Masita

Masita menghela napas dalam isakannya setelah menangis entah berapa lama. Setelah melihat yang terjadi, suaminya yang paling ia percaya tanpa cela soal perasaan kini menghinati dan menodai ranjang pernikahan mereka.

Arya pria yang paling Masita cintai menjalin hubungan dengan wanita lain yang entah kenal darimana asalnya. Masita kecewa dan tak bisa berkata apa-apa. Tubuhnya yang terduduk di atas trotoar jalanan yang sepi dan dingin tak bisa berdiri dengan dua kakinya, Masita tak bisa berpikir jernih. Mencari-cari alasan Tuhan membuatkan naskah yang jauh berbeda dari gambarannya enam tahun lalu saat pertama kali mengenal suaminya.

Masita menerka-nerka semua bayangan kejadian yang saling terkait seolah-olah telah di beri Clue atas apa yang dilakukan suaminya. Saat Arya keluar kota dan tak pernah lagi mengabarinya seperti beberapa tahun lalu di awal pernikahan mereka. Saat Arya keluar jota ia tak akan pernah berhenti mengabari Masita. Mulai dari tiba di bandara, tiba di hotel, rebahan dikasur hotel, saat meeting dengan klient, saat masuk jam makan dan sampai waktu Arya akan istirahat. mereka melakukan itu sampai Masita luput bahwa suaminya tersayang bisa saja menyeleweng darinya kapan saja dan dimana saja.

Rasa percaya yang Masita tanamkan kini hancur, Arya kini sedang tertawa di belahan lain bersama wanitanya tanpa peduli istrinya yang malang sedang sesengukan akibat ulahnya.Masita hanya wanita biasa yang impiannya sudah terkubur jauh saat Arya mengucapkan janji setia sehidup semati, ia tingggalkan semua impian-impiannya, membatasi pergaulannya, mengahadapi bermacam-macam masalah yang bahkan bukan masalah yang harus ia selesaikan, Masita harus menekan egonya tanpa pernah menduga bahwa suaminya tak akan pernah ingat apa yang ia lakukan selama menikah dengannya.

Masita menyalakan dirinya atas semua yang terjadi atas apa yang Arya lakukan, Masita kehilangan arah. Masita berjalan entah menuju kemana dengan tertatih sambil dengan kakinya yang telanjang. rasa percaya yang terlalu berlebih membuat seseorang akhirnya mudah melakukan kesalahan.

Smpailah masita didepan rumah mertuanya yang kini ia tinggali bersama anaknya dan juga suaminya yang brengsek. MAsita bergegas merapikan penampilannya yang berantakan, mencuci wajahnya agar matanya tak terlihat sembab.

" Mama..." Tegur seorang anak kecil manis, Jalu namanya. anak dari Masita dan Arya.

Sebisa mungkin Masita memasang dirinya seolah tidak ada apa-apa yang terjadi. Disamping Putranya duduk seorang Pria dan wanita berumur setengah abad yang kebingungan melihat keadaan masita yang basah wajahnya.

" Nak, kenapa? Matanya kok sembab?" Tanya Ibu mertua Sita.

Masita mencoba meyakinkan mertuanya bahwa dirinya baik-baik saja dan bilang bahwa kindisinya sedang kurang sehat. Masita tak menyangka bahwa kehidupan yang ia dambakan menjadi berantakan dan hancus oleh ulah seuaminya. Tapi hal ini mengingatkan Masita untu memaafkan dirinya dan menyadari bahwa yang ia rasakan adalah karma jauh sebelum ia mengenal suaminya. Kenyataannya adalah masita pertama berhubungan dengan suami orang lain, sebab pada awalnya Masita tak pernah menyangka bahwa orang dari masalalu itu adalah suami orang lain. Masita kini menyadari bahwa jika semesta bekerja apapun itu bisa terjadi, jika semesta kesal kamu tak bisa berbuat papapun.

320 dilihat
Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Saran Flash Fiction