Disukai
1
Dilihat
12
Ranjem
Horor
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Kepala Andre pusing. Ia merasa tersesat. Dalam lubuk hatinya ada kenangan. Kenangan masa kanak dan remaja, di tempat permai.

‎Tapi kali ini kepala Andre sakit, lalu muncul sekelebat ingatan. Tadi ia menjelajah hutan di sebuah desa di Kabupaten Banyumas. Hanya untuk mengeksplor, siapa tahu ada hal yang tak pernah tersibak.

‎Andre dan kawan-kawannya sendiri terinspirasi dari berbagai penjelajahan di seluruh dunia. Ya, niat mereka menjelajah memang untuk menemukan sesuatu.

‎Tadinya Andre bertiga dengan Imang dan Faisal. Tapi kedua sahabatnya itu raib. Padahal seingat Andre, ia juga Faisal dan Imang sedang makan siang untuk mengisi tenaga. Juga untuk membuat mereka tetap waras saat tersesat.

‎Tapi kali ini kondisi Andre sangat lemah, ia pun pingsan. Lalu saat siuman, tercium aroma sedap. Andre tahu itu gorengan. Bau khasnya terasa. Tapi ia tak tahu itu gorengan apa.

‎Saat mata Andre terbuka, ia sudah berada di sebuah ranjang. Ia langsung tahu dirinya diselamatkan warga kampung terdekat, karena ranjang serta dekorasi kamarnya khas pedesaan.

‎Andre terbangun, saat melangkah keluar ia melihat seorang ibu seperti sedang melakukan ritual. Andre menunggu. Dirinya tahu itu ritual adat desa setempat yang pantang disinggung. Karena Andre sangat tahu bagaimana sakitnya hati jika keyakinan yang ia atau yang ia sayangi anut didebat.

‎Ibu tersebut selesai melakukan ritual, Andre sudah siap membuka suara, tetapi wanita yang memperkenalkan namanya Partini itu menyapa dulu. Ia bersyukur Andre nampak sehat, setelah ditemukan oleh beberapa pemuda.

‎Andre mengangguk. Mengucapkan terima kasih. Ia mengobrol beberapa saat dengan Partini. Seperti yang Andre tebak, Partini bingung saat Andre menyebut kata medsos, facebook, internet dan lainnya. Yang Partini tahu hanya listrik dan televisi. Itu pun masuknya baru ketika era presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

‎Beberapa menit mengobrol Partini menawarkan Andre makan, tapi ditolak. Partini memaksa. Ia mengatakan menyajikan ranjem. Makanan khas Banyumas. Andre yang penduduk Jakarta Timur pun tergoda. Ia akhirnya mau mencicipi.

‎Gigitan dan kunyahan pertama, Andre kaget karena ada rasa yang begitu khas. Rasa otentik yang tak ada di gorengan manapun. Rasa antara pedas manis bercampur gurih, yang bahkan lebih nikmat ketimbang isian combro.

‎Andre pun mengambil satu buah lagi, menyantapnya, hingga santapan ke delapan. Saat mau mengambil yang kesembilan, Partini memukul tangan Andre. Partini mengingatkan, bahwa tidak boleh terlalu banyak memakan ranjem. Karena bagi siapa pun yang melanggar, yang bersangkutan wajib dipendam hingga hanya menyisakan kepala saja.

‎Andre bergidik. Ia tahu aturan desa memang memiliki resiko sendiri untuk dipantang. Meski begitu Andre memang orang yang bebal.

‎Ia malah memutuskan, untuk memasukkan banyak ranjem ke kantong kresek yang ada di tasnya, saat Partini permisi untuk menyusui putri bungsunya.

‎Andre sebetulnya tidak tahu kenapa ada kantong kresek di tasnya. Hal yang seperti kebetulan itu tak ia pikirkan lebih jauh. Andre pun kabur dari rumah Partini.

‎Ia berlari menjauh. Ia berlari sambil mengamati. Dari suasana, memang desa di dekat hutan Banyumas tersebut bernuansa khas delapan puluhan, yang sering ia lihat di internet.

‎Tanpa peringatan Andre menabrak tubuh seseorang. Andre meminta maaf. Tapi setelah dilihat lebih jelas lagi, itu adalah Faisal. Benar-benar identik. Bahkan tahi lalat di kening pun ada.

‎Saat ditanya kenapa Faisal ada di desa, ia marah. Faisal menyatakan namanya adalah Diono. Tubuh kecil Faisal yang mengaku sebagai Diono mendorong tubuh atletis Andre. Andre heran sebab biasanya Faisal lemah, tapi entah mengapa Andre bisa terpental beberapa jengkal.

