Telinga ibu selalu disumpal dengan headset kabel beda-beda warna. Sabtu kemarin warna merah. Sabtu lusa kemarin warna putih. Lalu sabtu ini warna hitam. Aku yang menemani ibu membeli headset kabel itu di pasar malam. Sekaligus membeli 100 lagu seharga 10 ribu rupiah. Juga arum manis yang sebesar wajahku.
Dari 100 lagu yang dibeli ibu, aku tidak pernah mendengarkannya satu pun. Sebab ibu selalu mengenakan headset kabel. Tak pernah mau berbagi denganku.
Setiap malam ketika aku sedang mengerjakan tugas sekolah di depan ibu, tidak pernah aku mendengar ibu bersenandung atau melihat ibu berjoget mengikuti alunan lagu. Malah yang aku dengar ibu berbisik-bisik, begitu lirih. Sesekali aku juga melihat ibu tertawa kecil. Ketika aku mempergoki ibu, beliau akan langsung menciutkan bibir. Kemudian menyuruhku fokus mengerjakan tugas.
Hari demi hari rasa penasaranku semakin menggebu-gebu. Aku ingin mendengarkan lagu yang membuat ibu tertawa. Seenak apakah lagu itu?
Di suatu malam ketika tiba-tiba bude mampir ke rumah, ibu meninggalkan ponsel serta headset kabelnya yang masih tertancap di sebelahku. Ibu berbincang lama dengan bude di ruang tamu. Kesempatan itu aku gunakan untuk menyumpal telingaku dengan headset kabel, sambil mataku terus mengawasi punggung ibu.
Keningku mengerut. Lagunya aneh sekali. Seperti suara angin, atau suara seseorang yang tercebur ke dalam kolam. Semakin lama kudengarkan, perlahan aku menangkap samar-samar lirik lagunya. "Halo? Headsetnya rusak lagi ta?"
"Kan sudah aku bilang beli saja yang mahal."
"Uang yang aku kasih apa kurang?"
"Halo Sayang? Kamu ke mana?"
"Suamimu sudah pulang?"
Ketika aku mencoba fokus mendengarkan lirik yang samar-samar dan lirih itu, tiba-tiba ibu kembali dan mencabut headset kabel dari telingaku. Begitu kasar. "Ngapain kamu? Kan ibu suruh belajar bukan main HP!"
Melihat ibu marah membuatku ketakutan. Jadi aku memohon maaf dan mengakui kesalahanku. "Maaf ibu. Aku cuma penasaran ibu dengerin lagu apa."
"Kamu udah dengar apa aja?" tanya ibu begitu galak seolah aku melakukan kesalahan besar karena telah lancang menggunakan HP beliau tanpa izin.
Kedua bahuku terangkat. Aku tidak tahu apa yang baru saja aku dengar dari HP ibu. Tidak ada musik, hanya suara angin atau air kolam. Lirik lagunya juga tidak kumengerti. "Lagunya jelek sekali, Bu. Aku nggak suka. Besok Sabtu beli lagu lain saja."
Wajah menakutkan ibu perlahan memudar. Tangannya mengusap dada. Tak lama senyum terbit di wajah beliau. "Iya. Besok Sabtu temani ibu beli lagu baru ya," ucap ibu sambil mengusap-usap puncak kepalaku.
Yes! Ke pasar malam lagi, batinku bersorak senang.