Sebagai perempuan modern, bukankah impianmu itu terlalu sederhana, Bu? Kau hanya ingin kami bahagia, kan?
Tidak salah, memang. Tapi Kartini berjuang cukup keras untuk membebaskan mimpimu ke angkasa. Bukan sekedar konco wingking* laki-laki. Kau cukup cerdas menjadi bukti nyata kesuksesan Kartini. Pikiranmu terlalu lucu untuk sekedar mengelak,”Aku tidak ingin kau menemui rumah dalam keadaan sepi ketika pulang sekolah.”
Aku tahu alasanmu tidak sesederhana itu ketika kau menikah dengan ayah 15 tahun yang lalu, saat memutuskan berhenti bekerja di perusahaan mentereng.
“Kalau saja ibu tidak keluar, sekarang pasti sudah jadi manajer yang gajinya belasan juta,”gerutuku suatu hari.
“Belasan juta sih, iya. Tapi ibu akan kehilangan sebagian besar waktu bersamamu.”
“Apa waktumu bersamaku bisa membayar cicilan rumah ini?’
Kau memandangku lama, seperti berpikir apa yang hendak dikatakan. Aku tahu. Mungkin aku sudah kelewatan. “Nyatanya kita hidup susah seperti ini,” tambahku mencari pembenaran.
Kau tak menjawab dan mengalihkan perhatian pada gorengan yang sudah saatnya dibalik. Aku memandang dapur kita yang sekarang menjadi tempat usaha baru. Blender, wajan, pisau, talenan, dan alat masak lain bertebaran tidak teratur. Sejak ayah meninggal 4 bulan lalu, kita berusaha keras untuk bertahan hidup dengan membuka angkringan di depan rumah.
“Kau keluar saja. Ibu belum mengelap meja di depan,” ujarmu.
Dengan kesal aku menyambar lap dan keluar. Aku mengelap meja angkringan dengan keras.
“Kasihan mejanya, Ra.” Aku mendengar suara Keyla, sahabatku yang tiba-tiba sudah duduk di depanku.
Aku ikut duduk dan melempar lap. “Aku heran sama ibu yang selalu berprestasi di sekolah. Dapat kerja pun tak susah. Tapi ia berhenti bekerja setelah menikah dengan ayahku. Kalau saja ibu masih bekerja, kami tak perlu susah-susah seperti ini ketika ayah meninggal.”
Keyla tidak menjawab. Ia sudah membuka makanan ringan, makan dengan cuek seakan tidak memperhatikan perkataanku. Tapi aku tahu pasti telinga anak ini terbuka lebar dan mendengarkan. Jadi, aku lanjutkan saja,”Ibu bisa meraih mimpi setinggi apa pun karena kecerdasannya. Kini aku melihatnya bekerja keras di dapur, berjualan di angkringan, dan digoda laki-laki. Ya Tuhan, belum genap 5 bulan ayahku meninggal!”
Keyla mengambil lagi satu bungkus makanan ringan, sedang aku masih asyik melanjutkan,”Aku tidak mau seperti ibu. Meski aku perempuan dan mungkin tidak sepandai ibu, aku harus punya karir yang bagus. Aku tidak mau lemah dan bergantung pada laki-laki.”
Tiba-tiba Keyla menimpali,”Ibumu tidak lemah.”
Aku memandang Keyla datar. “Aku tidak minta saran bijakmu.”
Keyla menggeleng lalu memajukan dagunya menunjuk ke suatu arah. Aku mengikuti pandangannya. Terlihat kau mengangkat galon dari dalam rumah. Bukan pemandangan mencengangkan karena kau memang sudah biasa melakukannya. Tapi aku tetap memukul lengan Keyla.
Kau sampai juga di angkringan. Aku membantumu menempatkannya di dispenser di atas meja.
“Kamu sudah selesai mengelap meja?” tanyamu sambil melihat meja angkringan.
“Hem.” Aku mengangguk singkat.
Kau tersenyum. Selalu saja begitu. Kau tak pernah marah. “Kamu masih marah sama ibu?” tanyamu santai.
Keyla tanpa sungkan menimpali,”Kutuk aja, Tante. Punya ibu terbaik di dunia harusnya disayang-sayang.”
Aku mendelik pada Keyla yang tak mengerti situasi. Keyla hanya angkat bahu dan bertanya padamu,”Gorengannya mana, Tante?”
“Tuh, masih di dapur.”
Keyla segera berlari menuju dapur.
