“Kenapa? Putus lagi?”
Gibran cuma mengangguk. Lesu. Seperti orang kehabisan tenaga.
Padahal kalau dihitung-hitung, ini pacarnya yang ke-enam belas. Tapi tetap saja, putus selalu menyisakan rasa perih.
“Playboy cap kelinci kok sedih!”
Gibran tak menanggapi. Ia hanya menatap Rain dengan mata jutek.
Mereka berdua memang aneh. Pacaran tidak, dekat iya, dibilang teman juga bukan.
Teman, katanya. Cinta, rasanya.
“Udah ah,” Rain menyenggol bahu Gibran. “Lupain si Mita. Cari yang lain. Masih ada Cici yang imut, Gloria yang kinyis-kinyis menggelora, atau yang putih seksi—meongnya tante kantin. Kayaknya masih sendiri, jomblo itu.”
“Memangnya aku kucing?”
“Lha terus kamu apa? Kelinci playboy?” Rain mendengus. “Baru diputusin enam belas kali udah nyerah.”
Gibran berhenti melangkah. Menatap Rain sungguh-sungguh.
“Aku pacaran sama kamu aja, Rain. Mau, ya?”
“Ogah!” Rain refleks. “Teman kok makan teman.”
“Makanya diganti statusnya,” Gibran nyengir tipis. “Jadi pacar.”
“Gib,” Rain melotot, “kamu manfaatin kejombloan buat ngerayu aku, ya? Pokoknya aku ogah! Kamu pikir aku cewek nggak laku? Sorry aja. Biar gini, yang mau banyak. Akunya aja yang males pacaran.”
“Please, Rain. Kamu kan baik.”
“Terus kalau baik bisa diobral?” Rain mendecak. “Udah ah. Mending kamu traktir aku mie Gacoan level 50. Biar hati kamu melting kena sambel. Curhatan nggak gratis, woi!”
“Eh, Rain...”
“Hm?” Rain masih mengunyah sandwich favoritnya sambil berjalan sejajar menuju ruang kuliah.
“Kalau aku jadian sama Gloria yang glowing itu, gimana menurutmu?”
Rain menelan makanannya. “Gib, kamu mau dipasangin sama gorila atau Gloria, sah-sah aja. Yang penting awewe—alias cewek.”
“Ish! Masa ceweknya gorila.” Gibran nyengir. “Kamu marah ya? Cemburu ya?”
“Sama gorila iya,” jawab Rain santai, “tapi sama Gloria enggak level. Aku masih cantik sepersekian persen, beda tipis lah.”
Ia melirik Gibran. “Terserah elo. Kalau suka, kejar. Semangat!”
Rain kembali fokus ke sandwich-nya, seolah obrolan itu tak berarti apa-apa.
Gibran memang begitu. Putus, curhatnya ke Rain. PDKT, nanya saran ke Rain. Luka cinta? Rain juga yang mengobati.
Mereka sahabatan sejak kecil. Sudah tak terhitung berapa kali Rain jadi tempat pulang Gibran. Bahkan saat jomblonya mentok, Rain sempat dijadikan pacar cadangan.
Kapan pun Gibran terluka di medan perang cinta, Rain selalu siap sedia.
Entah sejak kapan, Rain tak lagi sekadar gadis imut di mata Gibran. Ia lebih mirip caregiver—tapi yang satu ini menjaga hati orang lain, sambil pelan-pelan mengabaikan hatinya sendiri.
Mana ada teman yang rela cuma jadi tempat curhat?
Tapi karena terbiasa, bulir-bulir cinta itu tumbuh diam-diam.
Ditahan sakit. Diungkap takut perih.
Kalau ditolak?
Dukun pun rasanya tak layak diajak bertindak.
Itu sebulan lalu.
Sebelum akhirnya mereka jadian.
Dan siang ini, Rain kembali bertemu pasien caregiver-nya itu.
“Kenapa?” Rain menatapnya. “Putus lagi?”
Gibran mengangguk.
“Rain,” suaranya lirih, “emang masih ada cewek yang baik?”
“Ada,” jawab Rain cepat. “Nanti juga ketemu.”
“Kayak kamu?”
“Mungkin.”
"Atau memang kamu?"
"Masa bodo!."
“Ah, sebel.” Rain berdiri. “Yuk makan aja. Curhatanmu bikin aku keki, jadi laper.”
“Hayuk. Cepet naik.”
Untuk pertama kalinya hari itu, Gibran tersenyum di atas motornya.
“Dasar cowok bodoh,” gumam Rain di boncengan.
Dari kejauhan, terdengar lagu Idgitaf—Sedia Aku Sebelum Hujan. Seandainya kamu tahu, Gib, akulah payung yang selalu kamu cari saat hujan datang.