Sudah lima belas tahun aku duduk di bangku yang sama, di ujung Taman Cempaka, setiap sore setelah Ashar.
Bangkunya tua. Catnya hijau yang sudah pudar, dan satu kakinya sedikit goyang. Petugas taman beberapa kali menawarkan untuk menggantinya dengan yang baru, dan beberapa kali pula aku menolak. Tidak ada yang tahu alasannya. Aku tidak pernah menjelaskan.
Rutinitasku tidak berubah selama itu. Selesai mengajar anak-anak di surau seberang taman, aku menyeberang jalan dengan tongkat, meraba pagar sampai ke gerbang, lalu menghitung langkah: seratus dua belas dari gerbang sampai bangku. Ada tukang bakso yang selalu menyapaku, dan aku membalasnya dengan lambaian ke arah suaranya. Aku duduk sampai azan Magrib memanggil dari surau, lalu salat di sana dan pulang ke rumah yang sekarang terlalu sunyi untuk seorang lelaki tua.
Orang-orang mengira aku hanya lelaki tua yang senang memberi makan burung dara. Mereka tidak sepenuhnya salah. Hanya saja, sekarang "melihat" bukan kata yang tepat untukku. Mataku tinggal bisa membedakan terang dan gelap, dan siluet yang bergerak seperti cat air tumpah. Dokter menyebutnya glaukoma. Aku menyebutnya usia.
Sebagai gantinya, telingaku menjadi tajam. Dan sore itu, telingaku menangkap sesuatu yang membuat napasku berhenti sebentar.
Langkah sepatu di jalan setapak. Pelan, ragu, berhenti dua bangku dari tempatku, lalu maju lagi. Kemudian terdengar suara seorang laki-laki, berat dan sopan.
"Permisi, Pak. Boleh saya duduk di sini? Bangku lain penuh."
Padahal aku tahu bangku lain kosong. Anak-anak yang tadi berisik sudah dijemput ibu mereka setengah jam lalu. Tapi aku tidak mengatakannya.
"Silakan, Nak. Bangku ini milik siapa saja."
Dia duduk. Bangku bergoyang sedikit. Lalu, dari bawah bangku, terdengar sepatu mengetuk tanah.
Dua cepat, satu lambat. Dua cepat, satu lambat.
Aku menyuruh dadaku tenang. Lima belas tahun aku belajar untuk tidak berharap pada suara langkah.
"Saya Dimas," katanya.
"Hanif."
"Itu tasbih ya, Pak? Bapak ustaz?"
"Bukan. Guru ngaji saja, di surau seberang taman. Muridku anak-anak kecil yang masih sibuk membedakan ba dan ta."
Dia tertawa pendek, tawa yang tertahan, seperti orang yang sudah lama tidak tertawa. Lalu hening. Burung-burung dara berjalan di kaki kami, mematuk remah yang tak terlihat olehku.
"Boleh saya jujur, Pak?" katanya akhirnya. "Saya tidak beragama. Tepatnya, saya tidak percaya Tuhan. Kalau itu membuat Bapak tidak nyaman, saya bisa pindah."
Aku tersenyum. "Nak, bangku ini tidak menanyakan KTP."
"Biasanya orang langsung berubah, Pak. Nadanya. Atau mulai bilang, 'coba deh baca ini'."
"Aku tidak sedang mencoba memperbaikimu."
"Kenapa?"
"Karena kamu tidak rusak. Kamu cuma duduk di sebelahku."
Dia diam lama. Ketukan sepatunya berhenti, lalu mulai lagi, lebih pelan.
Begitulah sore itu dimulai. Sore yang kukira akan berlangsung sepuluh menit saja.
"Saya orang yang sederhana, Pak," katanya. "Saya bekerja dengan data. Kalau ada klaim, harus ada bukti. Dan Tuhan tidak punya bukti."
"Kamu benar. Aku tidak bisa menunjukkan Tuhan seperti menunjukkan bangku ini."
"Jadi Bapak mengaku kalah?" Ada senyum dalam suaranya.
"Kalau aku bisa menunjuk-Nya, Nak, itu bukan Tuhan. Itu benda."
