Aku pikir hal paling menyeramkan yang tidak bisa aku atasi adalah ketika melihat mama meninggal karena serangan jantung setelah mendengarku dipenjara.
Nyatanya tidak, Ji…
Hari ini aku seperti biasa mengajar anak-anak di pengungsian yang masih belum bisa bersekolah sebab bangunan sekolah itu hancur dan belum direnovasi.
Anak-anak itu tertawa dan sangat antusias mendengarku mendongeng tentang seorang dokter jenius yang mendapatkan pasien yang unik-unik.
Ya, kuceritakan beberapa kisahmu yang menginspirasi itu, Ji. Kuharap kamu tidak keberatan.
Suatu kali seorang relawan lain, kawan baikku, bertanya pada anak-anak itu tentang cita-cita mereka. Kamu tahu? Sebagian besar dari mereka ingin menjadi guru.
Cita-cita mereka teramat mulia. Tapi aku tak sampai hati untuk menyampaikan pada mereka kalau sebaiknya guru dijadikan hobi saja, bukan pekerjaan utama. Sebab gaji guru tidak akan cukup untuk menghidupi hidup mereka kelak.
Lalu ada sebagian dari mereka ingin menjadi aparat penegak hukum berseragam coklat. Aku hanya bisa bilang, “Semoga kamu jadi penegak kebenaran yang amanah, ya, Dek.”
Aku tidak mungkin memberitahu tubuh kecil itu kalau dia ingin menjadi bagian dari orang-orang yang dibenci masyarakat, kan?
Kemudian salah satu dari mereka, yang tercerdas dari yang terpintar, berkata bahwa ia ingin menjadi astronot.
Aku hampir menangis mendengarnya, Ji. Rasa-rasanya ingin kucuci otaknya agar bisa berubah pikiran. Dia akan menyia-nyiakan potensinya dengan cita-citanya yang sejauh bulan tanpa ada roket untuk ditumpangi.
Dadaku sesak menyusun penjelasan dan alasan logis bahwa cita-citanya hampir tidak mungkin untuk diraih. Bahwa belum ada fasilitas yang mumpuni di negara kita ini untuk mewujudkan cita-cita itu, apalagi dari kalangan bawah.
Haruskah aku hancurkan harapannya atau haruskah kuberi harapan palsu?
Tapi kita berdua tahu. Aku tahu. Kamu juga tahu aku ini siapa, Ji. Aku tidak akan membiarkan anak itu punya mimpi kosong.
Aku akan mengenalkannya pada hal-hal yang lebih dekat untuk diraih tapi tetap hebat untuk didengar.
Kekerasan struktural tidak akan pernah ada di sekitarku, Ji. Sebab aku yang akan membinasakannya.
Aku mungkin tidak bisa menyelamatkan mama, tapi aku tidak akan membiarkan masa depan anak-anak ini mati begitu saja. Aku akan jadi pil pahit yang mengembalikan kewarasan mereka.
Adikmu tersayang,
Hati Nurani