‎Diono pun pergi meninggalkan Andre yang masih tergeletak. Dengan rasa sakit di punggung akibat menghantam tanah, Andre mencoba berdiri lalu berjalan tertatih. Ia mampir di sebuah gubuk, kemudian makan beberapa buah ranjem.

‎Dan saat di gubuk itulah, dari kejauhan Andre melihat angkringan. Entah mengapa ia begitu jelas melihat ranjem. Sadar ranjemnya sudah hampir habis, ia pun menuju warung tersebut.

‎Saat tiba di warung yang entah mengapa berada di tengah hantaran sawah sepi, Andre kembali menemukan hal tak masuk akal. Ia dapati Imang lah penjual gorengannya. Namun dengan logat banyumasan kental yang tak dimiliki Imang yang asli Manado dan menetap di Jakarta. Tukang gorengan tersebut mengaku bernama Untung.

‎Andre sebetulnya bingung. Tapi lidahnya sudah tak tahan digoyang gorengan baru favoritnya. Ia pun menikmati lima buah ranjem. Saat Untung yang mirip Imang tersebut menanyakan berapa yang diambil, dari lima Andre hanya mengaku menghabiskan tiga.

‎Saat akan merogoh uang di sakunya secepat kilat kepala Andre dihantam. Andre tahu itu adalah balok kayu. Andre tidak merasakan tubuhnya digotong. Ia lebih merasa seperti melayang. Seperti terbang di udara ringan, namun udara nya pengap dan berbau busuk.

‎Saat membuka mata tubuh Andre sudah dipendam. Tersisa kepalanya saja yang membuat dirinya sesak. Andre sangat tahu kesalahannya, karena itu ia meminta maaf dan menangis. Lalu Partini muncul. Ia menyatakan Andre rakus dan egois. Bukannya mencari kedua temannya dan pulang, ia malah lebih mementingkan perut dan lidah.

‎Andre pun mencoba menjawab, Imang dan Faisal kini telah berubah. Untung serta Diono yang tidak terima melempar batu. Menggores pelipis dan atas daun telinga Andre. Andre mengaduh.

‎Andre kemudian mencoba merayu. Partini yang sudah keriput tersebut ia katai cantik dan kharismatik. Partini mendekat, ia melepaskan kepalanya. Meletakkan itu tepat di depan batang hidung Andre.

‎Partini tak memedulikan Andre yang menjerit keras, panik, serta ketakutan. Ia hanya berkata, Andre boleh memandangi wajahnya selama satu jam, jika memang dirinya cantik. Akibatnya Andre lemas lalu tak sadarkan diri.

‎***

‎Dua minggu berlalu, Andre lupa segalanya. Ia berubah menjadi seorang bocah cilik bernama Prapto, dan berteman dengan Diono serta Untung.

‎Kala itu tahun 2005. Kebetulan ia juga menyaksikan presiden datang langsung ke desa, yang dalam ingatan Andre sebagai Prapto, ia kenal sebagai Desa Mayang.

‎Kadang saat bermain dengan teman-teman sebayanya, Prapto terngiang sekilas bayangan masa lalu bahwa nama sebenarnya adalah Andre. Ia kadang mencium aroma yang sama sekali tidak ia kenal sebelumnya, yaitu aroma ranjem.

‎Prapto tahu ingatan tentang ranjem kadang muncul di dalam mimpinya. Tapi semua orang mengatakan lebih baik ia jadi tukang gorengan, dan menciptakan gorengan baru jika sudah dewasa. Hal yang selalu didebat Untung. Menyatakan dirinyalah yang akan menjadi tukang gorengan.

‎Lalu Prapto juga sering menceritakan pada Partini yang kini adalah ibunya. Bahwa Prapto merasa ia mengenal dan mengingat berbagai macam teknologi, yang seingat dirinya teknologi digital. Partini tertawa kecil. Menyatakan fitur handphone Andre saja yang paling canggih, teknologi video call, sulit dinalar.

‎Sambil berlalu ke belakang, Partini mengatakan Andre memang berbakat sebagai pengarang. Saat mendengar Partini berkata seperti itu, Prapto dikejutkan oleh kilatan sekilas kepala Partini yang terlepas dari lehernya. Untuk sekilas pula ia ingat dirinya pernah dipanggil sebagai Andre.

‎Prapto berteriak histeris. Partini panik. Ia mendekati putranya yang usianya beranjak menuju sembilan tahun. Partini membelai rambut Prapto. Menyuruh putranya tersebut segera cuci kaki, cuci muka, serta sikat gigi, kemudian tidur.

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Horor
Rekomendasi