Dia terkekeh lagi, kali ini lebih lepas.
"Yang bisa kulakukan hanya bercerita kenapa aku tidak bisa berhenti bertanya. Kenapa ada sesuatu, dan bukan ketiadaan?"
"Sains sedang menjawabnya."
"Sains menjawab 'bagaimana', dan aku menghormatinya. Tapi 'bagaimana' dan 'kenapa' itu dua pertanyaan berbeda. Kamu bisa menjelaskan bagaimana air di teko mendidih: api, panas, molekul yang bergerak cepat. Semuanya benar. Tapi ada jawaban lain yang juga benar: airnya mendidih karena ibuku ingin membuat teh."
Dia diam sebentar. "Itu analogi, Pak. Bukan bukti."
"Betul. Aku tidak membawa bukti. Aku membawa alasan. Dan aku tidak akan memaksamu menganggap alasanku cukup."
"Tapi saya juga tidak dingin, Pak," katanya, seolah takut kesan itu tertinggal. "Kalau malam cerah, saya suka menatap langit. Cahaya yang sampai ke mata kita itu berangkat ribuan tahun lalu. Sebagian bintang yang kita lihat mungkin sudah mati. Menurut saya itu indah. Dan saya bersyukur pada kebetulan yang membuat saya ada di sini untuk melihatnya."
"Kebetulan yang baik hati sekali," kataku, dan dia mendengus geli. "Aku tidak akan menyebutnya kebetulan. Tapi aku juga tidak akan bilang kamu salah merasa bersyukur. Orang yang bisa takjub pada langit sudah separuh jalan menuju terima kasih."
"Sejarah agama penuh darah, Pak," katanya tiba-tiba, seperti orang yang sudah lama menyimpan kalimat itu.
"Iya," jawabku tanpa membela. "Dan aku malu karena sebagian darah itu ditumpahkan oleh orang yang menyebut agamaku."
Aku merasakan dia menoleh. Mungkin dia kaget karena tidak dilawan.
"Tapi kalau ada orang mencuri atas nama keadilan, apakah keadilan otomatis palsu? Kesalahan orang yang memegang tidak membuktikan bahwa yang dipegang itu tidak pernah ada. Kitab tidak pernah menyakiti siapa pun, Nak. Yang menyakiti adalah manusia yang membacanya dengan hati yang sudah marah."
"Ateis juga bisa jahat," katanya pelan, jujur. "Saya tahu itu."
"Kejahatan tidak punya agama. Makanya aku curiga pada siapa pun yang merasa dirinya pasti benar. Termasuk diriku."
"Satu lagi," katanya. "Kebanyakan orang beragama karena lahir di keluarga yang beragama. Kalau Bapak lahir di India, mungkin Bapak Hindu. Kalau di Swedia, mungkin tidak beragama. Itu bukan tanda bahwa keyakinan cuma soal tempat lahir?"
Itu pertanyaan yang jujur dan bagus, dan aku tidak ingin menjawabnya sembarangan.
"Itu benar," kataku. "Sebagian besar dari kami mewarisi iman seperti mewarisi bahasa ibu. Aku tidak akan berpura-pura sebaliknya. Karena itu, kepada murid-muridku aku selalu bilang satu hal: kalian boleh bertanya. Apa pun. Iman yang tidak pernah ditanyai itu seperti rumah yang tidak pernah ditempati. Kelihatannya kokoh, tapi kita tidak tahu atapnya bocor atau tidak."
"Guru ngaji yang menyuruh muridnya bertanya," katanya. "Langka."
"Aku pernah melakukan kesalahan dengan tidak begitu," kataku, lalu berhenti sebelum kalimat itu membawaku ke tempat yang belum siap kuinjak.
Angin sore membawa bau tanah yang baru disiram. Entah kenapa, percakapan kami justru makin jauh.
"Saya tidak mencuri, tidak menipu, tidak menyakiti orang, Pak," katanya. "Dan itu tanpa takut neraka."
"Aku percaya."
"Bapak percaya?"
