Bulan ini, hujan terlalu sering datang, seolah segan untuk mengakhiri redup dalam enam bisikan purnama. Aku memilih untuk lebih banyak melangkah dengan kakiku sendiri, berlari dan mencipratkan air comberan pada dinding-dinding batu di sepanjang gang.
Hari ini, ketika pucuk musim memancarkan cahaya, kukira terang akan lebih lama daripada malam. Roda berputar, klakson menggonggong, dan siulan mengeong, pada taman-taman kota dan jalan-jalan aspal yang mempertemuan tiga kota di pesisir utara.
Orkestrasi itu dimulai dari para tukang becak yang mengusap keringat panasnya. Ibu-ibu yang berdesakan di gerbong kereta Stasiun Tawang menitikan air mata untuk tubuh-tubuh jiwa melayang di Kota Bekasi. Kadang, kita tak harus selalu di jalan sama untuk bisa saling merasa.
Aku berhenti di ujung jalan Sampangan, sepatuku terasa seperti telur panggang yang menolak untuk meleleh. Keduanya seperti sudah tahu bahwa mendung pasti akan datang, entah pada detik ke berapa, yang pasti hari ini.
Mobil berselimut jingga dengan pengeras suara yang berdentum di dalamnya. Dua penyanyi opera sabun menjelmakannya serupa kamar mandi. Mikrofon kemasan pun pelan-pelan meluruhkan warnanya dengan bau masam khas tubuh-tubuh yang menutupi kelusuhannya. Aku duduk di antara mereka, masih dengan huruf-huruf yang melayang di ujung jemariku.
Hari berlalu cepat seolah ditutup dengan tukang becak yang mengganti lap panasnya dan sepuluh lembar 50 ribuan. Aku memilih untuk duduk di samping jendela, menghindari dua manusia yang tak juga lelah menggetarkan suaranya.
Mendung benar-benar datang serupa tabir panggung teater yang pelan-pelan menutup akhir pementasan. Hanya saja, ketika tirai itu ditutup, justru cerita yang sebenarnya benar-benar dibuka. Aku bertanya pada diriku, dalam mata yang sesekali terpejam, di antara keterjagaan, "Siapakah nama yang memantul di antara derasnya, pada kesendirian dan keramaian, pada pesta dan pertapaan?"
Kakiku melompat setelah pintu di buka, berlari dan mencari setiap comberan sehabis hujan. Tembok-tembok batu bersiulan ketika percikan itu menyapu barisan wajahnya.