Flash Fiction
Disukai
4
Dilihat
5,284
Teman Teduh
Romantis

Tidak ada yang lebih konsisten di hidup Dirga selain dua hal, rambut kriwilnya yang wujudnya seperti hasil eksperimen gagal, dan keberadaan Nayla, sahabatnya sejak zaman SMA yang sampai sekarang belum bosan mengganggu rambut itu.

Pagi itu, di depan rumah Nayla, yang ironisnya hanya terpisah pagar rendah dari rumah kos Dirga, Nayla berdiri sambil memegang segelas kopi susu.

“Ga,” katanya sambil menyipitkan mata, “gue mau nanya serius.”

Dirga yang sedang mengikat sepatu menoleh. “Kalau nada lo gitu, biasanya nggak serius.”

Nayla mendekat, meneliti rambut Dirga dari jarak sangat dekat, sampai Dirga refleks mundur setengah langkah.

“Menurut lo,” Nayla berkata pelan, “kalau rambut lo diseduh air panas tiga menit, terus dikasih bumbu, bisa jadi mie keriting nggak?”

Dirga menatapnya datar. “Pagi-pagi udah pengen mati ya, Nay?”

Nayla tertawa keras. “Gue serius! Soalnya teksturnya mirip banget.”

“Ini rambut alami, bukan produk instan.”

“Ya justru itu,” Nayla nyengir. “Mie instan aja kalah alami sama rambut lo.”

"Ga, serius nih, gue laper!"

"Makan tu, Lee Kuan Yew!" ujar Dirga sambil menunjuk tanaman yang menjulur di sebelah Nayla. Tanaman Curtain Creeper yang entah kenapa dijuluki seperti nama mantan PM Singapura.

"Tega ya."

Seperti ribuan hari lainnya, Dirga memilih ngelus dada kalau harus menghadapi Nayla tetangga lima langkahnya itu. Sudah bertahun-tahun, percakapan mereka selalu dimulai seperti ini. Dan entah kenapa, dia tidak pernah benar-benar keberatan.

***

Di kampus, semua orang tahu dua hal, Dirga dan Nayla hampir selalu barengan, kayak tali dan sepatu tak bisa dipisah, dan Nayla hampir selalu mengganggu Dirga.

Mereka duduk di bangku panjang dekat kantin fakultas, tempat favorit mereka sejak semester awal. Dirga membuka laptop, Nayla merebahkan kepala di meja.

“Ga,” kata Nayla tanpa membuka mata, “lo sadar nggak sih kita ini kayak paket combo?”

“Combo apa?”

“Lo rambut kriwil, pendiem. Gue mulut cerewet, gangguan mental.”

“Gangguan mental apaan?”

“Gangguan pengen ngeganggu lo.”

Dirga terkekeh kecil. “Pantesan nggak sembuh-sembuh.”

Nayla membuka mata, menatap Dirga. “Eh, kemarin anak teknik nanya ke gue.”

Dirga mengangguk. “Nanya apa?”

“Katanya, ‘itu cowok lo ya?’”

Dirga berhenti mengetik. “Terus?”

“Gue jawab, ‘bukan’. Terus dia bilang, ‘oh, kirain soalnya lengket banget.’”

Dirga pura-pura kembali fokus ke layar. “Emang lengket.”

“Kayak lem fox.”

“Lo yang nempel.”

Nayla tersenyum, senyum kecil yang biasanya muncul kalau ia sedang merasa nyaman. Terlalu nyaman malah.

Ada jeda hening di antara mereka. Bukan hening yang canggung, tapi hening yang sudah terbiasa. Seperti mereka tidak perlu bicara untuk saling tahu bahwa yang satu ada di sana.

***

Sore harinya, mereka duduk di kafe langganan dekat kampus. Kafe kecil dengan lampu kuning dan playlist lagu lama.

Nayla mengaduk minumannya. “Ga.”

“Hmm?”