"Kami punya kata untuk itu: fitrah. Rasa di dalam diri manusia yang tahu bahwa baik itu baik dan zalim itu zalim, bahkan sebelum ada yang mengajari. Kamu menyebutnya empati, atau hasil evolusi. Kita memberi nama berbeda untuk sesuatu yang sama-sama kita kenali."
"Bapak tidak akan bilang saya masuk neraka?"
"Itu bukan urusanku. Aku guru ngaji, bukan hakim. Hakim di atas sana punya urusan-Nya sendiri, dan aku tidak berani mengambil pekerjaan-Nya."
Dia terkekeh, lalu diam sebentar. "Satu lagi, Pak. Kenapa Tuhan butuh disembah? Kedengarannya egois."
"Bukan Dia yang butuh. Aku yang butuh. Matahari tidak butuh dipuji orang yang kedinginan, Nak. Tapi orang yang kedinginan bisa celaka kalau menolak berdiri di bawahnya. Ada ayat yang sering kubaca: hanya dengan mengingat Allah, hati menjadi tenteram. Yang jadi tenteram itu hatiku, bukan Dia."
Dia tidak membantah. Hanya mengembuskan napas panjang, seperti orang yang mencatat sesuatu dalam kepalanya.
Lalu ketukan sepatu itu berhenti.
"Pak... boleh saya tanya sesuatu yang tidak lucu?"
"Tanyalah."
"Kalau Tuhan Maha Penyayang, kenapa orang paling baik bisa sakit lama sekali?"
Aku tidak langsung menjawab.
"Saya kenal seorang perempuan," lanjutnya, suaranya nyaris hilang. "Orang paling baik yang pernah saya temui. Sakitnya delapan belas bulan. Setiap malam ia salat, setiap malam ia bilang alhamdulillah. Dan ia tetap pergi. Dengan sakit. Dan saya tidak ada di sana."
Aku tidak bertanya siapa dia bagi anak muda ini. Ada pertanyaan yang, kalau diajukan, memaksa orang untuk berbohong.
"Aku ikut sedih," kataku.
"Bapak nggak perlu bilang begitu."
"Aku bilang karena itu benar."
Tanganku di atas tasbih sedikit gemetar, dan kubiarkan.
"Aku tidak punya jawaban yang membuat sakit seperti itu masuk akal, Nak. Kalau ada orang menawarkan jawaban yang rapi untuk hal begitu, curigai dia. Yang bisa kuceritakan hanya satu hal. Ada malam di lorong rumah sakit, ketika aku, guru ngaji yang tiap hari mengajari anak-anak bahwa Allah Maha Penyayang, berteriak pada langit-langit. Aku bertanya kenapa. Aku marah sekali."
"Saya tidak bisa marah pada Tuhan, Pak," katanya. "Marah butuh alamat."
Kalimat itu menusukku lebih dalam dari yang bisa kutunjukkan.
"Itu yang paling menyedihkan buatku," kataku pelan. "Kamu menanggung semuanya tanpa alamat."
Dia tidak menjawab.
"Malam itu tidak ada petir. Tidak ada suara. Tidak ada yang menghukumku. Justru itu yang membuatku bertahan: aku boleh marah dan tetap tidak ditinggalkan. Nabi sendiri menangis ketika putranya, Ibrahim, wafat. Ketika ada yang heran, beliau bilang air mata itu rahmat. Agamaku tidak melarangku menangis, Nak. Ia hanya mengajakku menangis di hadapan-Nya, bukan membelakangi-Nya."
"Itu tidak menjawab pertanyaan saya."
"Tidak," aku mengaku. "Sebagian pertanyaan memang tidak terjawab di bangku taman. Aku membawanya sampai ke kubur."
"Orang di lorong rumah sakit itu... Bapak berdoa supaya dia sembuh?" tanyanya.
Aku diam sebentar. "Setiap hari."
"Dan tidak dijawab."
"Tidak seperti yang kuminta."
"Itu yang bikin saya susah, Pak. Kalau doanya terkabul, itu bukti. Kalau tidak, dibilang 'ditunda' atau 'diganti yang lebih baik'. Sistem yang semua hasilnya dianggap jawaban itu tidak bisa dibantah. Enak sekali."
