Bagiku senja selalu datang dengan cara yang sama di perumahan ini. Dan aku selalu berdiri di depan kaca jendela, memandang matahari yang menghilang perlahan di balik deretan rumah yang bentuknya hampir sama.
"Ayah ... mandi dulu," sebuah suara lembut mengusik ketenanganku. Seorang gadis remaja di belakangku tersenyum sambil menyodorkan handuk.
Aku mengernyit. "Siapa kamu?"
Senyum gadis itu luntur dan tangannya turun perlahan. "Ayah lupa lagi. Aku Dytta ... anak Ayah."
Aku menatapnya dari kepala hingga kaki. Seingatku, aku tinggal sendirian. "Kenapa kamu ada di rumah saya? Ayo keluar."
"Tapi, Yah ...."
"Keluar." Tanganku mendorong bahunya pelan menuju pintu lalu keluar. Saat pintu kututup, ada desir aneh di dadaku. Meski aku yakin tidak mengenalnya, tapi aku merasa baru saja mengusir orang yang salah.
©*©
Dytta berjalan lesu menuju pos satpam. Pak Jaya yang sedang menyeruput kopi hangat langsung menghela napas.
"Ayahmu lupa lagi?" tanya Pak Jaya.
Dytta masuk pos lalu duduk. "Kadang ingat, kadang enggak. Aku cuma takut suatu hari nanti Ayah benar-benar lupa sama sekali." Satpam itu terdiam lalu menuangkan air putih untuknya.
"Kalau ayahmu lupa lagi dan mengusirmu, kamu datang aja ke sini," kata Pak Jaya kemudian. Dytta hanya mengangguk.
"Ayahmu sudah banyak berubah. Meninggalnya ibumu mungkin membuat ayahmu depresi," ujar Pak Jaya seraya menepuk pelan bahu gadis itu. "Tapi dia tetap ayahmu. Dulu, kalau kamu pulang terlambat, dia berdiri di depan pagar rumahmu, masih ingat?"
"Iya, ayah marah, tapi setelah itu ayah membuatkan aku teh hangat." Dytta tersenyum tipis.
"Begitulah orang tua. Meski marah masih sayang sama anaknya." Pak Jaya berdiri dan meraih topinya di meja. "Bapak mau keliling dulu."
Tapi dia berhenti sejenak kemudian membalikkan badan memandang gadis itu beberapa saat. "Apa yang paling sering kamu lakukan kalau ayahmu lupa?"
"Aku ingatkan lagi." Dytta tertawa kecil.
"Masih dengan catatan kecilmu itu?" tanya Pak Jaya lagi. Gadis itu hanya mengangguk.
©*©
Malam tiba, perutku mulai keroncongan. Saat berjalan menuju ruang makan, lampu dapur menyala dan aroma gurih memenuhi ruangan. Gadis tadi ada di sana, menyajikan sepiring nasi goreng.
"Kamu datang lagi?" Aku terkejut.
"Aku buat nasi goreng kesukaan Ayah, seperti biasanya," ucapnya lembut.
"Seperti biasanya?"
"Iya ...." Gadis itu hanya tersenyum.
"Aku sudah bilang, aku nggak tahu siapa kamu. Sekarang keluar." Aku berjalan mendekatinya. Tanganku menggandeng lengannya. Dia menurut dan berjalan bersamaku menuju pintu.
"Aku cuma ingin buat makan malam untuk kita."
"Untuk kita ...?"
"Iya, ayah paling suka nasi goreng buatanku." Gadis itu menatapku. Aku berhenti sesaat karena merasa ada yang aneh dengan kalimat itu.
Aku memang suka nasi goreng. Tetapi bagaimana dia tahu?
Pintu kubuka. Aku mendorongnya pelan agar dia keluar dari rumah. Setelah pintu kututup aku masih berdiri di sana dan mencoba mengingat wajah gadis itu. Tapi aku tidak ingat apa-apa.
Tok ..., tok ..., tok ...!
Pintu kubuka lagi. Gadis itu tersenyum kecil di remang malam. "Nasi gorengnya dimakan ya, Yah."
Sebelum aku menjawab, dia sudah berbalik dan pergi menjauh. Beberapa detik kemudian mataku menangkap selembar kertas kecil di daun pintu dengan tulisan tangan warna hitam, jangan lupa mengunci pintu.
