Flash Fiction
Disukai
0
Dilihat
6
Jam Malam
Drama
Flash Fiction ini masih diperiksa oleh kurator

Untuk pertama kalinya selama 20 tahun, aku tidak melihat senyum terbit di wajah suamiku. Wajahnya murung sekali sejak putrinya yang sudah gadis berpamitan untuk main bersama teman laki-laki. Bahkan dengan garang, kedua tangannya di taruh di pinggang, ia berpesan pada pemuda yang ketakutan agar memulangkan putrinya sebelum jam sepuluh malam. Jika tidak pemuda itu akan habis.

Sekarang sudah hampir jam sepuluh malam, sementara putrinya belum juga dipulangkan. Suamiku mengambil sebuah kayu kecil yang biasanya digunakan untuk memukul kentongan ketika piket kamling. Langkahnya gusar. Berjalan mondar-mandir di teras rumah sambil mengayun-ayunkan kayu ke udara.

Ketika jam sepuluh sudah lewat dan putrinya belum kunjung pulang, ia ayunkan kayu kecil ke pilar rumah dengan keras. "Awas saja! Akan aku habisi pemuda nakal itu," teriaknya penuh amarah.

Wajahnya merah sekali, sangat siap dipetik. Sangking pedasnya aku bahkan melihat bulir-bulir keringat sebesar biji jagung terus menetes di pelipis suamiku.

Tidak mau amarah suamiku benar-benar meledak, aku mencoba menenangkannya. "Jika kau habisi pemuda itu, putrimu akan membencimu," kataku begitu santai duduk di kursi teras rumah.

"Kenapa putriku membenciku? Dia putriku. Darah dagingku."

"Putrimu akan bersedih melihat orang yang dia sayangi terluka."

Suamiku terdiam. Binar merah di wajahnya perlahan memudar. Dia menatapku lekat-lekat dengan napasnya yang tak beraturan. "Apakah dulu kau pun bersedih ketika ayahmu memukuliku?" tanyanya. Bisa aku lihat matanya mulai berkaca-kaca.

"Sangat sedih. Aku mogok bicara dengan ayah selama tiga bulan."

"Karenaku?" tanyanya lagi. Ekspresi wajah sedih suamiku begitu lucu. Bagaimana bisa seorang pria yang mukanya sepedas cabai tiba-tiba berubah menjadi semanis stroberi?

"Karena aku mencintaimu."

Malam pun berakhir dengan aku yang dibopong ke kamar. Suamiku tak bergeming ketika mendengar derap langkap seseorang yang mencurigakan naik ke lantai atas. Ternyata usahaku meredam amarah malah menghabisiku.

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Rekomendasi