Aku tidak tersinggung. Justru aku menghargai ketajamannya. "Kamu benar bahwa itu terdengar seperti jalan keluar yang terlalu nyaman. Aku tidak memakainya untuk menutup pertanyaan, Nak. Aku memakainya supaya setelah semua yang terjadi, aku masih bisa mengangkat tangan dan berdoa. Kalau tidak, aku tidak akan bisa berdoa lagi. Dan itu, buatku, lebih menakutkan daripada doa yang tidak terjawab."
"Bapak takut mati?" tanyanya setelah lama.
"Tidak. Kamu?"
"Bagi saya, mati itu gelap. Selesai. Itu tidak menakutkan." Dia berhenti. "Yang menakutkan adalah orang-orang yang saya cintai hilang, dan tidak ada tempat untuk bertemu lagi."
Aku menunduk.
"Itu satu-satunya hal yang kuminta dari agamaku, Nak. Terus terang. Aku tidak percaya karena takut neraka. Aku percaya karena aku tidak sanggup hidup di dunia yang tanpa kemungkinan bertemu lagi. Mungkin itu kelemahan. Tapi aku memilih jujur soal itu."
"Itu bukan alasan yang bagus untuk percaya," katanya. Tidak ketus. Hanya lelah.
"Bukan," kataku. "Itu alasan yang jujur. Dan dua hal itu tidak selalu sama."
"Bapak tahu apa yang paling aneh?" katanya. "Saya bahagia, Pak. Cukup bahagia. Pekerjaan saya baik, saya punya teman, saya tidak butuh apa-apa lagi."
"Cukup itu jawaban yang jujur," kataku. "Tapi orang yang benar-benar cukup tidak menanyakan hal-hal yang kamu tanyakan sore ini."
Dia tersenyum kecil, senyum orang yang kalah. "Wah, Bapak tajam juga."
"Telingaku yang tajam. Mataku sudah pensiun."
Roda gerobak berderit mendekat, dan suara Bang Udin, tukang bakso langgananku, memecah suasana.
"Pak Hanif! Biasa, Pak? Wah, ada teman rupanya!"
"Dua, Bang. Satu untuk anak muda ini."
"Seledrinya, Mas?"
"Jangan, Bang," jawabnya cepat sekali, seperti jawaban yang sudah dihafal seumur hidup. "Saya tidak suka seledri."
Aku menyimpan itu dalam diam. Dulu, sepiring soto pun bisa dia diamkan setengah jam hanya karena ada seledri di atasnya. Kami makan bakso di bangku goyang itu, berdampingan, dan untuk beberapa menit tidak ada yang bertanya soal Tuhan. Hanya bunyi sendok dan uap kuah yang naik ke wajahku.
"Bapak tidak takut?" tanyanya di sela suapan. "Pertanyaan-pertanyaan saya tadi. Tidak takut merusak iman Bapak?"
"Iman yang bisa dirusak oleh satu pertanyaan, Nak, memang perlu diperiksa. Lebih baik ia diguncang di bangku taman bersama orang yang sopan, daripada diguncang sendirian di lorong rumah sakit."
Dia tidak menjawab. Tapi sendoknya berhenti agak lama.
Lampu taman menyala satu per satu. Aku bisa merasakannya dari perubahan cahaya di pinggir pandanganku.
"Bapak nggak berusaha bikin saya percaya?"
"Allah berfirman, tidak ada paksaan dalam agama. Di ayat lain, Allah bertanya kepada Nabi, apakah engkau hendak memaksa manusia sampai mereka semua beriman? Kalau Allah sendiri tidak memaksa, siapa aku?" Aku tersenyum. "Lagi pula, aku tidak akan mendoakanmu di depanmu. Itu tidak sopan. Tapi aku tidak menjanjikan apa yang kulakukan di belakangmu."
Dia tertawa, dan tawa itu bergetar.
"Malah," kataku, "aku pernah tidak percaya selama tiga tahun."
Ketukan sepatu itu berhenti total.
"Bapak?"
