Flash Fiction
Disukai
0
Dilihat
11
Half-Written Love
Drama
Flash Fiction ini masih diperiksa oleh kurator

Grindelwald bukan sekadar tempat biasa untuk Fay. Grindelwald lebih seperti pelukan yang ia butuhkan saat dunia terlalu bising untuk didengar.

Fay bukan tipe orang yang gemar berpetualang. Apalagi berpindah dari satu tempat ke tempat lain hanya demi mencari "percikan" ide. Baginya, inspirasi bukan sesuatu yang harus diburu, melainkan sesuatu yang harus diundang datang.

Selama ini, undangan itu selalu ia kirimkan lewat jemari tangannya yang menari di atas papan keyboard laptop, melahirkan kisah-kisah cinta fiksi yang Fay tuang ke dalam sebuah buku hingga membuat karyanya berhasil memuncaki daftar buku terlaris selama beberapa tahun silam.

Namun sialnya, kali ini, kedua tangan Fay seperti tidak punya nyawa untuk menuangkan satu huruf pun.

Selama berbulan-bulan, Fay hanya mampu menatap dinding rumahnya. Kamar yang dulu penuh dengan tawa dan aroma kopi kini terasa sesak oleh bayang-bayang masa lalu.

Ia sadar, berdiam diri dan memeluk luka tidak akan menyelesaikan naskah terakhirnya yang sempat mandek di tengah jalan. Kehilangan bukan sekadar tentang kepergian seseorang, melainkan tentang bagaimana cara kita tetap berdiri saat separuh dari pijakan kita telah hilang.

Akhirnya, dengan sisa kekuatan yang masih ada, Fay terbang ke Swiss.

Ke tempat di mana dulu hati Fay pernah berlabuh dengan segudang ide dan ilham.

Fay berhenti di destinasi favoritnya sejak dulu, yaitu Grindelwald.

Helena Stirling, manajer resort yang juga sudah begitu akrab dengan Fay, menyambutnya dengan tatapan penuh simpati yang diredam. Helena tahu, kali ini Fay datang dengan beban yang jauh lebih berat dari sekadar writer’s block.

Sebagai bentuk dukungan, Helena memberikan kamar terbaik untuk Fay dengan balkon yang langsung menghadap puncak Eiger yang tertutup salju abadi. Di sana, Fay diharapkan bisa kembali menemukan tujuannya yang sempat hilang.

Namun, kehadiran Fay di resort itu ternyata memicu gelombang kecil serta atensi lebih di hati seseorang.

Hardin Faulkner, seorang pria dari London dengan tatapan mata seabu langit Grindlewald yang kini sedang mendung, seharusnya berada di sana hanya untuk urusan bisnis. Sebagai investor besar yang baru saja menanamkan modal jutaan dolar di resort tersebut, jadwalnya penuh dengan pertemuan bersama klien dan presentasi membosankan.

Biasanya, Hardin adalah orang pertama yang akan meninggalkan kafe resort segera setelah jadwal rapat bisnis selesai dan segelas kopi yang ia pesan habis.

Namun, sejak hari pertama ia terpana melihat sosok gadis Asia yang duduk menyendiri di sudut kafe resort, Hardin mendadak jadi punya hobi baru.

Mengamati gadis menawan berambut hitam yang sering duduk menyendiri di sudut kafe resort.

Fay duduk di sana, dengan sebuah latte yang asapnya sudah lama menghilang dan laptop yang layarnya sering kali hanya menampilkan lembar halaman kosong.

Hardin terpesona bukan hanya karena kecantikan fisik gadis itu, melainkan karena aura sunyi yang memancar bahkan ketika gadis itu hanya berdiam diri saja sambil sesekali menghela napas berat.

Ada semacam dinding tak kasat mata yang dibangun gadis itu di sekelilingnya, sebuah benteng yang membuat Hardin, pria yang biasanya dikelilingi wanita-wanita ambisius untuk menarik perhatiannya, jadi sangat penasaran.

Hardin tersenyum tipis tanpa melepaskan pandangannya dari sudut kafe. Ia jadi seperti seorang remaja yang baru pertama kali jatuh cinta, padahal usianya sudah matang dan pengalamannya dalam dunia bisnis maupun asmara sudah cukup luas. Walaupun hubungan asmaranya yang telah kandas setahun lalu mengubah Hardin menjadi pria yang lebih waspada. Terlebih sekarang ini, ketika tanpa direncanakan, hatinya malah tertarik dengan kehadiran gadis itu.

