Flash Fiction
Disukai
1
Dilihat
5
Tak Ada Rindu Lagi
Drama

Nama Re masih muncul di layar, tapi tak ada lagi rindu.

Hans menatap pesan itu lama, seolah beberapa kata bisa berubah makna jika dipandangi lebih lama. Nama yang dulu selalu membuat dadanya hangat.

Dulu, satu notifikasi dari Re mampu membuat malam yang buruk terasa ringan. Satu panggilan darinya cukup membuat jarak antar kota seolah tidak berarti. Namun waktu rupanya pandai mengubah banyak hal. Termasuk cara seseorang menunggu, dan cara seseorang berhenti berharap.

Semuanya terjadi terlalu cepat. Hati belum sempat bersiap, tapi hubungan mereka sudah lebih dulu hancur.

Semua mendadak sunyi, yang biasa ditunggu, berubah asing. Percakapan yang dulu panjang setiap malam, menyusut menjadi balasan singkat, lalu hilang sama sekali.

Air mata sudah jatuh lebih dulu. Luka tumbuh tanpa izin, dan cinta, diam-diam mati karena terlalu lama dibiarkan sendirian.

Pesan terakhir dari Re masih tersimpan di ponsel Hans.

"Terserah kamu mau bicara apa. Semuanya sudah aku anggap berlalu."

Sudah dua minggu berlalu sejak pesan itu dikirim. Dua bulan sejak Hans memilih diam, lalu menyesalinya setiap malam. Ia membaca ulang percakapan lama seperti orang yang mencari titik di mana semuanya mulai rusak. Namun tak pernah benar-benar menemukannya. Kadang hubungan hancur bukan karena satu kesalahan besar, melainkan banyak hal kecil yang dibiarkan.

Malam ini, setelah lama menimbang, Hans mengetik satu pesan singkat.

"Kalau aku minta ketemu, mau?"

Ia hampir menghapusnya, tapi jemarinya lebih dulu menekan kirim.

Balasan datang beberapa menit kemudian.

"Datang saja. Tapi jangan berharap apa-apa."

Hans menutup mata, ia sadar, orang terkadang masih membalas pesanmu bukan karena masih ingin tinggal, melainkan karena ingin menutup sesuatu dengan baik.

***

Gerimis turun ketika Hans sampai di kafe kecil tempat mereka pernah bertemu pertama kali setelah berbulan-bulan hanya saling menatap lewat layar. Dulu mereka tertawa di meja dekat jendela, tapi hari ini meja itu terasa seperti ruang kosong.

Re datang beberapa menit kemudian.

Ia masih sama, tatapan lembut, langkah tenang, wajah yang dulu selalu membuat Hans merasa pulang. Bedanya, kini ada jarak yang tak terlihat di antara mereka, jarak yang lebih jauh daripada kota ke kota mereka berasal yang dulu terasa begitu dekat.

Re duduk di depannya tanpa senyum.

“Aku kira kamu nggak akan datang,” kata Hans pelan.

“Aku datang supaya semuanya selesai,” jawab Re datar.

Kalimat itu langsung membuat dada Hans sesak.

Beberapa detik mereka hanya mendengar ketukan gerimis.

“Apa kabar?” Hans mencoba membuka sesuatu yang sudah lama runtuh.

Re menatapnya singkat. “Kamu manggil aku ke sini buat basa-basi?”

Hans terdiam, senyumnya tercekat.

“Aku cuma pengin minta maaf.”

Re tersenyum, tapi bukan senyum bahagia, senyum orang yang sudah terlalu lelah untuk marah.

“Maaf yang mana, Hans?” tanyanya lirih. “Karena berubah dingin? Karena bikin aku nunggu? Karena bohong seolah semuanya baik-baik saja? Atau karena pergi waktu aku masih sayang-sayangnya?”

Setiap pertanyaan itu terasa seperti batu yang dijatuhkan satu per satu ke dada Hans.

“Aku takut nyakitin kamu,” katanya akhirnya.

Re tertawa pelan, mengalihkan pandangan, matanya berkaca-kaca.

