LOSE

Jarum jam tepat menunjuk ke angka 5 pagi, pelan-pelan ku buka mataku yang berat dan perih. Biasanya disamping ada Lila istriku yang biasanya baru terlelap setelah sholat subuh dan membangunkanku, tetapi kali ini tidak demikian. Di tengah-tengah kami biasanya terbaring dengan posisi yang melawan arah seorang balita mungil menggemaskan nan jenaka kala ia terbangun.Senyumnya menyenangkan hati, membuat hati lelah menjadi bersemangat, tetapi gadis mungilku selalu lebih lengket pada kakeknya yaitu ayahku dibanding diriku.

Aku bergegas beranjak dari kasur tempatku tidur dan berjalan menuju ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu sebelum menunaikan sholat subuh. Saat membasuh tangan lalu di lanjutkan berumur hingga membasuh wajahku, semua mundur ke waktu empat tahun lalu dimana aku mengucapkan janji suci pernikahan atas nama Allah di hadapan banyak orang. Dihadapan Paman yang telah jauh-jauh datang dari rantauan hanya untuk menjadi saksi nikahku dengan Lila. Hingga wudhu ku sempurna ku panjatkan doa setelah berwudhu. ku melankah sesekali memanggil istriku yang tak menyaut, entah kenapa udara disubuh itu sangat dingin dari biasanya. Langkah yang sangat berat dengan tubuh yang pegal keseluruhannya akibat menangis semalam. kulaksanakan Sholat subuh dan ku lanjutkan dengan sholat taobat untuk meminta ampun atas kesalahan yang ku lakukan. Aku memohon agar putri kecilku bisa ditemukan setalah hilang 12 jam ketika keluar ke pusat perbelanjaan bersama ibu dan ayahku.

Putriku hilang ketika lepas pengawasan dan hingga kini tidak ketemu, tidak ada kabar dari aparat polisi ataupun pihak yang telah dihubungi untuk membantu pencarian putriku. Aku menyalahkan diriku atas dosa-dosa yang aku lakukan kepada semua orang., terutama istriku yang sudah bersabar menghadapi hiruk pikuk rumah tangga selama empat tahun dan ditambah lagi kebohongan besarku selama dua tahun belakang ini.

Aku menodai pernikahanku dengan berhubungan bersama Agni wanita yang kukenal ketika sedang keluar kota. Agni rupawan, pada pandangan pertama seolah-olah menyihirku untuk meminta nomor whatsapnya seolah tak bisa melepas tangkapan dari hasil pancingan. Agni yang seolah seperti pucuk segar yang menutupi Lila di hatiku hinngga aku berbuat dosa besar.

Lila istriku yang senantiasa menungguku, menemani Ayah ibuku, dan merawat putri kecil ku begitu kecewa ketika tau kenyataan bahwa suami yang ia percaya telah menghinatinya. Akhirnya ada telepon dari pihak polisi bahwa putri kami telah ditemukan dalam keadaan sehat di perbatasan kota, dicurigai memang ada sindikat perdagangan manusia terutama anak kecil sebagai target dan sasaran. Aku berlari menuju pintu kamar orang tuaku sembari berterak memanggil Lila yang sedari tadi tak menjawab panggilanku. Ibu dan ayah keluar dari kamar dan tak kuasa menahan rasa bahagi kala kusampaikan bahwa cucu mereka telah ditemukan tanpa kekurangan satu hal apapun, tetapi kemana Lila?

Setelah mengelilingi semua ruangan di rumah kami untuk mencari Lila dengan di bantu Ibu dan Ayah, terdengar suara Ibu menjerit dari arah dapur. Ibu berdiri didepan Pintu belakang dengan histeris dan tak kuasa menahan tubuhnya hingga rumbang ke atas lantai, betapa tak kuasanya Aku dan Ayah atas apa yang menyebabkan Ibu rumbang. Dihadapan kami terikat tali dengan menggantung seorang, jasad yang sedari tadi diharapkan keberadaannya, Lila. Lila mengakhiri hidupnya dengan sepucuk surat yang isinya sangat menyayat hati.

2 disukai 4.1K dilihat
Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Tidak ada komentar
Saran Flash Fiction