"Umurku dua puluh lima. Ayahku meninggal, dan sesuatu di dalam diriku ikut mati. Aku tetap salat, tapi rasanya seperti mengetuk pintu rumah yang kutahu kosong. Tiga tahun. Ada seorang guru tua yang tidak pernah menceramahiku. Dia hanya bilang, 'Bawa saja pertanyaanmu ke mana-mana. Jangan dibuang.' Kalimat itu menyelamatkanku lebih dari seribu ceramah."
"Lalu apa yang bikin Bapak kembali?"
"Aku tidak tahu persis. Tidak ada cahaya turun dari langit. Suatu hari aku sadar bahwa aku merindukan sujud. Bukan takut kehilangannya. Merindukannya. Sesederhana itu."
Dia tidak menjawab. Tapi aku mendengar napasnya, dan aku tahu dia sedang menahan sesuatu yang besar.
Dari surau seberang taman, azan Magrib memecah senja.
Aku berdiri pelan, tanganku mencari sandaran bangku. "Aku harus ke surau."
"Silakan, Pak. Saya di sini saja."
Aku tidak langsung melangkah. Jantungku berdebar seperti anak sekolah yang hendak maju ke depan kelas.
"Nak, boleh aku bertanya satu hal sebelum pergi?"
"Boleh."
"Namamu bukan Dimas, kan?"
Hening. Untuk pertama kalinya sejak sore tadi, tidak ada dua cepat, satu lambat.
"Dua cepat, satu lambat," kataku pelan. "Kamu mengetukkannya di lantai ruang tamu setiap kali menunggu ayahmu pulang mengajar. Kamu mengetukkannya di bangku ini, waktu umurmu tujuh tahun, sampai ayahmu muncul di ujung jalan."
Terdengar napas yang patah.
"Ayah..."
Satu kata itu. Setelah lima belas tahun.
"Sejak kapan Ayah tahu?" suaranya pecah.
"Sejak sepatumu mengetuk tanah. Bahkan sebelum kamu menyebut namamu."
"Kenapa Ayah diam saja? Kenapa Ayah membiarkan saya..."
"Karena kamu tidak datang untuk dikenali, Raka. Kamu datang untuk bertanya. Kalau Ayah memanggil namamu di menit pertama, Ayah takut kamu pergi sebelum sempat mengucapkan satu pun pertanyaanmu."
Dia menangis. Bukan tangis yang keras. Tangis orang yang sudah lima belas tahun belajar menelannya. Aku meraba udara sampai tanganku bertemu bahunya, lalu punggungnya, dan dia rebah begitu saja ke dadaku, seperti anak tujuh tahun yang akhirnya melihat ayahnya muncul di ujung jalan.
"Saya sudah dua sore duduk di bangku seberang, Yah," katanya di antara isak. "Melihat Ayah dari jauh. Bibi Rukmini bilang Ayah selalu di sini. Beliau juga yang menceritakan semuanya setelah Ibu tiada, dari sakit Ibu sampai bangku ini. Saya tidak berani mendekat."
"Sekarang kamu berani."
"Saya terlambat. Saya baru tahu kabar Ibu enam hari setelah Ibu dimakamkan. Dan saya butuh tiga bulan lagi untuk berani ke sini."
"Ibumu tahu kamu akan terlambat."
Aku merogoh saku jaketku, mengeluarkan sebuah amplop yang ujung-ujungnya sudah lembut karena terlalu sering kusentuh. "Dia menulis ini seminggu sebelum meninggal. Ayah belum pernah membukanya. Dia bilang isinya bukan untuk Ayah. Bacalah."
Kudengar kertas dibuka. Kudengar dia menarik napas, lalu membaca pelan, dengan suara yang bergetar:
"Raka anakku, kalau kamu membaca ini, berarti kamu pulang. Ibu tidak pernah marah kamu pergi. Ibu hanya marah pada kami yang tidak tahu cara mendengarkan. Jangan minta maaf dulu. Ayahmu duduk di bangku ujung Taman Cempaka setiap sore. Duduklah di sebelahnya. Ibu sudah berpesan pada Ayahmu: dengarkan dulu, jangan menang-menangan. Kalau dia mulai berceramah, ketuk saja sepatumu di tanah. Dia akan ingat."