“Dia akan menghabiskan gorengan lagi, Bu!” Aku menaikkan nada bicara.
“Nggak papa. Nanti kita buat lagi.”
Inilah yang tak bisa kumengerti. Hey, kita hidup di zaman milenium, bukan jaman para nabi. Tambahan, kau juga mendapat gelar master di bidang ekonomi. Kau tahu pasti, hukum untung rugi berlaku di sini.
Kau menatapku dan bertanya,”Jadi, apa yang harus ibu lakukan agar kamu bahagia?”
Aku merasa kasihan padamu. Janda beranak 3 yang belum punya penghasilan tetap. Aku mengamati matamu yang menyiratkan kepedihan. Aku masih melihat air mata menggantung. Aku melihat bayanganku dan kedua adikku di sana. Ketika aku melihat lebih dalam, aku tersadar. Aku salah. Kau sama sekali tidak lemah. Itu bukan mata kesedihan, melainkan mata kekuatan.
“Permisi.”
Kita tersentak oleh suara lembut bu Rina.
“Bu Eni, roti buatan ibu enak sekali. Saya mau pesan lagi untuk syukuran anak saya yang masuk kedokteran.”
Aku tidak memperhatikan pembicaraan yang terjadi antara kau dan bu Rina. Aku hanya mengamati Bu Rina, tetangga kita. Suaminya sudah meninggal 3 tahun lalu. Namun, hal itu tidak berpengaruh banyak pada kondisi ekonomi keluarga karena bu Rina bekerja sebagai dosen. Bahkan sekarang ia sudah mendapat gelar profesor. Putra-putrinya juga berhasil mendapatkan pendidikan terbaik.
Aku benar-benar menyesal pada pilihan konyolmu 15 tahun yang lalu. Setelah bu Rina pergi, aku pun menyeletuk padamu,”Aku ingin Ibu bekerja.”
Kau memandangku heran.”Ibu sudah bekerja,” katamu sambil mengedarkan padangan ke angkringan.
Aku menarik nafas dan memberanikan diri mengucapkan ini,”Aku malu punya ibu bergelar master tapi berjualan angkringan.”
Aku menyayat hatimu lagi? Aku tak akan meminta maaf. Aku mengatakan ini agar kau sadar, kau terlalu berharga untuk menjadi penjual angkringan. Kau cerdas, cantik, dan berbakat. Kau berhak bermimpi tinggi dan bahagia.
Beberapa hari kemudian, kau menyodorkan selembar poster penerimaan pegawai di sebuah perusahaan baru milik temanmu. Tidak prestisius, tapi cukup untuk awalan bagi janda beranak 3 bergelar master berumur 40 tahun, dan tidak punya pengalaman kerja selama 15 tahun terakhir.
Nepotisme berlaku di sini. Kau diterima bekerja di sana dan menjadi seorang ibu impianku. Aku bangga melihatmu berpakaian rapi setiap hari dan dapat menerima gaji setiap bulan.
Aku mengelap gerobak angkringan dengan semangat. Sebentar lagi, gerobak ini akan diangkut ke tempat barang bekas. Halaman rumah menjadi seperti sedia kala. Rapi, bersih, dan tertata. Tak ada lagi para pembeli angkringan yang genit dan tidak sopan padamu.
Aku tersenyum melihat dapur yang kini sudah layak menjadi tempat iklan pembersih piring. Kita bisa mencicil pelunasan rumah dengan damai. Yang paling membahagiakan, aku tidak malu lagi mempunyai ibu sepertimu. Mengenai waktumu yang terkuras habis di kantor, aku yakin itu bisa diatur seiring berjalannya waktu.
Rupanya kedua adikku tidak sependapat. “Ibu jahat!” Teriak mereka untuk kesekian kali, karena kamu pulang malam terus. Mereka berlari keluar meninggalkanmu termangu. Jantungku ikut berdetak keras mendengar mereka mengucapkan kata-kata itu. Tidak pernah sekali pun, selama ini, ada yang berani berteriak padamu.
Aku memandang wajah kuyumu dengan prihatin. Kau terluka. Sangat dalam. Air mata mengalir di pipimu. Kupandang sekali lagi, berkali-kali. Berharap bisa menemukan mata kekuatan itu lagi. Tapi nihil. Aku mulai curiga, jangan-jangan semua ini hanya tentang impianku.
Keterangan:
*Konco wingking (Bhs. Jawa) : teman belakang