Aku berjalan ketika mendung mulai datang. Jarum tangan berbisik di telingaku. Katanya, hari ini harus menemukan akhir. Walau, sebenarnya, aku tahu bahwa tak ada yang pernah benar-benar berakhir, bahkan setelah titik menjadi noktah di atas kertas.
Ia pernah, mungkin masih, menjadi nyala yang kujaga dalam setiap kegoyahan lilin. Ia pernah, mungkin juga masih, menjadi api kecil di ujung korek api--aku masih punya 50 batang yang belum kutuntaskan.
Atap rumahku gemerintik ketika payung abu-abu ini mengembang, bahkan ketika pintu belum tuntas terkunci. Aku harus berjalan ke sana, pada jalan yang memantulkan keredupan sebab air pasti menggenang di atasnya. Dan, ketika hari menuju akhir, kata malam tidak perlu diucapkan, sekejap kota ini akan menjadi setengah mengantuk. Matahari enggan bersinar ketika awan kelabu masih juga datang dan was-was masih bersemayam.
Ia sudah di jalan yang dijanjikan. Hari itu, untuk pertama kalinya, aku melihatnya kuyup. Tak ada sebatang payung pun yang digenggamnya, bahkan tak juga mantel plastik yang berwarna merah atau kuning. Jaket abu-abu yang dipakainya meredam segala goyah yang biasanya bergetar di bahunya.
"Lentera!"
"Rintik!"
"Sudah 3 bulan"
"7 Tahun!"
"78 perjalanan!"
Ringkas, kata-kata kami tak pernah sesingkat ini sebelumnya. Kulihat air yang mengalir di wajahnya menyapu segala resah yang dulu mendatanginya. Membuat malamnya terjaga, tapi tak pernah ada lelah yang melonggarkan bahu kakunya.
"Selamat tinggal! Dan... sampai jumpa!"
Kakinya melangka menjauh, membuat tubuhnya semakin kuyup, tapi bahunya tetap tegak. Kepalanya tak tertunduk. Tangannya tak mengepal. Aku hanya bisa terdiam di sini, dengan payungku yang masih terbuka, berharap hujan deras segara datang.