Flash Fiction
Disukai
0
Dilihat
13
Mantan (Malam Pertama)
Romantis
Flash Fiction ini masih diperiksa oleh kurator

“Coba sebutkan siapa saja mantanmu?”

“Untuk apa kau menanyakan hal itu? Ini kan malam pertama kita.”

“Aku hanya ingin mendengarkannya sebelum kita memulai malam pertama ini.”

“Apakah itu penting?”

“Ya. Ceritakan.”

 

“Namanya Budi. Selama pacaran, kami hanya makan bersama di kantin saat istirahat, pergi ke toko buku, mengikuti ekskul serupa di sekolah, dan tidak ada malam mingguan. Budi anak berprestasi di sekolah dan karenanya nilai sekolahku tidak jelek-jelek amat. Hubungan kami bertahan hingga lulus sekolah dan putus begitu saja ketika kami melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi berbeda. Kini aku tak tahu lagi di mana Budi, bahkan aku lupa rupanya seperti apa.”

 

“Lalu aku menjalin kasih dengan Alim. Bukan menjalin, aku yang jatuh cinta padanya, sampai aku tahu dia tak pernah ada rasa untukku. Aku kepalang cinta, ia membuatku jadi budak cintanya. Bodohnya aku tak peduli meski rasaku tak berbalas. Dan kau tahu? Aku menghamba padanya, segalanya kuberi, tak ada rahasia, tak jera, sekalipun aku pernah meminta maaf karena menangis ketika ia memukulku, hingga puncaknya aku laporkan dia ke pihak berwajib. Tak usah kau tanyakan kenapa. Aku sudah tak ingin mengingat bagian itu lagi.”

 

“Dan Satria, lelaki yang membuatku dapat melupakan rasa sakit hati selama percintaan, dia mampu meyakinkanku untuk percaya pada sebuah ikatan cinta. Tiga tahun bersamanya menjadi masa terbaik yang pernah aku lewati. Kami menjalin kasih hingga akhirnya memutuskan untuk menikah, sampai pada suatu hari, dan aku menjadi tahu kenapa tak pernah sekali pun ia menyentuhku. Satria tak pernah bergairah padaku, hasratnya bergejolak pada jenis kelamin yang sama. Menyedihkan, bukan? Ya, lainnya hanya cinta semalam atau seperluanya saja. Kadang aku berpikir apakah ada cinta yang layak untukku? hingga aku memutuskan untuk selamanya bersama denganmu.”

 

Di depan cermin, Ajeng tersenyum. Sebentar lagi pukul 12 malam, ia akan merayakan hari lahirnya. Ia telah memutuskan akan dengan siapa di usianya yang beranjak menuju angka 30 sampai akhir masa usianya.

 

Ajeng mematikan lampu kamar, beranjak ke tempat tidur, melepaskan piyama dan merebahkan diri. Ia memejamkan mata, menyenandungkan lagu Selamat Ulang Tahun sambil menelusuri tubuhnya dengan jemari menuju tempat yang ia inginkan.

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)