Sunyi. Lalu, di tengah tangisnya, Raka tertawa. "Jadi Ibu yang menyuruh Ayah tidak menceramahi saya? Pantas. Tadi saya mengetuk tanpa sadar, Yah, kebiasaan lama, dan Ayah memang tidak menceramahi saya sekali pun."
"Ibumu selalu menang argumen di rumah ini," kataku. "Bahkan sekarang."
Kami tertawa bersama, dan tawa itu lama-lama berubah jadi tangis lagi.
"Ada satu hal yang harus Ayah katakan, Nak." Aku menarik napas panjang. "Malam itu, waktu kamu bilang tidak lagi percaya, Ayah bilang: pergi kalau begitu. Itu dosa Ayah yang paling Ayah takutkan. Bukan karena kamu ragu. Anak yang bertanya tidak pernah membuat Ayah takut. Ayah takut pada mulut Ayah sendiri. Malam itu Ayah berdiri di pintu sampai subuh, berharap kamu berbalik. Ibumu tidak bicara pada Ayah seminggu penuh. Dan waktu akhirnya dia bicara, dia hanya bilang: 'Mas, rumah kita dulu hangat karena ada anak yang bertanya. Sekarang isinya cuma orang-orang yang merasa benar.'"
"Ayah pernah berhenti menunggu?" tanyanya lirih.
"Setiap hari Ayah mencoba. Dan setiap sore kaki Ayah membawa Ayah kembali ke bangku ini sebelum Ayah sempat memutuskan."
"Yah..."
"Bolehkah Ayah memegang wajahmu? Mata Ayah sudah tidak bisa melihatnya."
Dia meraih tanganku dan menempelkannya di pipinya. Basah. Ada janggut tipis yang tidak kukenal, ada garis di sudut mata yang dulu tidak ada. Anakku sudah berumur tiga puluh lima tahun, dan aku baru sempat mengenalnya lagi lewat ujung jari.
"Saya masih belum percaya, Yah," katanya. "Tidak hari ini."
"Ayah tahu."
"Ayah tidak apa-apa dengan itu?"
"Ayah sedih. Dan Ayah tetap akan mendoakanmu, di belakangmu." Aku tersenyum. "Tapi tidak ada paksaan dalam agama, Raka. Ayah tidak menunggu lima belas tahun untuk memenangkan debat. Ayah hanya minta satu hal: temani Ayah ke surau. Mata Ayah tidak setajam dulu."
Dia berdiri. Lengan kami saling berkait. Dia menuntunku seperti orang yang baru belajar menuntun, terlalu hati-hati, seolah aku terbuat dari kaca. Di jalan setapak yang temaram, kami berjalan pelan, dua laki-laki dengan keyakinan yang berbeda tapi langkah yang sama.
Aku menghitung langkah seperti biasa: seratus dua belas dari bangku sampai gerbang. Dulu aku menghitungnya sendirian. Sekarang ada seseorang yang berjalan di sampingku, dan aku tidak ingin sore ini cepat selesai.
Aku menoleh sekali ke arah bangku hijau itu, yang bagiku tinggal gelap di bawah lampu. Besok petugas taman pasti akan menawarkan bangku baru lagi. Aku akan menolak lagi. Tapi kali ini, kalau ada yang bertanya kenapa, aku punya jawabannya.
Di depan surau, dia berhenti.
"Saya tunggu di sini."
"Duduklah di mana pun kamu merasa nyaman."
Aku masuk. Kubentangkan sajadah, kuangkat tangan, dan takbir yang sudah ribuan kali kuucapkan terasa seperti yang pertama. Dalam sujud terakhir aku tidak meminta apa pun untuknya, selain satu hal: agar dia tidak pernah lagi merasa harus menyamar hanya untuk duduk di sebelahku. Aku tidak meminta dia percaya. Untuk malam ini, permintaan itu terasa terlalu besar, dan terlalu ingin menang.
Di antara rakaat, dalam sunyi yang panjang, aku mendengar sesuatu dari anak tangga di luar.
Dua cepat, satu lambat.
Untuk pertama kalinya dalam lima belas tahun, aku tidak sedang menunggu siapa pun.