Hardin takut jika ia langsung mendekat, Hardin hanya akan dianggap sebagai pria arogan yang mengandalkan wajah dan harta.

Jadi, ia memilih untuk mengamati dalam diam terlebih dahulu. Menjadi pengagum rahasia tak kentara di balik meja nya sendiri.

Hingga akhirnya, rasa penasaran Hardin mencapai puncak.

Hardin tidak bisa lagi menahan diri.

Dengan keberanian yang diam-diam sudah Harding kumpulkan selama beberapa hari terakhir, Hardin memutuskan bahwa inilah mungkin saat yang tepat.

Hardin melangkah mendekat ke arah meja gadis itu.

Dan sosok tinggi Hardin di sebelah meja gadis itu membuat gadis itu akhirnya berhasil menoleh dan mendongak menatap Hardin.

Hardin sudah yakin sekali bahwa gestur sopannya untuk mendekatkan diri akan mendapat antusiasme sama.

Namun, respon yang didapatnya bukanlah senyuman malu-malu. Bukanlah seperti yang Hardin harapkan.

"Maaf sekali, tapi aku tidak bisa berkenalan denganmu, Tuan," suara Fay lembut namun tegas.

"Kenapa? Apakah aku telah melakukan yang membuatmu tersinggung?"

Gadis itu terkekeh.

”Mana mungkin anda sudah melakukan sebuah kesalahan, kalau kita saja belum pernah bertemu sama sekali.”

Belum sempat Hardin merespon, gadis itu kembali melanjutkan dengan nada sangat tenang.

"Aku sudah menikah,"

Pernyataan sederhana itu seperti siraman es yang langsung dilemparkan tepat di wajah Hardin.

Hardin baru menyadari kesalahannya.

Selama berhari-hari mengamati, matanya yang tajam ternyata luput melihat sebuah cincin perak sederhana yang melingkar di jari manis Fay.

Hardin merasa begitu bodoh, sekaligus kalah telak bahkan sebelum berperang.

Dengan permintaan maaf canggung, Hardin akhirnya melangkah mundur.

Keesokan harinya, Fay tidak lagi datang ke kafe.

Kehampaan itu membuat Hardin merasa dua kali lebih bersalah. Ia merasa kehadirannya telah mengusik ketenangan Fay, membuat gadis itu jadi enggan kembali setelah tindakan bodoh Hardin kemarin.

"Untuk seorang pria setampan dan sesukses dirimu, kamu benar-benar payah sekali untuk urusan asmara, Hardin," suara Helena memecah lamunannya.

Hardin mendesah frustrasi. "Aku bahkan tidak tahu namanya, Helena. Dan ternyata dia sudah punya suami. Aku merasa seperti pengejar istri orang."

Helena duduk di depan Hardin, menatap koleganya itu dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Namanya Fay. Seorang penulis hebat, sekaligus pelanggan setia di resort ini. Dan Hardin..."

Helena menghela napas panjang, senyumnya memudar digantikan oleh kesungguhan yang kelam.

"Sepertinya kamu baru bisa coba untuk mendekati Fay beberapa bulan lagi.”

Hardin mengernyitkan dahi. "Maksudmu? Karena dia sudah menikah? Aku memang tidak berniat merusak rumah tangga orang, meski jujur saja, aku tidak melihat suaminya di sekitar sini sejak dia tiba."

Hardin menutupi rasa ingin tahunya dengan menyesap kopi yang sudah dingin. Ada sebersit harapan liar di benaknya.

“Tunggu, apa maksudmu aku baru bisa mendekati gadis itu beberapa bulan lagi?”

Helena menggeleng perlahan, seolah bisa membaca pikiran licik Hardin.

“Hapus kerlingan itu dari matamu, Hardin. Dia memang tidak sedang bersama suaminya."

"Kenapa? Sudah bercerai?" tanya Hardin.

Helena menggeleng perlahan. Dengan tenang, ia menjawab rasa penasaran Hardin tanpa senyum di wajah rekan koleganya itu.

Her husband just died. And she’s now a single mother.”

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Rekomendasi