Kenapa harus jatuh cinta? Aku kadang bingung sendiri. Kenapa bisa semudah itu jatuh hati, seperti tak pernah pilih-pilih. Tapi kalau hati sudah memutuskan dan memilih, mau dilawan dengan apa.
Ini LDR lagi. Tapi ya namanya suka, gimana mau nolak suara hati sendiri. Bagi yang pernah mengalami, pasti tau sendiri rasanya.
Belakangan ketika rindu menjadi-jadi, aku kewalahan menanggungnya. Maunya dekat, tapi nggak bisa. Maunya nemenin dia, tapi juga nggak bisa. Apalagi kemarin dia bilang sakit. Ternyata aku jauh lebih sakit mikirnya. Sakitnya tuh di sini, di dalam hati.
Belum lagi setelah aku tahu bagaimana masa lalunya. Ini yang menurutku bikin aku langsung sayang padanya. Rasanya LDR ini malah membuat aku merasa nggak bisa bantu dia apa-apa.
Akhirnya hati dan rinduku menyerah saja. Selama dia baik-baik saja, sehat, dan bahagia aku juga harus merasa begitu. Nggak boleh berlebihan khawatirnya, meskipun semua karena sayang juga.
Apa LDR memang sesakit itu?
Jika iya, apa aku harus menyesal mengenal dia, jika akhirnya harus membuat rindu jadi sesesak ini?
***
Malam jadi saat "ketemu" yang hangat.
“Udah makan?” pesannya sederhana, tapi sudah cukup bikin dadaku berisik.
Lama aku berusaha mendengar detak jantungku sendiri sebelum membalas.
“Udah. Kamu gimana? Masih sakit?”
Tiga titik ketikan muncul, hilang, lalu muncul lagi.
Seperti perasaanku yang ikut gelisah menunggu.
“Masih dikit. Tapi gapapa kok.”
Aku tahu itu bohong, atau mungkin setengah bohong. Tapi apa yang bisa kulakukan selain percaya?
Di kota yang berbeda, di waktu yang hampir sama, kami sama-sama belajar menahan rindu, cemas, dan keinginan untuk sekadar duduk bersebelahan tanpa harus berkata apa-apa.
“Maaf ya,” tulisku ketika membuka obrolan.
“Kenapa?”
“Karena aku cuma bisa ada sejauh ini.”
Aku lama menunggu jawabannya, mungkin jari-jarinya ikut membeku mengikuti pikirannya.
“Gapapa. Aku juga.”
Padahal, Aku merasa semuanya tidak pernah benar-benar “gapapa.”
Apalagi kalau dia udah bilang, kangen.
Semua jadi serba salah, insomnia iya, apalagi saat tertidur ditemani mimpi-mimpi manis bersamanya.
***
Mungkin LDR memang sesakit itu.
Bukan karena cintanya kurang, tapi karena cintanya terlalu banyak sampai jarak terasa seperti hukuman.
Tapi anehnya, di antara semua itu, aku memilih nggak mau berhenti.
Karena kalau harus memilih antara nggak merasakan apa-apa atau nahan sakitnya rindu, aku akan tetap milih dia. Gila memang.!