Arsya melihat rapotnya. Wajahnya murung. Ia sendirian tidak naik kelas.
Tapi bukan itu yang membuatnya sedih. Ia lebih sedih karena ia sebatang kara.
Ibunya meninggal ketika melahirkannya, diakibatkan sang ayah hanya bisa membayar dukun bayi. Sayangnya dukun bayinya kurang berpengalaman.
Sedang sang ayah tewas dalam kerusuhan besar, dikompori cukong tanah, yang mengklaim tanah yang faktanya bukan hak mereka. Saat itu usia Arsya lima tahun.
Arsya dirawat neneknya, tapi tiga tahun kemudian sang nenek meninggal dunia. Sedangkan sang kakek telah tiada jauh sebelum Arsya lahir.
Ia akhirnya dirawat sang bibi, tapi bibinya tersebut sibuk dengan buah hatinya sendiri, meski akrab tetap saja Arsya dinomorduakan.
Akibatnya ia belajar seadanya. Hampir tanpa dukungan siapapun. Sang bibi memang membantu, masih membiayai biaya sekolah. Tapi bibi Arsya untuk soal pelajaran, jauh memprioritaskan putranya.
Arsya bingung, ini kedua kalinya ia tinggal kelas. Bingung bagaimana ia bisa membagi waktu antara belajar, dengan membantu mencari penghasilan, demi bertahan hidup.
Sebab bibinya hanya sanggup membiayai pendidikan. Karena sang bibi termasuk orang tak mampu, yang gajinya hanya sanggup untuk pendidikan. Dimana hutang menumpuk, dan cicilan serta debt collector selalu menghantui.
Arsya melewati ruang kelasnya, berhenti di depan pintu. Dalam hati ia berpikir,
"Apa lebih baik aku keluar dari sekolah. Kasian tante, harus keluar biaya lagi buat aku. Hidup dia aja susah."
Dan saat melangkah pergi dari depan ruang kelasnya, Arsya memutuskan untuk keluar sekolah.
Ia merasa uang bibinya terbuang percuma. Karena dengan hidup Arsya yang seperti itu, peluang untuk tinggal kelas lagi sangat tinggi.
Arsya yang sudah dewasa sebelum waktunya itu, membuang semua cita yang ia apungkan. Yang hanya bisa digapai dengan bersekolah.
Arsya sadar realitas hidupnya, tak mendukung untuk jalan dari impiannya.