"Aneh." Aku tertawa kecil lalu mengunci pintu.
Aroma nasi goreng masih tercium hingga membuat perutku keroncongan. Aku segera menuju meja makan untuk menyantap nasi goreng di meja.
Rasa gurih menyentuh lidahku. Seketika itu aku melihat bayangan seorang anak perempuan sedang tertawa duduk di depanku. Namun, bayangan itu menghilang sebelum sempat kugenggam tangan kecilnya.
Aku kembali menatap nasi goreng itu dan menghabiskannya. Ketika hendak membawa piring kosong ke dapur, aku menemukan secarik kertas di bawahnya dengan tulisan, habis makan jangan lupa minum obat.
Aku mengerutkan dahi, obat? Obat apa? Terus di mana obatnya?
Aku tidak bisa menemukan kotak obat. Kubuka-buka semua lemari dan laci tetapi tidak ada. Kucoba mengingatnya, tetap tidak bisa. Aku kemudian masuk kamar tidur dan mencari di sana.
Saat itu tanpa sengaja pandangan mataku jatuh pada sebuah bingkai foto dengan wajah seorang gadis remaja bersanding dengan wajahku di atas meja kamar. Pada bagian bawah foto, ada tulisan kecil, aku dan anakku.
Di bawah bingkai itu aku menemukan selembar kertas surat dan membacanya. Setelah itu kepalaku terasa berat kemudian beberapa peristiwa yang telah kualami masuk dalam ingatanku.
Pandanganku beralih ke bingkai foto. Bayangan wajah gadis remaja yang baru saja kuusir dari rumah muncul di kepalaku. Wajahnya sama persis seperti wajah dalam bingkai foto itu. Dia berdiri di luar pintu rumah sambil tersenyum.
Kemudian aku teringat dengan suara yang memanggilku Ayah, kertas yang menempel di pintu dan di bawah piring, nasi goreng, obat, foto, dan surat. Semua itu seperti kepingan kecil yang akhirnya menemukan tempatnya.
"Dia anakku." Suaraku hampir tidak terdengar.
©*©
Aku segera keluar rumah dan berlari menyusuri jalan kompleks perumahan menuju pos satpam.
"Pak ...!" Aku memanggilnya. Dia menoleh.
"Lihat anakku?" Aku menghampirinya dengan napas terengah-engah.
"Dytta ...?"
Aku hanya mengangguk. Satpam itu, entah siapa namanya ... aku masih lupa, menatapku beberapa detik kemudian tersenyum kecil. "Tadi di sini. Mungkin sekarang ada di taman."
"Taman?" Aku mengernyitkan dahi.
Dia mengangguk. "Iya, tempat biasa Dytta selalu menunggumu."
Malam-malam begini dia selalu menungguku di taman?
Aku tidak sempat bertanya lagi padanya dan langsung berlari. Taman itu berada tidak jauh dari pos satpam. Namun, jalanan yang aku lalui terasa begitu panjang.
Lampu-lampu taman telah menyala redup ketika aku sampai di sana. Dan di sebuah ayunan, aku melihat anakku sedang duduk sendirian. Kakinya bergerak pelan mendorong ayunan maju mundur berulang kali seperti sedang menghitung waktu.
Aku mendekatinya. Dytta menoleh dan tidak tampak terkejut karena dia memang sedang menungguku. Tanganku masih menggenggam surat tadi saat aku berhenti di depannya.
"Maafkan Ayah, Nak." Aku menunduk dan tanganku gemetar. Aku ingin meminta maaf sekali lagi dan mengatakan bahwa aku akan mengingatnya. Tetapi aku tidak tahu apakah aku bisa.
Aku hanya berdiri di sana sementara ayunan anakku terus bergerak perlahan. Pandangan matanya berpindah dari wajahku ke surat yang berada di tanganku. Surat diagnosis dokter yang menyatakan bahwa aku menderita amnesia.
Depresi berat setelah istriku meninggal membuatku sering lupa ingatan.
Dytta turun dari ayunan dan menatapku sebentar. Sambil tersenyum kecil dia menghambur dalam pelukanku. "Aku sayang Ayah."
©©*©©