Tidak ada seorang pun yang ingin ditertawakan. Namun bagi Matteo, tawa adalah satu satunya cara bertahan hidup.
Kisah ini bermula saat Matteo kecil kehilangan ayahnya, Rafael. Di tengah kesedihan itu, ia dipungut oleh seorang pria tua bernama Aruleo, yang hidup sendirian dan terasing dari keluarganya. Bersama Aruleo, Matteo menguburkan Rafael secara sederhana di belakang rumah tua itu. Sejak hari itu, Aruleo menjadi satu-satunya keluarga yang Matteo miliki.
Bagi Matteo, Aruleo adalah segalanya. Kelak, Matteo bahkan akan menamai anaknya dengan nama Aruleo sebagai bentuk rasa terima kasih. Namun lelaki tua itu juga menyimpan sisi rapuh, hidup dalam kesepian, kebiasaan buruk, dan pikiran yang perlahan goyah. Suatu malam, Aruleo mengalami kekacauan batin yang berat dan memilih pergi tanpa pamit selamanya.
Kejadian itu disalahartikan. Matteo, yang saat itu sudah beranjak remaja, dituduh sebagai penyebabnya. Tanpa pembelaan yang layak, ia menjalani hukuman panjang dan kehilangan masa mudanya di balik jeruji.
Bertahun tahun kemudian, Matteo kembali ke dunia yang asing. Ia mencoba mencari pekerjaan, namun selalu gagal. Hingga akhirnya ia bergabung dengan kelompok teater. Di sana, Matteo dianggap tidak berbakat dan hanya dijadikan figuran. Namun justru kekakuannya di atas panggung membuat orang orang tertawa.
Tanpa disadari, Matteo menjadi terkenal. Bukan karena kepintaran atau kelucuan yang disengaja, melainkan karena ia menjadi bahan ejekan. Matteo tahu itu. Namun ia juga sadar, tawa itu memberinya makan. Maka ia memilih untuk terus berdiri di panggung, membiarkan dirinya ditertawakan, demi bertahan hidup.
Waktu berlalu. Matteo menjadi komedian terkenal. Tapi di balik sorotan, jiwanya perlahan terkikis. Ia mulai merasa seluruh dunia menertawakannya, bahkan ketika ia turun dari panggung. Namun ia juga takut kehilangan tawa itu. Jika tidak ada tawa, apa yang tersisa untuknya?
Di usia tiga puluh tahun, Matteo menikah dengan Laura, seorang penggemar yang lebih muda darinya. Matteo mencintai Laura dengan sepenuh hati. Namun cinta Laura berakar pada kenangan, pada sosok ayahnya yang telah tiada, seorang pria yang juga sering diremehkan dan ditertawakan orang lain. Matteo adalah bayangan dari masa lalu itu.
Seiring waktu, Laura berubah. Ia mulai menjauh, menuntut kesempurnaan, dan merasa malu pada kehidupan Matteo yang terus jadi bahan tontonan. Rumah tangga mereka retak. Hingga akhirnya Laura pergi, membawa anak-anak mereka, kecuali Aruleo, anak sulung yang paling dekat dengan Matteo.
Matteo menyesal, namun ia bertahan pada keyakinannya. Ia percaya Laura akan kembali. Dalam keputusasaan, Matteo membuat sebuah taruhan konyol, mempertaruhkan seluruh hartanya pada supirnya demi satu keyakinan yang amat ia percaya.
Pada suatu malam pertunjukan, Matteo mendapat kabar bahwa Laura akan datang menontonnya. Di atas panggung, ia percaya keyakinannya nyata. Lampu menyala, tawa penonton menggema, dan harapan itu hidup kembali.
Laura benar-benar datang. Duduk di antara penonton, bersama Sofia, si bungsu. Matteo melihatnya dari atas panggung, dan untuk sesaat, dunia terasa utuh kembali. Namun kemudian, sebuah kursi di samping Sofia terisi. Seseorang datang menyusul. Duduk tenang.
Matteo terdiam. Senyumnya membeku. Ia tetap berdiri di panggung, tetap melanjutkan pertunjukan, sementara harapannya runtuh perlahan. Penonton tertawa, tak menyadari bahwa di hadapan mereka, seorang pria sedang menerima takdir paling pahit dalam hidupnya.
Matteo kehilangan segalanya. Tapi bukan taruhannya yang ia sesali, melainkan ia merasa cara hidupnya benar benar layaknya seorang badut.