Journey To Dream University

Malam itu pun tiba. Entah ini yang keberapa kalinya aku membuka pengumuman. Seperti biasa ku mempersiapkan raga, mental, dan juga jiwa untuk melihat pengumuman.

Ya, bagian yang paling membuatku gelisah, rasanya ingin kulewatkan saja. Tetapi tetap saja namanya pengumuman akan penasaran bukan terhadap hasilnya?

Dengan harap harap cemas ku pun memberanikan untuk membuka nya. Sama seperti pengumuman pengumuman sebelumnya aku selalu membuka nya seorang diri. Entahlah, aku hanya tidak mau kedua orangtua ku melihat langsung hasilnya.

Dan ya, hasilnya seperti yang aku takutkan, gagal, lagi dan lagi.

Yang aku pikirkan hanyalah bagaimana aku harus memberitahu keluarga ku kalau aku gagal untuk yang kesekian kalinya? Berat rasanya mulut ini harus mengatakan Pa, Ma aku gagal lagi.

Tok tok. Suara dari arah pintu membangunkanku dari kelamunan.

"Gimana Shaf, hasilnya?" tanya Mama ku.

"Ngga Ma," ucapku dengan nada pelan dan lesu.

"Yaudah ngga apa apa belum rezekinya, sekarang kamu maunya dimana? sudah di situ aja yang kemarin Mama kasitau, itu sudah paling terjangkau diantara yang lainnya Shaf." ucap Mama mengelus kepala ku seraya berjalan keluar dari kamar ku.

Berat rasanya berkali kali dipatahkan semangat oleh universitas impianku, kecewa? sudah tentu tetapi apa boleh buat? semua usaha sudah aku lakukan, aku sadar harus terus melangkah dan tidak boleh menyerah.

Tidak jarang aku melihat postingan kawan kawanku yang sudah siap dengan masa orientasi nya, sedangkan aku? sampai saat itu belum juga mengganti status menjadi mahasiswi.

Berkali kali aku merutuki diriku sendiri, kenapa aku tidak sehebat mereka? kenapa aku tidak bisa seperti mereka yang dikagumi oleh banyak orang?

Kesal, iri, sedih semua menjadi satu. Tetapi itu semua hilang berganti menjadi senang, dan bersyukur jika mengubah sudut pandang kita, dengan selalu melihat mereka yang tidak seberuntung kita.

Melihat betapa banyak orang orang di luar sana yang ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi tetapi belum bisa, belum berkesempatan, gagal berkali kali dan bahkan ada yang mengurung melepas semua impiannya demi menghidupi hal lain yang lebih terpenting yaitu keluarga nya.

Orang orang hebat yang di sekitarku dan bahkan ribuan orang orang hebat lainnya lah yang membuat aku terus bersyukur, yang aku rasakan tidaklah seberat apa yang mereka rasakan.

Walaupun kini aku tidak bisa menjadi mahasiswi di universitas yang aku impikan kala itu, tetapi hari ini lima tahun kemudian aku diundang untuk menjadi salah satu pembicara di tempat yang aku impikan dahulu.

Duduk di tempat ini berdampingan dengan orang orang yang jauh lebih hebat dariku membuat ku lebih mempercayai akan segala takdir Nya.

"Aku, Shafa Azzahra. Mengakhiri cerita perjalananku menuju universitas impian beberapa tahun yang lalu, semoga kalian semua bisa mengambil hikmah dan juga termotivasi dengaan apa yang udah tadi aku sampaikan, tetap semangat terus dan jangan pernah berhenti melangkah." ucapku seraya tersenyum dan melambaikan tangan ke teman teman mahasiswa baru.

2 disukai 3.2K dilihat
Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Tidak ada komentar
Saran Flash Fiction