RONI PULANG KAMPUNG

Suatu malam disebuah rumah kayu yang kumuh, sepasang suami istri bernama Mak Ijah dan Pak Ruslam sedang memilah botol-botol rongsokan.

"Pak, kata si Ningsih tetangga kita, Roni akan pulang dari Jakarta. Tak sabar aku melihat anak kita yang bertahun-tahun pergi tanpa kabar," ucap Mak Ijah. Mendengar ucapannya, wajah Pak Ruslam menjadi masam, ia berdiri lalu duduk di bangku meneguk teh.

Sesaat kemudian datang dari luar seorang laki-laki membawa koper.

Pecah tangis Mak Ijah membasahi baju lusuhnya. Mak Ijah berlari memeluknya erat.

"Mak Roni pulang kampung Mak." Mak Ijah melepas pelukan, memegang kedua pipinya, lalu ditatapnya mata Roni. "Tak menyangka kau sudah sebesar ini Ron, kata Ningsih sekarang kau sudah sukses, bahkan sudah punya kantor penerbitan buku, apa itu benar?"

"Benar Mak, Roni sekarang ingin membahagiakan Bapak dan Emak."

Tiba-tiba pak Ruslam menyela, "Siapa yang mengizinkan kau memanggilku bapak?!"

"Pak..." Ucap Mak Ijah.

"Roni minta maaf pak."

"Setelah kau membuatku menjadi manusia hina dengan bukumu yang berjudul Cindil Menangkap Tikus, kau minta maaf?"

"Itu bukan tentang siapa dengan siapa. Namun siapa dengan apa. Seorang kepala desa yang melakukan korupsi meskipun ayahnya sendiri, melaporkannya adalah Suatu hal yang benar." Ucap Roni.

"Kaupun sukses dengan buku Itu diatas penderitaanku dan ibumu, apa itu suatu hal yang benar juga?!"

"Bapak pantas menerima penderitaan itu karena Bapak melakukan hal yang salah"

"Bagaimana dengan ibumu?! Ia pantas menerima penderitaan karena apa?! Aku melakukan itu lantaran ingin ibumu sembuh dari penyakitnya! Dan untuk sekolahmu!"

Suasana yang semakin memanas membuat Mak Ijah menangis terisak.

"Setelah memenjarakanku dan menulis buku, kau dengan entengnya pergi meninggalkan ibumu yang sedang sakit-sakitan, sampai-sampai sakitnya parah hingga dalam masa tahanan aku harus mendonorkan ginjalku untuknya. Apa kau masih merasa tak berdosa?!"

"Aku akan tetap disini, aku ingin membayar kesalahanku pada Ibu." Ucap Roni.

Pak Ruslam bergegas berdiri, mengambil sarung yang tergantung kemudian berkata, "Silahkan, rumah ini hanya menerima satu diantara kita." Dengan langkah mantap Pak Ruslam pergi. Sedangkan tangis Mak Ijah semakin dalam.

Seminggu berlalu. Dipagi hari Mak Ijah duduk dengan tatapan kosong, dan sedih.

Roni menghampirinya.

"Bapak belum pulang juga Mak?"

"Bapakmu itu persis denganmu Ron, sama-sama keras kepala, sama-sama idealis. Ia takkan pulang sebelum kau pergi"

"Roni pulang dengan niat baik Mak, apa itu salah?"

"Tidak, tidak ada yang salah," Mak Ijah menangis, "Roni, sekarang kau sudah besar. Emak senang melihatmu sukses. Sudah sepuluh tahun Emak bekerja sebagai tukang rongsok bersama Bapakmu, meskipun awalnya kami malu, tapi Emak bahagia jika bersamanya. Pergilah Ron, Emak sudah terbiasa bahagia dengan keadaan ini."

"Mak.." ucap Roni pelan.

"Jangan kau salah paham Ron, bukan maksud hati Emak mengusirmu. Ini berat... Sungguh berat jika harus melepaskan anak semata wayangku yang baru saja pulang." Tangis Emak semakin deras, dengan sesenggukan ia melanjutkan bicaranya, "Carilah kebahagiaanmu di tempat lain Ron. Emak akan selalu mendoakanmu. Tinggalkanlah Emak disini, biarkan disisa hidup Emak, Emak habiskan berdua dengan Bapakmu." 

"Roni mengerti Mak, ucapkan permintaan maafku pada Bapak".

Roni masuk kemudian keluar dengan membawa kopernya. Emak hanya menangis tak berani menatapnya. Roni memeluk Emaknya erat sebelum akhirnya berjalan ke arah pintu keluar.

14 disukai 1 komentar 3.6K dilihat
Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
beres masuk explore
Saran Flash Fiction