohongi. Aku benci ini. Maksud hati silaturahim ke rumah kak Ranti ingin bermain dengan anak-anaknya saat suaminya bekerja, aku justru mendengar kabar Afif, si anak cowok yang duduk di belakangku tiga belas tahun lalu. Sungguh, bagaimana Afif mengingatkanku saat salah begitu bertutur kata lembut, tidak seperti kebanyakan anak cowok yang lebih kepada mencelaku. Itu alasanku menyukainya.

"Kalau perasaan itu masih ada, biar kakak ngomong ke Abang biar jodohinnya dengan kamu aja. Daripada kamu sedih berketerusan karena tahu dia menikah dengan yang lain..."

Aku tertunduk. Berusaha mengalihkan pandangan pada sepasang putra putri kak Ranti yang masih balita sedang bermain masak-masakkan, namun tatapan menunggu kak Ranti bahkan terasa lebih buruk ketimbang apa yang kemungkinan menjadi keresahanku kemudian.

"Dian... Diana...," terbata-bata aku ingin menjawab tanpa memberanikan mengangkat wajah. "Diana ingin setidaknya menyatakan perasaan Diana ke Afif, kak!"

Terdengar hembusan napas dari kak Ranti, entah apa artinya. Satu tangannya menggamit satu tanganku. "Mengapa tidak menyeriuskan saja?"

"Mana mungkin, kak?!" Aku mulai berani menatap matanya. "Dia belum tentu menyukai Diana! Diana hanya memendam ini! Meski Diana merasakan dia tahu perasaan Diana karena pasti ketauan oleh bahasa tubuh Diana waktu SMP lalu!"

"Itulah makanya, adikku. Kakak akan katakan baik-baik dengan Abang supaya lebih baik kalian dipertemukan saja. Kita berusaha. Kamu pernah bilang, Afif anak yang baik, maka bila benar dia pria yang baik, semoga dia kenal bagaimana kamu meski telah sekian tahun tidak bertemu. Kamu mau ya. Setidaknya kita berusaha. Berdoalah. Tidak baik menyimpan perasaan terlalu lama apalagi bertahun-tahun."

Aku menundukkan pandangan kembali, merasa menyerah. Mungkin karena aku dikuasai ketakutan oleh penolakan. Namun bukankah aku sudah bukan anak-anak? 27 tahun usiaku, aku harus bisa berpikir matang dan berjiwa siap. "Baiklah," akhirnya satu kata itu meluncur dari lisanku. "Mari kita coba, kak. Diana harap Afif gak kaget kalau ternyata perempuan yang akan dikenalkan suami kakak ke dia adalah Diana, semoga dia tidak kaget teramat sangat. Diana masih suka sama Afif. Diana merasa kesulitan suka lawan jenis lain sejak tau dia pacaran sama Nirmala."

"Kakak dengar dari Abang, Afif sedang menjalani masa hijrahnya, semoga saja kalian berjodoh ya."

"Aamiin, kak."

Sebuah pelukan kuterima. Begitu hangat. Aku tidak pernah menerima pelukan seperti ini sebelumnya, karena memang dalam budaya keluarga kami tidak ada hal semacam ini.

Aku pasrah. Semoga memberikan berkah entah bagaimana hasilnya nanti.

635 dilihat
Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Saran Flash Fiction