Mudah sekali bagi air mataku turun apabila menyangkut putraku. Mulai dari pertama kali aku melihat dua garis merah di test pack, air mataku sudah turun deras. Selama sembilan bulan tidak pernah sehari pun hatiku tak berdegup kencang menantinya.
Sembilan bulan berlalu, aku kembali menangis ketika berusaha sekuat tenaga untuk mengeluarkannya dari rahimku. Teriakan, tangisan, dan doa terus aku lantunkan hingga suara tangisannya menyaingi tangisku.
Tangisan putraku begitu kencang dan lantang, aku yakin dia akan menjadi pria tangguh di masa depan. Dan aku terus menangis setelah itu.
Aku menangis ketika untuk pertama kalinya putraku tersenyum melihatku. Aku menangis ketika putraku berhasil tengkurap setelah puluhan kali mencoba. Aku menangis ketika putraku berhasil duduk tegap tanpa bantuan bantal dan guling sebagai benteng perlindungan.
Aku menangis ketika putraku berhasil mendapat langkah pertama, langkah kedua, dan langkah-langkah selanjutnya. Aku menangis ketika putraku memanggilku, "Ibu! Ibu! Ibu!"
Aku menangis ketika putraku menenteng tas yang lebih besar dari tubuhnya. Aku menangis ketika wajah putraku lebam-lebam karena bertengkar dengan temannya di lapangan bola.
Putraku tumbuh begitu cepat ketika aku masih melihatnya sebagai bayiku. Dia menjadi seperti yang aku inginkan. Tampan dan tinggi. Sangat membantuku untuk memasang bohlam lampu.
Dia juga pintar, selalu mendapat ranking satu. Bahkan sering sekali pulang membawa piala lomba debat. Dan sampai pada waktunya aku menjadi lawan debatnya.
Aku menangis ketika putraku mulai berani membantahku. Aku tahu ia sudah remaja dan sudah baligh. Aku tak melarangnya untuk bersenang-senang dengan teman atau perempuan cantik di kelasnya. Tapi aku hanya takut ia kelewat batas ketika sering kali ku pergok putraku pulang malam.
"Ibu tidak ada hak untuk menasehatiku. Aku sudah besar. Aku berhak nentuin hidupku sendiri!"
"Tapi kamu anak ibu. Sampai kapan pun anak ibu."
"Anak haram tepatnya."
Dadaku sesak. Sulit sekali untuk mengambil napas.
"Nggak pernah ibu anggap kamu gitu."
"Tapi faktanya memang begitu kan, Bu. Aku tak pernah tahu siapa ayahku atau di mana dia sekarang. Atau bahkan Ibu pun tak pernah tahu yang mana?"
""Be-rani...kamu ngomong gitu sama ibu? Nggak takut jadi anak durhaka?"
"Anak durhaka?" Putraku tersenyum sinis kepadaku.
"Kamu lupa? Surga ada di bawah telapak kaki ibu."
Putraku tertawa sinis. Dia menatapku tajam dengan matanya yang tak lagi manis.
"Telapak kaki Ibu mana yang pantas ditempati surga?"
Seketika air mataku berhenti turun. Rasanya duniaku seketika berhenti mendengar ucapan itu keluar dari mulut putraku. Perlahan aku menatap telapak kakiku yang bersih, putih, dan mulus. Telapak kaki yang selalu mendapat tamu baru setiap minggu. Bukan untuk mengetuk pintu surgaku, tetapi untuk mengetuk pintu nerakaku.