Nanang menatap layar laptopnya, ia menelan ludah, sudah setengah jam ia berada di depan laptop, tapi ide tak kunjung muncul.
Nanang adalah seorang penulis, ia berbakat dan berdedikasi, meski seringnya orang mengabaikan karyanya, tapi yang paling kuat dari dirinya adalah, ia anti AI, baik meminta ide atau hal curang lainnya, hal yang jarang dimiliki mungkin hampir semua penulis modern.
Pemuda 20 tahun tersebut terus memikirkan ide, ditambah waktu tidak bisa diajak kompromi, apalagi batas penyerahan lomba menulis cerpen di aplikasi kepenulisan Kwikku tinggal beberapa jam lagi.
Terkadang terbersit di pikiran Nanang untuk mengkhianati komitmennya,
"Apa harus minta bantuan AI aja?"
"Ngga apa kali ya kalo cuma ide"
Untungnya langit tak membiarkan pikiran sesat dari Nanang itu menjadi nyata, tiba-tiba di pikirannya muncul konsekuensi masa depan, bayangan jika Nanang memenangkan lomba dan ia ketahuan memakai AI, kemudian karena hal tersebut reputasinya hancur berantakan.
Karena meski banyak yang mengabaikan karyanya, ada beberapa orang yang dengan setia membaca karya pemuda asal Situbondo tersebut, apalagi ibu dan ayahnya juga membaca, pemuda keriting tersebut tak mau membohongi ayah dan ibunya, juga pembaca setia yang meskipun jumlahnya tak seberapa, amat mengakui bakatnya.
Sepupu dan bibi dari Nanang pun pembaca setia, ibu dan bibi Nanang juga sering membanggakan tulisan Nanang ke para tetangga atau ke teman medsos mereka. Apa jadinya kalau nanti ada satu tulisannya yang AI dan semua orang menganggap semua karya Nanang adalah karya AI, tentu itu akan jadi malu besar bagi sang ibu dan sang bibi, dan Nanang tak mau itu.
Tiba-tiba Ilham datang, ia baru sadar sejak tadi ada ide yang begitu besar, ide itu justru datang dari masalahnya sendiri, yaitu seorang penulis yang buntu sedang waktu lomba menulis sudah mepet, dan ia tergoda memakai AI, tapi takut konsekuensi nya di masa depan.
Nanang pun segera mengkonsep idenya tersebut, waktu delapan jam cukup baginya dari mulai mengkonsep sampai membuat karyanya menjadi karya utuh. Detik itu juga Nanang pun mulai menggarapnya.