Orang Ketiga
Di jok belakang, Mawar mendengarkan obrolan suami istri yang kini membawanya pergi entah ke mana. Ia tak hafal jalan yang penuh kelok dan kian menanjak itu.
"Mah, sebenarnya tujuan kita mau ke mana?"
"Kamu nyetir aja. Enggak usah banyak nanya."
"Iya, tapi ke mana? Aku udah nyetir hampir 8 jam, loh."
"Pa! Baru segini aja kamu udah ngeluh."
"Aku capek Mah, lelah! Aku butuh istirahat."
"Ini enggak ada apa-apanya dengan perbuatan kamu, Pa! Kamu pikir, selama setahun aku kamu duakan, aku gak capek? Aku gak lelah?!”
Sang suami diam tak berkutik. Ia tak lagi bisa membantah tiap perintah istrinya sejak kepergok bersama selingkuhannya sore tadi. Perjalanan yang melelahkan itu membuat konsentrasinya buyar dan pandangannya pun mulai kabur.
Tak lama istrinya menyuruh menepi. Mobil yang ia setir keluar dari jalan utama dan memasuki kawasan hutan dengan jalan berbatu.
Mawar merasakan guncangan yang membuatnya tak nyaman akibat jalan yang tak rata, ia hanya bisa menerka jika perjalanan mereka menuju suatu tempat yang terpencil.
Laju mobil akhirnya berhenti. Tak ada yang membuka percakapan, hanya keheningan malam dan suara serangga-serangga hutan yang mengisi gelap malam.
"Di depan sana ada sebuah jurang, kamu angkat dan buang koper itu ke sana," si istri memerintah suaminya tanpa mengalihkan pandang dari kaca spion. Sang suami manut, dengan sisa tenaga menyeret sebuah koper menuju tempat yang ditunjuk istrinya.
Mawar tersenyum, kini ia tahu ke mana jasadnya akan dibuang.