Malam baru menjelang, Gita gerak cepat membuka medsosnya. Ia langsung mempromosikan puisi haiku yang ia tulis sampai begadang malam sebelumnya.
Gita merupakan penulis haiku yang cakap. Bahkan seringnya ia mengupload konten haiku dengan format lima tujuh lima. Suatu hal yang bagi penulis modern pun, sulit ditulis dalam rentang waktu setiap hari.
Ia pun kadang menulis haiku modern, meski sedikit lebih ramai haiku tipe klasik.
Gita sendiri sebetulnya kualitas menulisnya bila dikelaskan masih berada di grade B+, bukan tipe A atau bahkan kelas super yang bisa memadukan antara bahasa yang indah, dengan cerita kelas wahid. Khas penulis sastra melayu era lima puluh dan enam puluhan.
Gadis asal Palembang tersebut lebih berbakat sebagai storyteller, dimana isi haikunya mengalir. karena itu mudah bagi Gita untuk menulis haiku yang lebih menekankan pada imaji yang membuat pembacanya merasakan momen yang ditulis secara langsung, ketimbang ia menulis karya lain semisal cerpen.
Tapi sudah dua jam, tulisan Gita baru ditonton tiga puluh delapan orang. Gita tidak tahu, banyak orang sudah jengah dengan promosinya. Bahkan sudah banyak yang mengira karya dari Gita adalah AI. Gita tidak pernah tahu itu dan terus mempromosikan karyanya setiap hari.
Gita sendiri terjebak dalam situasi, ia baru lulus setahun ini dari kuliahnya, tetapi usianya untuk bidang yang ia geluti, lebih memilih pekerja pria. Akibatnya Gita menganggur, meski kadang membantu bibi nya untuk jaga toko, tapi itu bukan pekerjaan tetap.
Lalu Gita melihat lowongan. Sebuah toko swalayan besar yang setahun sekali membutuhkan karyawan. Disitu tertulis batas usia karyawan atau karyawati adalah tiga puluh lima tahun.
Usia Gita yang masih dua puluh tiga, membuatnya masih memiliki peluang untuk mendapatkan posisi di toko tersebut. Sayangnya, Gita tidak punya uang untuk ke Jakarta. Ia awalnya kebingungan mau mencari uang darimana, sebab dirinya yatim piatu. Dua saudarinya sendiri sedang kerepotan dengan rumah tangga mereka.
Mulanya Gita lupa jika dirinya berbakat menulis, tapi saat scroll Facebook, dirinya menemukan tulisan lamanya. Banyak tanggapan disana, dan itu haiku klasik karyanya. Awalnya ia lupa cara untuk menulis haiku. Untungnya karena berbakat, ia bisa kembali menulis haiku, setelah belajar dalam waktu singkat.
Kemudian atas usul seorang teman, Gita pun membuat channel di medsos, baik itu TikTok, YouTube, Facebook Pro, dan lainnya. Awalnya tanggapan dari banyak orang ramai. Hal itu dikarenakan haiku klasik adalah puisi yang bagi pro saja sulit ditulis. Dan tentu ia pun mempromosikannya.
Selang beberapa bulan, Gita mulai menulis haiku modern atas saran salah satu pembacanya. Tanggapannya pun ramai. Hal itu terus terjadi selama beberapa bulan, hingga akhirnya penikmat merasa jengah, karena disodori promosi setiap hari. Lambat laun pun penonton haiku karya Gita berkurang.
Gita sendiri mengejar target untuk mendapatkan dua puluh juta rupiah dalam satu tahun, demi pekerjaan impiannya. Dirinya yang terlalu bernafsu membuatnya khilaf sampai terus promosi setiap hari. Ia tahu betul untuk jurusan kuliahnya, hanya swalayan tersebut yang bisa menerima.
Akibat Gita yang terlalu bernafsu, banyak pengikutnya di medsos merasa ilfeel. Perlahan satu persatu followers nya pergi. Kadang Gita menyadarinya, tapi ia mengira itu bukan karena promosi.
Jika saja Gita tahu, ia tetap akan promosi. Sebab targetnya adalah satu tahun, sedang Gita sendiri terus mengejar jam tonton dan pengikut. Gita tidak pernah melakukan promosi berbayar, karena uangnya hanya cukup untuk kebutuhan hidup.
Sayangnya penonton yang jengah, membuat targetnya tersendat. Ditambah rumor AI yang entah awalnya berhembus darimana. Tapi Gita tidak peduli, komenan bertuliskan "ini AI" sudah jadi keseharian. Ia tetap menulis haiku setiap hari, baik haiku klasik maupun modern.
Gita tetap menulis agar targetnya tergapai. Mungkin butuh delapan atau sembilan bulan lagi supaya dirinya bisa mencapai itu. Gita tidak tahu, jika sudah memenuhi target, itu tidak menjamin dirinya mendapat uang banyak yang ia dambakan.
Kali ini pun jam dinding menunjukkan jam setengah tiga pagi. Gita terus menulis, meski fakta semakin jauh, dan viewers yang mendapat pesan promosinya semakin jengah. Gita tetap menulis haiku dengan harapan yang besar. Ia berharap suatu hari bisa bekerja di tempat impiannya.