“Lucu ya, orang selalu bilang begitu setelah menyakiti.”

Hans menunduk.

“Aku bingung waktu itu.”

“Bukan bingung,” potong Re. “Kamu cuma nggak jujur.”

Hening.

Di luar, hujan makin deras.

Re menatap meja, lalu bicara pelan seolah sedang menceritakan luka kepada dirinya sendiri.

“Kamu tahu rasanya nunggu chat dari seseorang yang terlihat begitu baik? Lihat tulisan online penuh rayu, tapi pertanyaanku tentang kejujuranmu diabaikan? tapi aku masih pura-pura semuanya baik-baik saja?”

Hans tak berani mengangkat kepala.

“Aku nyalahin diriku tiap malam,” lanjut Re. “Aku kira aku kurang sabar, kurang cantik, kurang menarik, bahkan kurang pantas dicintai karena masa laluku. Padahal masalahnya bukan aku.”

Suara terakhirnya pecah.

Hans menutup wajah dengan kedua tangan.

“Maaf."

“Kamu tahu yang paling jahat dari semuanya apa?”

Hans menatap perlahan.

“Kamu bikin aku merasa harus mempercayai diriku untuk seseorang yang diam-diam sudah membohongi aku.”

Kalimat itu menghancurkan sisa pertahanan apa pun dalam diri Hans.

“Aku pengecut, Re.”

“Iya.”

“Aku takut bilang kalau aku menyembunyikan sesuatu.”

“Iya.”

“Aku takut kehilangan kamu, tapi aku juga nggak tahu cara bertahan.”

Re mengangguk pelan. “Makanya kamu memilih diam, dan membiarkan aku tenggelam sendirian.”

Hans tak bisa membantah, karena memang begitu.

Lama sekali mereka diam.

Akhirnya Hans berkata dengan suara serak, “Aku pikir waktu bakal menyembuhkan semuanya.”

Re menatap ke luar jendela.

“Waktu nggak selalu menyembuhkan, Hans.”

Ia berpaling, matanya basah, tapi tenang.

“Kadang waktu cuma membuat seseorang sadar kalau yang ia perjuangkan ternyata tak pernah sungguh-sungguh ingin tinggal.”

Hans merasa napasnya hilang.

“Aku masih sayang sama kamu waktu itu,” katanya lirih.

Re tersenyum getir.

“Tapi sayang tanpa kejujuran itu cuma cara lain untuk melukai.”

Hans menangis untuk pertama kali di depan Re. Tidak keras, hanya air mata yang jatuh diam-diam seperti penyesalan yang lama ditahan.

“Apa sekarang kamu masih benci aku?”

Re menggeleng.

“Aku nggak benci.”

“Masih sayang?”

Pertanyaan itu membuat Re terdiam cukup lama.

Lalu ia menjawab pelan, nyaris seperti bisikan.

“Enggak.”

Satu kata itu lebih menyakitkan daripada bentakan apa pun.

“Aku pernah sangat sayang,” lanjutnya. “Sampai rela menunggu, rela memaafkan, rela bertahan, tapi semua itu ada batasnya.”

Ia menarik napas panjang.

“Dan sekarang”

Re berdiri, merapikan tasnya.

“Tak ada rindu lagi.”

Hans ikut berdiri panik. “Re.”

Perempuan itu menatapnya untuk terakhir kali. Tatapan yang hangatnya pernah menjadi rumah, kini tinggal kenangan.

“Aku sudah memaafkanmu,” katanya lembut. “Tapi beberapa cinta memang selesai bukan karena kurang besar, melainkan karena terlalu sering disakiti.”

Ia berbalik dan melangkah pergi.

Hans berdiri mematung, mendengar lonceng pintu berbunyi saat Re keluar bersama hujan yang tak reda.

Kehilangan paling kejam bukan saat seseorang pergi, melainkan saat ia masih ada di depan mata, namun seluruh perasaannya untukmu sudah mati.

Ternyata yang paling terlambat datang bukan maaf, melainkan kejujuran.

"Maafkan aku Re," bisikku dalam sesak yang kutahan.

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Rekomendasi