“Lo pernah mikir nggak, kita ini aneh.”

Dirga mengangkat alis. “Dari dulu juga aneh.”

“Maksud gue,” Nayla menatap lurus ke arahnya, “aneh karena kita nggak pernah pacaran tapi juga nggak kayak temen biasa.”

Dirga terdiam.

“Kayak,” lanjut Nayla cepat-cepat, “kalau gue ilang sehari, lo pasti nyari. Kalau lo nggak bales chat, gue kesel. Tapi kalau ada yang nanya status, kita kompak jawab, temen.”

Dirga menyandarkan punggung. “Lo pengen apa, Nay?”

Nayla mengangkat bahu. “Gue cuma pengen lo jujur.”

“Jujur soal apa?”

“Lo pernah nggak sih, kepikiran gue lebih dari temen?”

Dirga menatap rambut Nayla yang diikat asal, wajahnya yang terlalu familiar, terlalu dekat dengan hidupnya.

“Pernah,” katanya pelan.

Nayla membeku.

“Tapi,” Dirga melanjutkan, “gue takut kalau gue ngomong, terus semuanya berubah.”

Nayla tertawa kecil, tapi matanya tidak ikut tertawa. “Kita udah berubah, Ga. Dari lama.”

***

Malam itu, listrik di lingkungan mereka padam.

Dirga duduk di teras rumah Nayla, membawa dua lilin. Nayla keluar sambil membawa cemal-cemil.

“Kayak acara survival ya,” Nayla berkata.

“Kurang api unggun.”

Mereka duduk berdampingan. Jaraknya dekat. Terlalu dekat untuk dua orang yang mengaku hanya sahabat.

“Ga,” Nayla berkata pelan, “kalau nanti kita pacaran sama orang lain… lo masih mau duduk kayak gini nggak?”

Dirga menoleh. “Lo mau?”

Nayla menggigit bibir. “Gue nggak tahu. Tapi gue nggak bisa bayangin lo jauh.”

Dirga menatap langit gelap. “Gue juga.”

Nayla menyenggol bahunya. “Rambut lo kelihatan makin mie kalau kena cahaya lilin.”

Dirga tertawa. “Lo konsisten banget.”

“Karena gue suka.”

“Hah?”

Nayla terdiam. “Suka… gangguin.”

Dirga menatapnya lama. “Nay.”

“Iya?”

“Kalau rambut gue beneran mie instan…”

“Kenapa?”

“Lo yang gue pilih buat nyeduh.”

Nayla terdiam satu detik, lalu tertawa sambil memukul lengan Dirga. “Gombal lo jelek.”

“Tapi lo senyum.”

Nayla berhenti tertawa. Matanya bertemu dengan mata Dirga. Tidak ada yang bergerak.

Untuk pertama kalinya, jarak itu tidak diisi candaan.

***

Mereka tidak langsung jadian. Tidak ada deklarasi besar. Tidak ada status.

Yang ada hanyalah perubahan kecil, Dirga lebih sering menunggu Nayla pulang. Nayla tidak lagi menggoda rambut Dirga setiap hari, kadang hanya memandangi.

Sampai suatu sore di kampus, Nayla berkata, “Ga.”

“Hmm?”

“Kalau gue ngajak lo pacaran, lo nolak nggak?”

Dirga tersenyum. “Gue kira kita udah lama pacaran, cuma pura-pura temenan.”

Nayla tertawa. “Dasar.”

Dirga berdiri, mengacak rambutnya sendiri. “Nih, mie instan lo.”

Nayla berdiri di depannya. “Gue nggak mau nyeduh.”

“Kenapa?”

“Takut habis.”

Dirga tersenyum lembut. “Tenang. Gue stoknya banyak. Seumur hidup.”

Nayla memukul dada Dirga pelan. “Ih, berisik.”

Tapi tangannya tidak ditarik.

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (2)
Rekomendasi dari Romantis
Rekomendasi